Showing posts with label Literasi. Show all posts
Showing posts with label Literasi. Show all posts

Sunday, September 5, 2021

Radio Masih Masih Tetap Eksis di Tengah Arus Media Digital

Radio. ©blogspot.com

Kepohbaru - Setiap pagi, selepas Subuh, Bapak mertua saya selalu mendengarkan berita di radio. Acara favoritnya Kopi Pagi. Acara yang dipandu oleh Kang Imam Sudibyo itu disiarkan melalui radio Istana FM, Bojonegoro. Dari media radio inilah, bapak mertua mendapatkan informasi-informasi ter-update yang terjadi di Kabupaten Bojonegoro dan sekitarnya.

Berbeda dengan Bapak mertua, tetangga sebelah rumah saya, hampir setiap hari, siang dan malam, juga memutar radio. Dengan volume lumayan keras. (Terkadang saya dan istri saat mengerjakan tugas yang butuh konsentrasi tinggi, merasa terganggu). Acara favoritnya musik berbagai genre, mulai dari dangdut, koplo, langgam, keroncong, kosidah, nasyid dan lain-lain. 

Sementara itu, tetangga depan rumah saya, juga suka mendengarkan wayang kulit, tayub, dan ludruk,  melalui radio. Hanya saja pada jam-jam tertentu, tidak setiap hari.

Di dunia pendidikan, selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) akibat covid-19, pemerintah kabupaten Bojonegoro radio dijadikan solusi dalam pembelajaran jarak jauh. 

Sebagamana dilansir di website resmi Pememerintah Kabupaten Bojonegoro, bojonegorokab.go.id., Dinas Pendidikan (Disdik) Bojonegoro menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) lewat siaran langsung di radio milik Pemkab, Radio Malowopati FM. Selain radio, Disdik juga menggunakan aplikasi pendidikan bernama Sifajargoro. Dua media itu menjadi solusi utama di tengah pandemi ini.

Setahun yang lalu, Rahayu Lestari Putri, salah satu anggota keluarga Kita Belajar Menulis (KBM), juga pernah siaran di radio milik Pemkab Bojonegoro itu. Rahayu (panggilan akrabnya), siaran bersama tim Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Bojonegoro. Dalam siaran itu ia menginformasikan program-program yang ada di Baznas. Saya mengakses siaran itu melalui streaming di internet. 

Dari uraian di atas, bisa kita ketahui, bahwa di era transfromasi digital ini, radio masih tetap bisa bertahan. Selain sebagai hiburan, radio juga menjadi media arus utama untuk meyampaikan informasi kepada masyarakat. Juga menjadi solusi bagi dunia pendidikan di tengah badai Covid-19 ini.

Walaupun kanal media baru berbasis internet berkembang secara masif, namun radio tetap bisa eksis menyapa pendengar. Meski demikian, adaptasi dan inovasi sesuai dengan perkembangan zaman terus dibutuhkan agar tetap bertahan.

Ada banyak tantangan yang dihadapi media konvensional seperti radio ini. Salah satu tantangan itu berupa meningkatnya jumlah pengguna internet dan kanal media digital. 

Menurut laporan We Are Social 2021 yang dilansir Kompas.id, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta atau 73,7 persen dari total penduduk. Meningkat 15,5 persen disbanding tahun sebelumnya.

Konten digital yang banyak digemari oleh penduduk usia dewasa adalah konten di YouTube, media social, aplikasi pemutar music daring, dan Podcast.

We Are Social 2021 juga melaporkan, sebanyak 52,1 persen masyarakat berusia 16 sampai 64 tahun mendengarkan siaran radio secara streaming dalam setiap bulannya.

Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan oleh Kompas pada 18-20 Agustus 2021 lalu, ada 45 persen responden yang masih mendengarkan radio. Sementara itu, berdasarkan usia, generasi X (usia 40-55) menempati urutan pertama, yakni 48,2 persen, disusul generasi Y (milenial – usia 24-39) di urutan kedua dengan 25,1 persen dan di urutan ketiga ada generasi Baby Boomers (usia 56-74) sebanyak 15,6 persen. Sisanya ditempati generasi Z, 10,6 persen dan generasi silent sebanyak 0,5 persen.    

