Showing posts with label Pendidikan Karakter. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Karakter. Show all posts

Sunday, August 25, 2019

MEMETIK NILAI KARAKTER DARI KARNAVAL


Oleh: Slamet Widodo 
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Kemeriahan berbagai macam lomba dalam rangka HUT ke 74 Republik Indonesia, baru saja usai. 

Rangkaian lomba yang diadakan panitia peringatan hari kemerdekaan Indonesia tingkat kecamatan Kepohbaru, ditutup dengan lomba karnaval. 

Sebenarnya masih ada satu kegiatan yang tak kalah meriahnya. Parade Drumband dan Kemah pramuka. Kegiatan kemah ini digelar di akhir bulan Agustus, setiap tahun.

Namun, karnaval inilah yang seolah menjadi “puncak” kegiatan Agustusan. Sebab, kegiatan ini melibatkan banyak pihak. Pesertanya mulai dari instansi hingga lapisan masyarakat paling bawah. 

Masyarakat pun bisa menikmati tontonan gratis yang digelar setahun sekali ini. Semuanya tumpah ruah di pusat kecamatan. Mereka “berpesta”. Menikmati dan menyaksikan berbagai macam arak-arakan peserta dengan berbagai macam dandanannya. 

Karnaval tahun ini digelar selama tiga hari berturut-turut. Dimulai pada tanggal 22-24 Agustus 2019. 

Mulai dari tingkat TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan umum. 

Di hari pertama, tanggal 22 Agustus 2019 karnaval tingkat SD/MI. Disusul tingkat TK/RA di hari kedua. Dan tingkat SMPMTs, SMA/MA dan umum sebagai penutup. 

Setidaknya ada banyak pendidikan karakter yang bisa diambil dari karnaval ini. 

Kala itu, Kamis, 22 Agustus 2019. Saya menjemput anak pertama kami, Saniyyatuz Zuhro, 12 tahun. Usai dirias di rumah tukang rias. Ia berangkat sejak pagi bersama ibunya. 

Giliran saya, mengantarkannya dengan motor vario merah ke tempat pemberangkatan karnaval tingkat SD/MI. 

Entahlah, dia macak model apa, saya tak paham. Pakaiannya bak pengantin. Ada sayapnya. Tapi ndak bisa terbang. 

Nah, di perjalanan menuju start inilah terjadi dialog di antara kami. Saat itu sekira pukul 12.30. Waktu Zuhur telah usai. 

Saya lontarkan pertanyaan kepada Zahro.

“Sudah salat Zhuhur, nak?”

“Ya, belum to Yah... Kan sedang dirias. Bagaimana cara salatnya, coba?”

“Nak, jangan sampai gara-gara riasan seperti ini, kamu jadikan alasan untuk meninggalkan salat. Lalu bagaimana nanti tanggung jawab Ayah di hadapan Allah di akhirat kelak. Sebab anaknya sengaja meninggalkan salat?”

“Saya tahu itu, Yah. Saya tidak akan sengaja meninggalkan salat. Ya, nanti saya jamak dengan salat Ashar, Yah.” begitu katanya.

Mendengar jawaban anak pertama saya ini, saya terasa lega. Ia tahu kewajibannya. Terutama tentang salat. Lebih-lebih ia sudah baligh. 

Sengaja saya tidak memberinya argumen lain. Bahwa dalam menjamak salat harus memenuhi persyaratan. Salah satunya perjalanan jauh. 

Entah, rias manten, karnaval atau lainnya dibolehkan menjamak salat atau tidak. Saya belum paham soal itu. Harus ditanyakan dulu kepada orang yang lebih tahu. 

Semalam, saya mencoba bertanya melalui WhatsApp kepada dua orang yang saya anggap paham soal ini. Orang pertama seorang Kiai, alumni pondok, tentunya. Orang kedua, seorang guru agama. Juga alumni pondok. 

Orang pertama berpendapat. Disempatkan tetap salat. Sebelum rias harus wudhu terlebih dahulu dan dijaga jangan sampai wudhunya batal. Apabila datang waktu salat, segera tunaikan salat. Sebab, jika mengqada salat, belum memenuhi syarat. 

Orang kedua memiliki pendapat yang berbeda dengan orang pertama. Menurutnya riasan seperti itu dihukumi darurat. Jadi diperbolehkan mengqada salat. Tapi tidak boleh dijadikan kebiasaan. 

Ia mengutip pendapat Imam Ibnu Mundzir dalam kitab Raudhoh, yang membolehkan menjamak salat lilhajat (karena hajat) tapi tdak boleh dibiasakan. 

Ia menambahkan barangkali bisa jadi solusi daripada tarikus solati (meninggalkan salat). Jadi kalau berhias pagi, ambil jamak ta'khir (Asar).

