Showing posts with label Gerakan Literasi Kepohbaru. Show all posts
Showing posts with label Gerakan Literasi Kepohbaru. Show all posts

Sunday, September 5, 2021

Radio Masih Masih Tetap Eksis di Tengah Arus Media Digital

Radio. ©blogspot.com

Kepohbaru - Setiap pagi, selepas Subuh, Bapak mertua saya selalu mendengarkan berita di radio. Acara favoritnya Kopi Pagi. Acara yang dipandu oleh Kang Imam Sudibyo itu disiarkan melalui radio Istana FM, Bojonegoro. Dari media radio inilah, bapak mertua mendapatkan informasi-informasi ter-update yang terjadi di Kabupaten Bojonegoro dan sekitarnya.

Berbeda dengan Bapak mertua, tetangga sebelah rumah saya, hampir setiap hari, siang dan malam, juga memutar radio. Dengan volume lumayan keras. (Terkadang saya dan istri saat mengerjakan tugas yang butuh konsentrasi tinggi, merasa terganggu). Acara favoritnya musik berbagai genre, mulai dari dangdut, koplo, langgam, keroncong, kosidah, nasyid dan lain-lain. 

Sementara itu, tetangga depan rumah saya, juga suka mendengarkan wayang kulit, tayub, dan ludruk,  melalui radio. Hanya saja pada jam-jam tertentu, tidak setiap hari.

Di dunia pendidikan, selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) akibat covid-19, pemerintah kabupaten Bojonegoro radio dijadikan solusi dalam pembelajaran jarak jauh. 

Sebagamana dilansir di website resmi Pememerintah Kabupaten Bojonegoro, bojonegorokab.go.id., Dinas Pendidikan (Disdik) Bojonegoro menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) lewat siaran langsung di radio milik Pemkab, Radio Malowopati FM. Selain radio, Disdik juga menggunakan aplikasi pendidikan bernama Sifajargoro. Dua media itu menjadi solusi utama di tengah pandemi ini.

Setahun yang lalu, Rahayu Lestari Putri, salah satu anggota keluarga Kita Belajar Menulis (KBM), juga pernah siaran di radio milik Pemkab Bojonegoro itu. Rahayu (panggilan akrabnya), siaran bersama tim Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Bojonegoro. Dalam siaran itu ia menginformasikan program-program yang ada di Baznas. Saya mengakses siaran itu melalui streaming di internet. 

Dari uraian di atas, bisa kita ketahui, bahwa di era transfromasi digital ini, radio masih tetap bisa bertahan. Selain sebagai hiburan, radio juga menjadi media arus utama untuk meyampaikan informasi kepada masyarakat. Juga menjadi solusi bagi dunia pendidikan di tengah badai Covid-19 ini.

Walaupun kanal media baru berbasis internet berkembang secara masif, namun radio tetap bisa eksis menyapa pendengar. Meski demikian, adaptasi dan inovasi sesuai dengan perkembangan zaman terus dibutuhkan agar tetap bertahan.

Ada banyak tantangan yang dihadapi media konvensional seperti radio ini. Salah satu tantangan itu berupa meningkatnya jumlah pengguna internet dan kanal media digital. 

Menurut laporan We Are Social 2021 yang dilansir Kompas.id, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta atau 73,7 persen dari total penduduk. Meningkat 15,5 persen disbanding tahun sebelumnya.

Konten digital yang banyak digemari oleh penduduk usia dewasa adalah konten di YouTube, media social, aplikasi pemutar music daring, dan Podcast.

We Are Social 2021 juga melaporkan, sebanyak 52,1 persen masyarakat berusia 16 sampai 64 tahun mendengarkan siaran radio secara streaming dalam setiap bulannya.

Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan oleh Kompas pada 18-20 Agustus 2021 lalu, ada 45 persen responden yang masih mendengarkan radio. Sementara itu, berdasarkan usia, generasi X (usia 40-55) menempati urutan pertama, yakni 48,2 persen, disusul generasi Y (milenial – usia 24-39) di urutan kedua dengan 25,1 persen dan di urutan ketiga ada generasi Baby Boomers (usia 56-74) sebanyak 15,6 persen. Sisanya ditempati generasi Z, 10,6 persen dan generasi silent sebanyak 0,5 persen.    