Alat yang sering digunakan untuk mendengarkan radio yakni radio antenna (radio berbentuk fisik, radio di mobil dll) sebanyak 66,8 persen. Disusul aplikasi radio yang ada di telepon seluler sebanyak 28,6 persen dan streaming melalui Website sebanyak 4,6 persen.  

Nah, apakah Anda juga masih gemar mendengarkan radio? Kalau saya, “terpaksa” harus mendengarkan radio setiap hari. Hehehe…

Kepohbaru, 5 September 2021

Slamet Widodo

Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Thursday, September 5, 2019

Akhirnya Buku Kartini Milenial Menemukan Tokoh Idolanya


Oleh: Slamet Widodo*)

Lama saya ingin bertemu dengan Bu Aning Wulandari. Saya sudah memberi kabar itu kepada Beliau. Kemudian, jika ada waktu, beliau saya minta untuk mengabarkan kepada saya. Untuk menentukan waktunya. Kemudian saya akan datang menemui. Terutama saat berada di Kota Bojonegoro dan sekitarnya. Namun, sudah hampir tiga minggu. Belum ada kabar.

Saya memaklumi. Beliau sangat sibuk. Jadwalnya padat. Jadi tak mudah untuk meminta waktu untuk bertemu. Barang lima menit.

Pernah, Ahad pagi, 18 Agustus 2019. Saya ke Bojonegoro untuk menemui penulis idola asli Bojonegoro, Pak Ajun Pujang Anom, di Alun-alun Bojonegoro. 

Saya kirim pesan WApri kepada Bu Aning. Ternyata beliau tidak sedang berada di rumah Bojonegoro. Akhirnya, saya harus menahan sedikit rasa kecewa. Tapi tak apalah. Hehehe 

Eh, jangan baper dulu ya... Saya ingin bertemu dengan beliau hanya ingin menyampaikan buku Antologi Kartini Milenial. Karya Cah Ndeso, Kita Belajar Menulis (KBM) Bojonegoro.

Sebab, Bu Aning Wulandari, menjadi salah satu nama Kartini Milenial yang berhasil saya abadikan di dalam buku tersebut. 

Lalu mengapa saya memilih nama beliau untuk diabadikan ke dalam sebuah buku? 

Temukan jawabannya dengan membeli bukunya, yak... murah kok... Hehehe...

Gayung pun bersambut. Bu Aning memberi saya jadwal untuk bisa menemui beliau. Ada tiga pilihan. Akhirnya saya memilih hari Kamis, 29 Agustus 2019. Beliau berada di Madrasah Aliah Talun Sumberrejo, Bojonegoro. Lokasinya berada satu kompleks dengan Pondok At-Tanwir Talun. Itu pun tak lama. Mulai dari pukul 08.00-12.00 waktu setempat. Tepat seminggu yang lalu.

Kebetulan, hari Kamis, saya hanya punya dua jam mengajar. Jam pertama dan kedua. Sisanya, biasanya saya gunakan untuk mengikuti kegiatan MGMP Matematika MTs se Kabupaten Bojonegoro. Namun, hari itu tidak ada jadwal MGMP. Jadi saya free. 

Saya berangkat dari tempat tugas saya sekira pukul 08.20 menuju Talun, Sumberrejo Bojonegoro. Saya butuh waktu sekira dua puluh menit untuk bisa sampai ke sana.

Saya memasuki kompleks Madrasah. Memarkir motor di tempat parkir yang tersedia. Lalu membuka jok motor dan mengambil dua eksemplar buku Antologi.

Kemudian saya ditemui oleh salah satu guru dan menanyakan keperluan saya. Saya sampaikan ingin bertemu Bu Aning. 

Pak Guru itu menanyakan, apakah sudah ada janji dengan beliau. Sebab, saat ini beliau sedang mengisi materi Workshop. Saya jawab, saya sudah ada janji sebelumnya.


Akhirnya Pak Guru itu menuju ruangan tempat Workshop. Untuk mengabarkan kepada Bu Aning tentang kedatangan saya. Dan saya memilih menunggu di teras.

Setelah beberapa menit, Pak Guru itu memanggil saya dan meminta saya untuk masuk ke dalam ruangan Workshop.

Nah, ini, hati saya mulai dag dig dug plas. Apa yang akan terjadi pada diri saya nantinya. Saya tidak tahu. Sudah, saya pasrah. 