Pada kondisi-kondisi tertentu, kita dibuat sulit oleh keadaan. Pas dirias saat manten, karnaval, dll.  Sehingga ada pendapat seperti di atas, katanya. 

Nah, dari sini kita jadi paham. Sebagai orang tua dan guru, hal itu wajib disampaikan kepada anak dan siswa. Agar mereka tidak dengan mudah meninggalkan salat. Sebab, salat menjadi kewajiban pokok bagi muslim agar agamanya tetap tegak. 

Simorejo, 26 Agustus 2019

Wednesday, August 21, 2019

JANGAN MENUNDA WAKTU BELAJAR



Oleh: Slamet Widodo, S.Pd.
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Pernah suatu ketika, saya menemani belajar anak pertama saya, Saniyyatuz Zuhro. Saat ini ia duduk di kelas 6 MI Islamiyah Kepoh. Waktu itu ia baru beberapa hari masuk tahun ajaran baru.

Malam itu, ia meminta saya untuk menyimak hafalan surat-surat pendeknya. Selain itu, ia juga mengerjakan tugas Bahasa Arab yang diberikan oleh gurunya.

Mungkin ia lelah. Sebab belum bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Di sela-sela belajar, ia curhat kepada saya. Katanya, ia mendapat tugas dari gurunya cukup banyak. Mulai hafalan surat-surat pendek dan juga pelajaran lainnya. Dan itu sangat melelahkan, katanya.

Hal yang membuatnya merasa terbebani, ada beberapa di antara temannya sudah setor hafalan di hadapan gurunya. Sementara ia belum setor, sebab masih ada ayat-ayat yang belum ia hafal. Ia memutuskan menunda setoran hafalannya.

Sambil menceritakan keluhannya itu, tiba-tiba air matanya meleleh. Seolah ia hampir putus asa. Tak sanggup untuk menghafal dan menyelesaikan tugas-tugasnya.

Sebagai orang tua, tentu saya bisa memahami gejolak di batinnya. Ketika menghadapi anak dengan kondisi seperti ini, saya harus memberinya motivasi. Agar ia tetap semangat dalam belajar. Selain itu bisa menjalani aktivitas belajar tanpa ada rasa mengeluh.

Saya katakan kepadanya dengan nada pelan. “Dulu, sewaktu ayah dan ibu saat masih sekolah, juga mengalami hal yang sama. Ayah diminta guru Quran Hadits untuk menghafal beberapa ayat-ayat Quran dan hadits. Sesuai dengan materi yang diajarkan. Tiap malam ayah mengafalkan. Di masjid saat ngaji juga membawa buku untuk menghafal.”

“Ayah baru tahu maksud dari perintah guru itu, setelah ayah mengikuti ulangan harian, ujian semester dan lain-lain. Ternyata, ayat Qur’an dan Hadits yang ayah hafal, semua keluar dalam soal ujian. Dan ayah bisa mengerjakan soal dengan mudah. Bukan hanya itu, hafalan-hafalan itu masih tersimpan dalam fikiran ayah sampai saat ini.”

“Demikian dengan ibumu. Dulu pernah dipukul kakinya menggunakan kayu oleh gurunya. Sebab belum hafal kosa kata bahasa Inggris. Ibu tidak mempermasalahkan. Tidak menyalahkan guru. Justru makin giat menghafal. Ternyata, berkat pukulan guru itu. Ibu bisa menjadi juara pertama lomba pidato Bahasa Inggris saat masih sekolah.”

“Ingat, nak. Apapun yang diperintahkan guru memiliki tujuan baik. Tak lain tujuannya adalah untuk kebaikan murid-muridnya.”

Setelah mendengar nasihat saya, ia berangsur-angsur tenang. Dan mengusap air matanya dengan tisu.

Baru saja, selepas maghrib tadi, sembari ngobrol santai di ruang tamu. Saya memintanya untuk membaca tulisan ini, yang masih setengah jadi. Ia tersenyum. Kemudian curhat lagi tentang setoran hafalan kepada gurunya.

Untuk mebambah semangatnya, ia saya tunjukkan sebuah gambar yang bertuliskan pesan dari Imam Syafii. Saya minta ia membacanya.

Ini pesannya:
“Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan.”

Setelah membaca itu, ia bercerita, ternyata ia telah lebih dulu mengetahuinya. Ia sudah mendapat nasehat itu dari Pak Mardi, guru bahasa Arab dan juga kepala Madrasahnya. Saat belajar di kelasnya.

Bahkan ia hafal teks arabnya. Tadi sempat dibacakan di depan saya. Tapi saya lupa teks arabnya. Hehehe...

Setelah itu, saya mengajaknya ngobrol. “Jadi, tidak usah mengeluh saat sekolah dan belajar. Memang, saat ini terasa melelahkan. Namun, suatu saat nanti kamu akan memetik buah dari usahamu saat ini.”