Alat yang sering digunakan untuk mendengarkan radio yakni radio antenna (radio berbentuk fisik, radio di mobil dll) sebanyak 66,8 persen. Disusul aplikasi radio yang ada di telepon seluler sebanyak 28,6 persen dan streaming melalui Website sebanyak 4,6 persen.  

Nah, apakah Anda juga masih gemar mendengarkan radio? Kalau saya, “terpaksa” harus mendengarkan radio setiap hari. Hehehe…

Kepohbaru, 5 September 2021

Slamet Widodo

Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Thursday, September 5, 2019

Akhirnya Buku Kartini Milenial Menemukan Tokoh Idolanya


Oleh: Slamet Widodo*)

Lama saya ingin bertemu dengan Bu Aning Wulandari. Saya sudah memberi kabar itu kepada Beliau. Kemudian, jika ada waktu, beliau saya minta untuk mengabarkan kepada saya. Untuk menentukan waktunya. Kemudian saya akan datang menemui. Terutama saat berada di Kota Bojonegoro dan sekitarnya. Namun, sudah hampir tiga minggu. Belum ada kabar.

Saya memaklumi. Beliau sangat sibuk. Jadwalnya padat. Jadi tak mudah untuk meminta waktu untuk bertemu. Barang lima menit.

Pernah, Ahad pagi, 18 Agustus 2019. Saya ke Bojonegoro untuk menemui penulis idola asli Bojonegoro, Pak Ajun Pujang Anom, di Alun-alun Bojonegoro. 

Saya kirim pesan WApri kepada Bu Aning. Ternyata beliau tidak sedang berada di rumah Bojonegoro. Akhirnya, saya harus menahan sedikit rasa kecewa. Tapi tak apalah. Hehehe 

Eh, jangan baper dulu ya... Saya ingin bertemu dengan beliau hanya ingin menyampaikan buku Antologi Kartini Milenial. Karya Cah Ndeso, Kita Belajar Menulis (KBM) Bojonegoro.

Sebab, Bu Aning Wulandari, menjadi salah satu nama Kartini Milenial yang berhasil saya abadikan di dalam buku tersebut. 

Lalu mengapa saya memilih nama beliau untuk diabadikan ke dalam sebuah buku? 

Temukan jawabannya dengan membeli bukunya, yak... murah kok... Hehehe...

Gayung pun bersambut. Bu Aning memberi saya jadwal untuk bisa menemui beliau. Ada tiga pilihan. Akhirnya saya memilih hari Kamis, 29 Agustus 2019. Beliau berada di Madrasah Aliah Talun Sumberrejo, Bojonegoro. Lokasinya berada satu kompleks dengan Pondok At-Tanwir Talun. Itu pun tak lama. Mulai dari pukul 08.00-12.00 waktu setempat. Tepat seminggu yang lalu.

Kebetulan, hari Kamis, saya hanya punya dua jam mengajar. Jam pertama dan kedua. Sisanya, biasanya saya gunakan untuk mengikuti kegiatan MGMP Matematika MTs se Kabupaten Bojonegoro. Namun, hari itu tidak ada jadwal MGMP. Jadi saya free. 

Saya berangkat dari tempat tugas saya sekira pukul 08.20 menuju Talun, Sumberrejo Bojonegoro. Saya butuh waktu sekira dua puluh menit untuk bisa sampai ke sana.

Saya memasuki kompleks Madrasah. Memarkir motor di tempat parkir yang tersedia. Lalu membuka jok motor dan mengambil dua eksemplar buku Antologi.

Kemudian saya ditemui oleh salah satu guru dan menanyakan keperluan saya. Saya sampaikan ingin bertemu Bu Aning. 

Pak Guru itu menanyakan, apakah sudah ada janji dengan beliau. Sebab, saat ini beliau sedang mengisi materi Workshop. Saya jawab, saya sudah ada janji sebelumnya.


Akhirnya Pak Guru itu menuju ruangan tempat Workshop. Untuk mengabarkan kepada Bu Aning tentang kedatangan saya. Dan saya memilih menunggu di teras.