Setelah memasuki ruangan ber-AC itu, saya mendapati banyak Bapak-bapak peserta Workshop, duduk rapi sambil menghadap laptop yang ada di depan mereka. Benar, Bu Aning berdiri di depan dan sedang menyampaikan materi.

Saat saya masuk, Bu Aning langsung menyambut saya dari depan. Memperkenalkan saya kepada peserta. Sontak saja, padangan orang-orang seisi ruangan itu tertuju kepada saya. 

Wah, dada saya semakin plas-plas dan tangan saya makin terasa dingin. Buku yang saya pegang, sampulnya basah karena keringat. Beruntung masih terbungkus plastik. Jadi aman. Tidak rusak. 

Bu Aning meminta saya maju ke depan. Kemudian saya diminta berdiri di samping Bu Aning. 

Sampai di sini. Saya masih belum faham, acara apa yang sedang berlangsung saat itu. 

Kemudian Bu Aning meminta saya untuk menyampaikan tujuan kedatangan saya kepada peserta Workshop. Kemudian menyodorkan michrophone kepada saya. Saya diberi waktu sekira sepuluh menit. 

Sebagai tamu, saya harus manut dengan perintah tuan rumah. Saya manfaatkan waktu yang diberikan kepada saya dengan baik. 

Saya memperkenalkan diri. Dan mengenalkan komunitas menulis, Kita Belajar Menulis (KBM). Tujuan dan capaian komunitas menulis Cah Ndeso ini. 

Selain itu, saya jelaskan sedikit isi buku Antologi Kartini Milenial yang saya pegang itu. Nama Bu Aning terabadikan di dalam buku itu. Dan mengapa saya mengabadikan nama beliau. 

Kemudian saya menyerahkan dua buku itu kepada Bu Aning. Satu untuk beliau. Dan satu lagi, saya minta tolong beliau untuk menyampaikan kepada Bapak Kepala Kantor Kemenag Bojonegoro. 

Alhamdulillah, Bu Aning sangat mengapresiasi buku Antologi kedua, Kartini Milenial, karya keluarga KBM Bojonegoro. 

*** 

Saya masih penasaran, acara apa yang berlangsung saat itu. 

Sore, selepas Ashar saya menanyakan kepada Bu Aning melalui Wapri. 

Ini isi pesan beliau:

“Sosialisasi penilaian kinerja kepala madrasah (PKKM) dan penilaian kinerja guru (PKG).”

“Jadi Njenengan tadi saya perkenalan di hadapan 9 kepala madrasah (Kamad) dan 9 guru madrasah binaan saya.”

*** 

Semua itu diluar ekspektasi saya. Angan-angan saya, buku itu akan saya sampaikan kepada Bu Aning, begitu saja. Bisa di halaman, di ruang kerja beliau atau di tengah jalan. 

Namun ternyata, lebih dari itu. Bu Aning memberikan apresiasi yang luar biasa kepada saya. 

Nah, itulah salah alasan saya, mengapa saya memilih nama Bu Aning untuk saya abadikan di dalam karya saya. 

--- 

Kepohbaru, 
6 September 2019 M
6 Muharram 1441 H.


(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojoegoro)

Saturday, August 24, 2019

MEMBUMIKAN LITERASI DI KECAMATAN KEPOHBARU


Oleh: Slamet Widodo
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Judul artikel ini memang agak aneh. Bisa dibilang mustahil dan mengada-ada. Ya, memang kelihatannya memang mengada-ada. Itulah cita-cita saya dalam waktu dekat dan masa yang akan datang. Bagi saya, semua di dunia ini tidak ada yang mustahil. 

Saya ingin, masyarakat di kecamatan Kepohbaru, terutama para muda-mudi generasi penerus, gemar literasi. Minimal bisa memahami pentingnya literasi. Sehingga Kecamatan Kepohbaru, nantinya, bisa menjadi basisnya literasi di Kabupaten Bojonegoro. 

Saya tahu persis, di kecamatan Kepohbaru ini memiliki banyak potensi. Muda-mudi yang kratif dan brilian. Terutama di bidang literasi. Hal ini harus segera diakomodasi. Diberi sarana dan diarahkan. Sungguh sayang, jika dibiarkan sia-sia.  

Makanya, saya ingin menebarkan virus literasi kepada mereka. Dan membumikan literasi di kecamatan yang terletak di ujung timur Bojonegoro ini.    