“Jangan menunda waktu. Saat inilah waktumu untuk belajar dan menempa diri. Jika kamu lalai, waktumu akan terbuang sia-sia. Ingat, waktu dan kesempatan tak akan terulang untuk kedua kalinya.”

Semoga saja kamu dan keturunanmu kelak menjadi anak yang sholeh dan sholihah, Nak....
Aamiin...

Kepoh- Simorejo, 20 Agustus 2019 ; 20.50

BELAJAR SEMANGAT DARI GERAK JALAN


Oleh: Slamet Widodo 
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)


Setiap tahun, di bulan Agustus pasti kita jumpai berbagai macam lomba untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI. Mulai dari tingkat RT sampai tingkat kabupaten bahkan provinsi. Jenis lombanya macam-macam. Salah satunya gerak jalan.

Entah mengapa saya kok tertarik untuk mengulas lomba jelong-jelong sambil baris ini.

Ya, memang, di kecamatan Kepohbaru baru-baru ini telah diadakan lomba gerak jalan. Mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, instansi dan umum.

Lomba gerak jalan itu dilaksanakan selama dua hari berturut-turut, 20 dan 21 Agustus 2019.

Untuk tingkat instansi dan umum, baru selesai diadakan siang tadi, (21 Agustus 2019).

Saya, istri dan anak pertama kami, Saniyyatuz Zuhro kelas 6 MI Islamiyah Kepoh, Kepohbaru, juga turut berpartisipasi.

Dalam perjalanan gerak jalan tadi, saya sempat merenung. Mengapa diadakan gerak jalan? Tujuannya apa dan kapan gerak jalan ini pertama kali diadakan?

Padahal dibutuhkan fisik yang kuat dalam mengikuti lomba gerak jalan ini. Sebab, setiap tim diharuskan berjalan membentuk barisan menempuh jarak yang berkilo-kilo. Jika fisiknya tak kuat, dijamin bakal tumbang di tengah perjalanan. Bahkan sampai sakit dan muntah-muntah.

Meski berat dan tentunya capai (capek), namun banyak juga peminatnya.

Malam ini, untuk mengobati rasa penasaran saya. Saya coba googling tentang sejarah gerak jalan. Ketemu.

Berikut saya kutipkan artikel dari situs terasjatim.com

***

Banyak ditulis, bahwa sejarah pelaksanaan gerak jalan ini di awali pada tahun 1955 hingga 1958, dengan rute Surabaya - Pandaan. Hal ini dimaksudkan untuk mengenang pertahanan sektor selatan Kali Brantas yang dikenal sebagai Batalyon Cipto dan Abdulah.

Kemudian pada tahun 1959 hingga 1964, rute dialihkan ke Mojokerto - Surabaya untuk mengenang sektor barat yang dikenal sebagai pertahanan Batalyon Laskar Hisbullah, Tentara Pelajar, Polisi Istimewa, Batalyon Mansyur, Sholikin dan Munasir, serta Djarot Subiantoro, yang dikenang sekarang dengan monumen Mayangkara di jalan layang Mayangkara Wonokromo.

Namun sejarah perjalanan gerak jalan ini mengalami hambatan ketika terjadi pemberontakan G-30-S PKI tahun 1965 lalu. Selama 2 tahun, acara ini terhenti dan baru pada tahun 1968 hingga 1996 kegiatan ini dihadirkan kembali.

Acara yang digemari masyarakat dari berbagai kalangan ini, sempat dihentikan mulai tahun 1997 hingga 2005, karena alasan politik di dalam negeri yang saat itu dianggap sedang labil.

***

Nah, sudah sangat jelas. Ternyata, tujuan dari gerak jalan adalah napak tilas. Mengenang dan merasakan beratnya perjalanan para pejuang. Menyurusi jalan dengan medan yang sangat berat menuju medan berperang untuk melawan penjajah. Demi merebut kemerdekaan.

Lah kok, sekarang peserta gerak jalan yang tinggal jalan menempuh jarak beberapa kilo meter saja, malah naik mobil.

Dulu para pejuang, saat berjalan sambil menenteng senjata. Bajunya lusuh. Badannya penuh peluh. Mereka siap perang dan rela mati. Asal generasi setelah mereka bisa hidup merdeka dan layak.

Kalu sekarang, kita hanya jalan. Sambil nyanyi-nyanyi. Sorak-sorak. Pakaiannya bagus-bagus. Macaknya cantik-cantik, Seksi-seksi. Yang cowok cakep-cakep. Weh, lah dalah, tibaknya di perjalan gandol mobil. E ya mbuh lah...

Ternyata kita kurang bisa bersyukur...

Hehehe....

Kepoh, Kepohbaru, 21 Agustus 2019

Artikel Terpopuler

Soal Ulangan Harian Kelas 7

Berikut adalah soal ulangan harian Kelas 7 Semester genap Silahkan klik di bawah ini: Soal Ulangan harian

Artikel Terpopuler