Setelah beberapa menit, Pak Guru itu memanggil saya dan meminta saya untuk masuk ke dalam ruangan Workshop.

Nah, ini, hati saya mulai dag dig dug plas. Apa yang akan terjadi pada diri saya nantinya. Saya tidak tahu. Sudah, saya pasrah. 

Setelah memasuki ruangan ber-AC itu, saya mendapati banyak Bapak-bapak peserta Workshop, duduk rapi sambil menghadap laptop yang ada di depan mereka. Benar, Bu Aning berdiri di depan dan sedang menyampaikan materi.

Saat saya masuk, Bu Aning langsung menyambut saya dari depan. Memperkenalkan saya kepada peserta. Sontak saja, padangan orang-orang seisi ruangan itu tertuju kepada saya. 

Wah, dada saya semakin plas-plas dan tangan saya makin terasa dingin. Buku yang saya pegang, sampulnya basah karena keringat. Beruntung masih terbungkus plastik. Jadi aman. Tidak rusak. 

Bu Aning meminta saya maju ke depan. Kemudian saya diminta berdiri di samping Bu Aning. 

Sampai di sini. Saya masih belum faham, acara apa yang sedang berlangsung saat itu. 

Kemudian Bu Aning meminta saya untuk menyampaikan tujuan kedatangan saya kepada peserta Workshop. Kemudian menyodorkan michrophone kepada saya. Saya diberi waktu sekira sepuluh menit. 

Sebagai tamu, saya harus manut dengan perintah tuan rumah. Saya manfaatkan waktu yang diberikan kepada saya dengan baik. 

Saya memperkenalkan diri. Dan mengenalkan komunitas menulis, Kita Belajar Menulis (KBM). Tujuan dan capaian komunitas menulis Cah Ndeso ini. 

Selain itu, saya jelaskan sedikit isi buku Antologi Kartini Milenial yang saya pegang itu. Nama Bu Aning terabadikan di dalam buku itu. Dan mengapa saya mengabadikan nama beliau. 

Kemudian saya menyerahkan dua buku itu kepada Bu Aning. Satu untuk beliau. Dan satu lagi, saya minta tolong beliau untuk menyampaikan kepada Bapak Kepala Kantor Kemenag Bojonegoro. 

Alhamdulillah, Bu Aning sangat mengapresiasi buku Antologi kedua, Kartini Milenial, karya keluarga KBM Bojonegoro. 

*** 

Saya masih penasaran, acara apa yang berlangsung saat itu. 

Sore, selepas Ashar saya menanyakan kepada Bu Aning melalui Wapri. 

Ini isi pesan beliau:

“Sosialisasi penilaian kinerja kepala madrasah (PKKM) dan penilaian kinerja guru (PKG).”

“Jadi Njenengan tadi saya perkenalan di hadapan 9 kepala madrasah (Kamad) dan 9 guru madrasah binaan saya.”

*** 

Semua itu diluar ekspektasi saya. Angan-angan saya, buku itu akan saya sampaikan kepada Bu Aning, begitu saja. Bisa di halaman, di ruang kerja beliau atau di tengah jalan. 

Namun ternyata, lebih dari itu. Bu Aning memberikan apresiasi yang luar biasa kepada saya. 

Nah, itulah salah alasan saya, mengapa saya memilih nama Bu Aning untuk saya abadikan di dalam karya saya. 

--- 

Kepohbaru, 
6 September 2019 M
6 Muharram 1441 H.


(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojoegoro)

Saturday, August 24, 2019

MEMBUMIKAN LITERASI DI KECAMATAN KEPOHBARU


Oleh: Slamet Widodo
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Judul artikel ini memang agak aneh. Bisa dibilang mustahil dan mengada-ada. Ya, memang kelihatannya memang mengada-ada. Itulah cita-cita saya dalam waktu dekat dan masa yang akan datang. Bagi saya, semua di dunia ini tidak ada yang mustahil. 

Saya ingin, masyarakat di kecamatan Kepohbaru, terutama para muda-mudi generasi penerus, gemar literasi. Minimal bisa memahami pentingnya literasi. Sehingga Kecamatan Kepohbaru, nantinya, bisa menjadi basisnya literasi di Kabupaten Bojonegoro. 