Lah, kok makin aneh-aneh ya?

Ya, biarlah keanehan ini saya alami. Ada juga yang bilang saya ini termasuk orang yang tersesat. Memang ungkapan itu sangat ekstrim bila didengar. Memang itulah adanya. 

Saya akui, memang saya tersesat. Tersesat karena saya tidak berjalan sesuai dengan jalan yang lurus. Saya memilih jalan yang agak ekstrem. 

Kok bisa? Ya, bisa lah. Alasannya? 

Begini. Disiplin ilmu yang saya miliki adalah Pendidikan Matematika. Saat ini, di tempat tugas saya, MTs Negeri Kepohbaru (sekarang menjadi MTs Negeri 3 Bojonegoro) saya juga mengajar Mata Pelajaran (Mapel) Matematika. 

Lah guru matematika kok menulis? Apa nggak tersesat, itu namanya? 

Heleh, biarlah. Masa bodo dengan ucapan dan cibiran orang lain. Mau dibilang aneh lah. Tersesat lah. Sinting lah. Biar. Biar saja! 

Toh saya ndak pernah mengganggu dan mengurusi urusan mereka. Saya nulis juga pakai tangan saya sendiri. HP saya sendiri. Kuota juga saya isi sendiri. Ndak pernah minta atau ngutang pada mereka. 

Ini hobi saya. Saya sekedar menyalurkan hobi saya. Eman jika hobi saya ini tidak tersalurkan dan terbuang sia-sia. Dan ini sebagai rasa syukur saya kepada Allah Swt. atas nikmat yang telah diberikan kepada saya.

Jika tak suka dengan hobi saya, ya, ndak usah dilihat. Abaikan saja. Lah wong, saya juga ndak pernah ngopeni hobi mereka. 

Jangan paksa saya untuk mengikuti hobi meraka. Lah wong, saya juga ndak pernah maksa mereka mengikuti hobi saya.

Bukannya di dunia pendidikan, sebagai guru, kita dituntut untuk menyibak potensi tersembunyi pada diri siswa? Setelah itu kita dituntut untuk mengoptimalkan bakat mereka. Dengan cara mendukung, memotivasi dan mengarahkan mereka. Agar mereka bisa menjadi diri sendiri? 

Mereka mungkin lupa. Guru itu harus menulis? Bahkan hukumnya wajib. Bukankah guru harus buat RPP, LKS, PTK, dan lain-lain? Ada lagi, bikin kisi-kisi soal, naskah soal, menganalisis hasil jawaban siswa. Bukankah itu juga menulis? 

Lah saya sudah kadung jadi guru. Ya, saya akan terus menulis menulis. Menulis bukan untuk saya sendiri. Tetapi, saya juga akan memotivasi siswa agar gemar membaca dan menulis. Akan saya bimbing mereka belajar menulis dari nol sampai terbit buku.

Loh, sampeyan kok merebut posisi guru bahasa? 

Tidak. Saya sama sekali tidak merasa merebut posisi dan tugas Guru bahasa. Justru sebaliknya, saya membantu guru bahasa memfalisitasi siswa untuk menyalurkan hobinya terutama menulis.

Lah terus, bagaimana dengan bidang matematika sampeyan? 

Literasi itu bukan terbatas pada pelajaran bahasa saja. Tapi seluruh mata pelajaran. 

Caranya? 

Lah, kok malah banyak tanya? Pengen tahu caranya? Ya, perbanyaklah baca buku dan segeralah menulis. Gitu aja kok repot.     

Loh sampeyan dikritik kok marah? Bukannya kritik itu membangun?

Sebentar. Siapa yang marah? Saya ndak marah sama sekali. Justru, semangat menulis saya semakin membara. Dan saya akan terus menulis dan menebarkan virus lietrasi di dunia ini. Kepada siapa pun yang mau. 

Tidak ada kritikan itu membangun. Semua kritikan itu justru menghancurkan dan melemahkan bahkan mematikan. 

Tidak dengan paksaan, kan? 

Tentu tidak. 

Caranya? 

Ya, saya akan terus menulis dan menulis. Karena saya yakin, keajaiban menulis akan menghampiri saya. Jika begitu mereka tahu hasilnya, meraka akan tergerak dengan sendirinya.

--- 

Kepohbaru, 24 Agustus 2019

Friday, August 23, 2019

LUPA MEMBAWA BERKAH UNTUK MUHASABAH


Oleh: Slamet Widodo
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Hari ini, Jum’at Kliwon, 23 Agustus 2019 saya benar-benar mendapat pelajaran hidup yang luar biasa. 

Kisah ini berawal, seminggu yang lalu. Saya ngobrol dengan teman seperjuangan saya. Sebut saja namanya Lek Ustaz. Sengaja tidak saya sebutkan nama. 

Kala itu ia curhat kepada saya. Dalam tiga Jum’at berturut-turut, ia membaca khutbah di masjid tempat saya dilahirkan. 

Jumat pertama, ia membaca khutbah, memang sesuai dengan jadwal yang ia miliki. 

Jum’at kedua, ia menggantikan khatib yang berhalangan hadir, karena sakit yang dirawat di rumah sakit beberapa hari. 

Jum’at ketiga, menggantikan jadwal khutbah, seseorang yang mendapat tugas dinas dari pemerintah, di luar daerah. Sehingga tidak memungkinkan untuk mengisi khutbah di masjid ini. 

Nah, untuk yang ketiga ini, sampai saat ini, belum ada gantinya. Sebenarnya takmir masjid sudah mengambil langkah untuk mencari pengganti. Namun belum dapat. Belum ada yang mau. 

Berawal dari sini, Lek Ustaz bercerita kepada saya. Katanya ia punya rasa tidak enak dengan jamaah. Masa, tiap Jumat kok dirinya terus yang membaca khutbah. Seperti dimonopoli. “Kayak nggak ada orang pinter selain saya. Padahal orang-orang pinter di sini juga banyak,” katanya. 

Mendengar curhatan itu, lalu saya menyanggupi untuk mengisi khutbah menggantikan teman yang tugas dinas luar daerah tadi. 

Jadwalnya hari ini. Jumat Kliwon. Saya juga punya jadwal sendiri. Jum’at Legi. 

Entah-lah, saya benar-benar lupa jika hari ini saya mendapat giliran membaca khotbah. Lek Ustaz, setiap kali hadir di majlis tahlil juga ketemu saya. Namun tidak mengingatkan. 

Biasanya, kalu saya punya jadwal membaca khotbah, dua atau tiga hari sebelumnya, materi sudah saya siapkan. Biasanya saya mencari materi di internet. Atau, kalau tidak begitu, saya bikin sendiri. Tema, saya sesuaikan dengan kondisi lingkungan dan informasi yang sedang berkembang. Biar kekinian. Dan jamaah tidak bosan. 

Sementara untuk hari ini, tidak saya siapkan sama sekali. Ya, memang karena benar-benar lupa. 

Karena merasa tidak punya jadwal. Akhirnya saya pulang dari sekolahan, ya santai saja. Kayak orang nggak punya salah, gitu. Hehehe.

Setibanya di rumah. Seperti biasa, sebelum berangkat menunaikan salat Jumat, saya bersih diri.

Entah-lah, saat bersih diri itu, ada hal lain yang tak bisa saya tinggalkan. Dan harus saya tunaikan. Jadi membutuhkan waktu cukup lama. Niat saya, berangkat ke masjid agak telat. Ya, karena merasa ndak punya jadwal. 

Setelah tertunai, saya bergegas ganti baju dan sarung. Saya buka HP untuk melihat jadwal salat melalui aplikasi. 

Waktu Zuhur kurang dua menit. 

Saya segera berangkat ke masjid yang jaraknya hanya beberapa langkah dari rumah. 

Saat memasuki masjid. Saya mendapati seorang pengurus takmir berdiri di pintu serambi. Lalu menyalami saya. 

Selain itu, seorang muazin yang duduk di barisan belakang segera berdiri melihat kedatangan saya. Kemudian maju beberapa langkah ke saf depan untuk mengumandangkan azan. Semua jamaah melihat ke belakang. Sepertinya mereka semua menunggu kedatangan saya. 

Namun lagi-lagi, saya tak menyadari jika sayalah yang mereka tunggu.

Sebelum azan, saya mengambil posisi di samping Lek Ustaz yang duduk di saf tengah, untuk menunaikan salat sunah tahiyatal masjid. 

Selepas salam. Saya tanya ke Lek Ustaz. 

“Jadwal sampeyan?”