Saya tahu persis, di kecamatan Kepohbaru ini memiliki banyak potensi. Muda-mudi yang kratif dan brilian. Terutama di bidang literasi. Hal ini harus segera diakomodasi. Diberi sarana dan diarahkan. Sungguh sayang, jika dibiarkan sia-sia.  

Makanya, saya ingin menebarkan virus literasi kepada mereka. Dan membumikan literasi di kecamatan yang terletak di ujung timur Bojonegoro ini.    

Lah, kok makin aneh-aneh ya?

Ya, biarlah keanehan ini saya alami. Ada juga yang bilang saya ini termasuk orang yang tersesat. Memang ungkapan itu sangat ekstrim bila didengar. Memang itulah adanya. 

Saya akui, memang saya tersesat. Tersesat karena saya tidak berjalan sesuai dengan jalan yang lurus. Saya memilih jalan yang agak ekstrem. 

Kok bisa? Ya, bisa lah. Alasannya? 

Begini. Disiplin ilmu yang saya miliki adalah Pendidikan Matematika. Saat ini, di tempat tugas saya, MTs Negeri Kepohbaru (sekarang menjadi MTs Negeri 3 Bojonegoro) saya juga mengajar Mata Pelajaran (Mapel) Matematika. 

Lah guru matematika kok menulis? Apa nggak tersesat, itu namanya? 

Heleh, biarlah. Masa bodo dengan ucapan dan cibiran orang lain. Mau dibilang aneh lah. Tersesat lah. Sinting lah. Biar. Biar saja! 

Toh saya ndak pernah mengganggu dan mengurusi urusan mereka. Saya nulis juga pakai tangan saya sendiri. HP saya sendiri. Kuota juga saya isi sendiri. Ndak pernah minta atau ngutang pada mereka. 

Ini hobi saya. Saya sekedar menyalurkan hobi saya. Eman jika hobi saya ini tidak tersalurkan dan terbuang sia-sia. Dan ini sebagai rasa syukur saya kepada Allah Swt. atas nikmat yang telah diberikan kepada saya.

Jika tak suka dengan hobi saya, ya, ndak usah dilihat. Abaikan saja. Lah wong, saya juga ndak pernah ngopeni hobi mereka. 

Jangan paksa saya untuk mengikuti hobi meraka. Lah wong, saya juga ndak pernah maksa mereka mengikuti hobi saya.

Bukannya di dunia pendidikan, sebagai guru, kita dituntut untuk menyibak potensi tersembunyi pada diri siswa? Setelah itu kita dituntut untuk mengoptimalkan bakat mereka. Dengan cara mendukung, memotivasi dan mengarahkan mereka. Agar mereka bisa menjadi diri sendiri? 

Mereka mungkin lupa. Guru itu harus menulis? Bahkan hukumnya wajib. Bukankah guru harus buat RPP, LKS, PTK, dan lain-lain? Ada lagi, bikin kisi-kisi soal, naskah soal, menganalisis hasil jawaban siswa. Bukankah itu juga menulis? 

Lah saya sudah kadung jadi guru. Ya, saya akan terus menulis menulis. Menulis bukan untuk saya sendiri. Tetapi, saya juga akan memotivasi siswa agar gemar membaca dan menulis. Akan saya bimbing mereka belajar menulis dari nol sampai terbit buku.

Loh, sampeyan kok merebut posisi guru bahasa? 

Tidak. Saya sama sekali tidak merasa merebut posisi dan tugas Guru bahasa. Justru sebaliknya, saya membantu guru bahasa memfalisitasi siswa untuk menyalurkan hobinya terutama menulis.

Lah terus, bagaimana dengan bidang matematika sampeyan? 

Literasi itu bukan terbatas pada pelajaran bahasa saja. Tapi seluruh mata pelajaran. 

Caranya? 

Lah, kok malah banyak tanya? Pengen tahu caranya? Ya, perbanyaklah baca buku dan segeralah menulis. Gitu aja kok repot.     