“Mboten to. Terose Sampeyan hari ini siap?” (Bukan. Katanya Anda hari ini siap?)

“Loh? Saya kok ndak menyiapkan materi. Sampeyan menyiapkan materi?”

“Mboten.” (Tidak) 

“Minta tolong, sampeyan lihat, di mimbar ada kitab khutbah atau tidak?” pinta saya. 

Bersamaan dengan Lek Ustaz ke depan untuk mengecek, adakah kitab khutbah di mimbar.

Saya langsung bergegas pulang. Mengambil kitab khutbah. Sementara itu muazin masih mengumandangkan azan. 

Saya mengambil kitab khutbah bahasa Jawa, karya Ust. Abd. Rozzaq Zuhdi. Diterbitkan Penerbit “Al-Miftah” Surabaya. Cetakan tahun 2001. Kitabnya kecil. Kertasnya sudah usang. Karena dimakan usia. Kitab ini saya taruh di atas sound bersama tumpukan buku-buku lainnya. 

Sambil jalan menuju masjid. Saya buka kitab itu untuk mencari materi yang pas untuk saya baca nanti. 

Sekali buka, saya menemukan sebuah judul “Mensyukuri nikmat kemerdekaan”. Lalu saya lipat halaman tersebut untuk menandai.

Saat saya masuk masjid, muazin selesai mengumandangkan azan. Dan mengajak jamaah untuk salat sunat. 

Biidznillah, salat Jumat berjalan dengan lancar. Saya membaca khotbah bahasa jawa dengan tema kemerdekaan. 

**** 

Dari sini saya bisa merasakan dan tersadar, betapa semua ketentuan Allah swt. begitu indah dan sangat baik bagi hambaNya. 

Betapa tidak. Saya sama sekali tidak punya persiapan untuk membaca khotbah hari ini. 

Namun, saat mengambil kitab khotbah. Materi yang saya baca bertema peringatan kemerdekaan. Pas banget dengan situasi saat ini. Kita sebagai warga negara Indonesia sedang merayakan kemerdekaan yang ke-74.

Saya benar-benar sadar, bahwa semua ini pasti karena campur tangan Allah yang Maha Profesional.

Lho kok baru sadar? Apa selama ini tidak menyadari bahwa semua yang terjadi pada diri manusia atas kehendak Allah? 

Ya, diakui atau tidak. Kita sebagai manusia biasa, sering lalai dan kurang, bahkan tidak bersyukur atas nikmat Allah yang kita terima. 

Sebab saking banyaknya nikmat yang kita terima. Dan kita terbiasa mendapatkan kenikmatan yang melimpah. Sehingga kita lupa bersyukur. 

Coba saja, kenikmatan yang kita terima ini sedikit dikurangi. Pasti kita akan berkeluh kesah. Kita akan bilang bahwa Allah Swt tak lagi sayang kepada kita. 

Ah, dasar manusia. 

----

Bulu Simorejo, 23 Agustus 2019

Wednesday, August 21, 2019

BERKARYA UNTUK "MENGABADIKAN" DIRI


Oleh: Slamet Widodo
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)


Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”

Saya suka sekali dengan hadits ini. Bahkan saya jadikan moto hidup.

Kita harus menyadari bahwa kita hidup di dunia ini hanya sekali. Dan hanya sekitar 60 sampai 70 tahun. Tak banyak yang lebih dari angka itu.

Sebagaimana sabda Nabi Saw.

“Usia umatku antara 60 sampai 70 tahun. Sedikit yang melampaui usia itu” (HR. Tirmidzi).

Oleh sebab itu, kita harus bisa manfaatkan hidup yang singkat ini sebaik mungkin. Dan sebisa mungkin agar bermanfaat bagi manusia lainnya.

Saya teringat nasehat yang disampaikan Pak Agus Riyadi, guru fikih saya sewaktu masih duduk di bangku MTs (setara dengan SMP). “Ketika manusia meninggal dunia, salah satu yang hilang dari dirinya adalah namanya. Akan berganti menjadi jenazah. Sehari setelahnya nama orang itu akan kembali. Namun ada tambahan gelar ‘Al-marhum’ di depan namanya.”

Nasehat itu disampaikan saat acara tahlil dan doa bersama mengenang 40 hari wafatnya Al-Marhum Mbah Yai Nursyam Syahid. Salah satu tokoh pendiri Yayasan Pendidikan Bahrul Ulum Kepohbaru Bojonegoro.