Loh sampeyan dikritik kok marah? Bukannya kritik itu membangun?

Sebentar. Siapa yang marah? Saya ndak marah sama sekali. Justru, semangat menulis saya semakin membara. Dan saya akan terus menulis dan menebarkan virus lietrasi di dunia ini. Kepada siapa pun yang mau. 

Tidak ada kritikan itu membangun. Semua kritikan itu justru menghancurkan dan melemahkan bahkan mematikan. 

Tidak dengan paksaan, kan? 

Tentu tidak. 

Caranya? 

Ya, saya akan terus menulis dan menulis. Karena saya yakin, keajaiban menulis akan menghampiri saya. Jika begitu mereka tahu hasilnya, meraka akan tergerak dengan sendirinya.

--- 

Kepohbaru, 24 Agustus 2019

Friday, December 8, 2017

Menebar Virus Literasi (Lagi) (163)

Foto : Dokumen pribadi

Oleh : Slamet Widodo
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)



Rasa senang dan bahagia yang tidak terkira saya rasakan malam ini. Saya sangat bersyukur kepada Allah Swt. yang telah memberi nikmat kesempatan kepada saya dan teman-teman keluarga besar Kita Belajar Menulis (KBM). Nikmat itu berupa kesempatan untuk menenebarkan virus literasi (membaca dan menulis) di hadapan sekira 35 peserta kemah pramuka Madarasah Aliyah Bahrul Ulum (MA BU) Kepohbaru, Jum'at malam, 8 Desember 2017.

Meski malam ini hujan lebat, tidak menyurutkan niat kami untuk datang memenuhi undangan Bapak M. Agus Wahyudi, selaku Pembina Pramuka MABU Kepohbaru.

Sehari sebelum acara dilaksanakan, beliau mengirim pesan Whatsapp kepada saya. Isi pesannya, meminta saya untuk memberikan motivasi menulis pada anggota pramuka dalam kegiatan Perjusami dalam rangka ujian SKU.

Ada lima anggota KBM yang hadir dan semuanya berkesempatan menyampaikan pengalamannya dalam menulis. Mereka adalah saya sendiri, Pak Mahmud, Mas Achmad Khoiron Ihsan, Mbak Dwi Ratna Novianti dan Pak Dosen Sigit Priatmoko. Tujuannya tidak lain untuk memotivasi para peserta supaya tumbuh minat untuk membaca dan menulis. Sebenarnya banyak anggota KBM yang ingin hadir dalam acara tersebut. Karena kendala hujan dan jaraknya saling berjauhan, maka mereka batal untuk hadir.

Dalam kesempatan tersebut, kami tidak mengajarkan bagaimana teknik menulis yang baik. Tetapi kami hanya memberi motivasi kepada mereka agar mau membaca dan menulis. Dan langsung praktik menulis bebas. Antusiasme peserta sangat luar biasa. Setelah mendapat motivasi dari kami akhirnya mereka bersemnagat untuk menulis.

Ada beberapa kalimat motivasi yang disampaikan oleh teman-teman.

Pak Mahmud, “Jika ingin menjadi orang yang luar biasa, maka jangan pernah melakukan hal yang biasa.”

Mas Orion Ihsan, “Saya lebih mudah menulis daripada berbicara. Karena jika salah bisa diedit.”

Mas Sigit, “Abadikan namamu dengan menulis.”

Mbak Novi, “Menulis itu sangat mudah. Menulis apa yang ada dipikiran kita.”

Slamet Widodo, “Menulis itu mencerdaskan.”

Di akhir pertemuan, saya sampaikan kepada peserta yang hadir bahwa, ribuan motivasi menulis sudah disampaikan. Sekarang kembalinya kepada pribadi masing-masing peserta. Modalnya ada dua, “Niat dan tekat”. Dan “Motivasi terbesar adalah dari diri kita sendiri.” []

----

Kepohbaru, 8 Desember 2017 Pukul 23.22 WIB

Artikel Terpopuler

Soal Ulangan Harian Kelas 7

Berikut adalah soal ulangan harian Kelas 7 Semester genap Silahkan klik di bawah ini: Soal Ulangan harian

Artikel Terpopuler