Mbah Yai Nursyam, begitu biasa kami menyapa beliau, jasanya pada dunia pendidikan, terutama pendidikan agama di Kecamatan Kepohbaru dan sekitarnya, cukup besar. Salah satu buktinya adalah lembaga pendidikan RA, MI, MTsN Kepohbaru dan MA Bahrul Ulum Kepohbaru masih berdiri tegak hingga kini. Bahkan mengalami kemajuan yang cukup pesat.

Semua orang mengakui akan jasa dan ketokohan Mbah Yai. Santri dan muridnya cukup banyak, ribuan. Telah menyebar ke seluruh Indonesia bahkan luar negeri.

Itu semua tak lepas dari keihlasan dan kegigihan Mbah Yai dalam berjuang tak kenal lelah di masanya. Berkat jasanya, kini ribuan umat bisa merasakan manisnya ilmu. Lalu, berapa banyak pahala yang yang didapat Mbah Yai? Tentunya banyak sekali. Selain itu, nama Mbah Yai Nursyam Syahid akan dikenang sepanjang masa. Wallahu a’lam.

Saya teringat sebuah kata bijak. Pesan ini sering disampaikan Ustadz M. Husnaini, seorang penulis dari Lamongan yang saat ini menenpuh doktoral di Malaysia.

“Hidup menulis, mati ditulis.”

Ungkapan itu sangat pas dengan apa yang telah dilakukan Mbah Yai semasa hidupnya.

Sekelumit kisah Mbah Yai Nursyam itu patut untuk kita jadikan teladan. Kita pun bisa mencontohnya. Kita harus berbuat yang bermanfaat bagi orang lain. Sesuai dengan profesi kita masing-masing.

Saya teringat pesan Bu Emi Sudarwati, Guru Bahasa Jawa SMPN 1 Baureno, dan juga penulis ternama ini.

“Apa pun profesimu, menulislah!”

Pesan ini singkat. Namun penuh makna. Mari kita renungkan bersama.

---

Kepohbaru, 06-07-2019

BERTEMU PENULIS IDOLA (3)


(Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Dibuat Angka Delapan)

Oleh: Slamet Widodo, S.Pd.
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Artikel ini masih berkaitan dengan Pak Ajun Pujang Anom. Entahlah, pertemuan yang singkat itu cukup untuk membuat saya sangat berkesan. Banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan. Dan satu lagi, bisa memunculkan ide dan inspirasi untuk menulis. Artikel yang sedang Anda baca ini buktinya.

Pertemuan Ahad Pagi itu, sebenarnya saya agendakan untuk kopdar (Kopi darat) anggota keluarga KBM Bojonegoro bersama Pak Ajun. Namun, karena ada berbagai hal, anggota keluarga KBM hanya dua orang yang bisa hadir. Saya dan Mas Aan dari Soko, Tuban. Persis, pertemuan saat itu hanya tiga orang saja.

Kopdar, bisa diartikan dengan ngopi sambil ngobrol-ngobrol. Namun, ternyata pagi itu, kami tidak memesan atau minum kopi. Tapi minum teh botol dari Pak Ajun. Dan makanannya rujak buah manis, khas alun-alun.

Hal ini klop dengan jargon sebuah iklan di tipi. Apapun makanannya, minumnya teh botol dingin.

Oh iya. Sekedar informasi, tiap kali saya berkunjung ke alun-alun, terutama di Bojonegoro dan Tuban. (Saya belum pernah ke alun-alun Lamongan. Ajaklah saya ke sana. Plis...). Saya selalu memesan dan makan rujak buah manis itu. Bagi saya, kurang afdhol rasanya, apabila berkunjung ke alun-alun tidak makan rujak itu.

Heleh, kok malah membahas makanan. Bikin ngiler aja. Iya deh iya. Saya akan bahas langsung pada intinya saja.

Begini, saat asyik ngobrol bertiga soal literasi. Tiba-tiba saya mencium bau aneh. Bau apa ini? Saya cari sampai dapat!

Baunya pesing. Saya cari-cari bau itu. Sambil celingak-celinguk. Tidak ketemu juga. Padahal saya juga tidak ngompol di celana. Kok ada bau pesing yang menyengat.

Sepertinya bau itu berasal dari taman yang berada tepat di belakang kursi yang kami duduki.

Wah, gara-gara bau pesing ini, bikin kami dan (tentu) pengunjung lainnya tidak nyaman untuk duduk berlama-lama di sini.

Saya jadi teringat dengan pelajaran fikih yang disampaikan oleh guru saya sewaktu masih duduk di bangku MTs dan saat ngaji.

Salah satu adab atau etika buang hajat atau kencing, tidak boleh di bawah pohon yang rindang yang biasa dibuat tempat berkumpulnya orang-orang.

Selain itu, juga tak boleh di tempat terbuka tanpa aling-aling. Kalau pun terpaksa, harus duduk dan tidak menghadap atau membelakangi kiblat.

Namun, biasanya anak-anak suka kencing di jalan sambil berdiri. Parahnya lagi, kencingnya sambil membuat angka delapan. Atau motif batik.

Hal ini biasa dilakukan anak laki-laki. Loh, kok anak laki-laki yang jadi kambing hitam, sih? Umumnya sih begitu. Anak perempuan mau meniru? Nggak bisa lah. Hehehe...

Ah, sudah lah. Nggak usah membayangkan yang aneh-aneh.

Apalagi kalau Anda sebagai guru. Hukumnya “haram mugholadhoh” apabila meniru seperti itu.

Kalau masih ngeyel menirunya. Maka ungkapkan yang pas adalah: “Guru kencing berdiri, murid kencing dibuat angka delapan.”

Ah, tentu tidak lah. Masak guru mau memberi contoh tidak baik.

Namanya saja GURU kepanjangannya DIGUGU dan DITIRU. Bukan WAGU tur SARU.

Kepohbaru, 21 Agustus 2019

BERTEMU PENULIS IDOLA (2)

Usai Salat Dzuhur di Masjid Darus Salam Bojonegoro Bersama Pak Ajun 
Oleh: Slamet Widodo, S.Pd
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Saat ngobrol dengan Pak Ajun, rasanya asyik banget. Seperti ngemil kwaci. Gurih. Bikin nagih. Sampai lupa waktu. Ngobrol berjam-jam serasa baru beberapa menit saja. Saya yakin, semua itu karena keramahan dan tingginya ilmu beliau.

Pernah suatu ketika. Usai acara launching buku anggota PBG Bojonegoro di Aula Dinas Pendidikan Bojonegoro. (Entah kapan waktunya, saya lupa). Kami sempat mengobrol di alun-alun. Ngobrol tentang literasi, tentunya. Sambil minum es dawet. Ditemani rintik hujan. Kami berteduh di bawah pohon rindang.

Nah, nah... Kok malah jadi kayak pacaran yak? Nggak lah, kami kan sama-sama cowok normal. Jadi nggak mungkin, kami pacaran. Ya, memang, waktu itu kami memilih duduk di taman Alun-alun Bojonegoro.

Usai minum es dawet sambil ngobrol, tak berselang lama terdengar lantunan ayat suci Al-Quran dari corong masjid memenuhi alun-alun yang luas itu. Pertanda waktu Magrib sebentar lagi akan segera tiba. Segera kami bergeser ke masjid Darus Salam, untuk persiapan salat Magrib berjamaah.

Usai jamaah salat Magrib, kami duduk di serambi masjid sebelah utara, melanjutkan obrolan yang tadi sempat terpotong. Saking asyiknya ngobrol, sampai lupa waktu. Saya melihat jam di HP yang ada di tangan saya, menunjuk angka 18.30. Artinya saya ngobrol hampir dua jam.

Saya tak sadar, jika jarak Bojonegoro dengan rumah saya, cukup jauh. Sekira 25 Km. Dan butuh waktu sekitar satu jam perjalanan.

Nah, pertemuan kemarin, Ahad, 18 Agustus 2019 itu pun sama. Ngobrol dua jam, terasa hanya beberapa menit saja.

Dari obrolan ringan dan santai itu, saya dapat beberapa ilmu dari Pak Ajun.

Hal yang harus dilakukan oleh penulis agar tulisannya berbobot maka harus mengadakan riset. Tanpa riset, tulisan terasa garing. Tak relevan dengan kondisi perkembangan zaman dan informasi yang ada.

Kedua, Merenung. Selain riset, penulis harus merenung. Merenung untuk memikirkan kira-kira hal apa saja yang akan dituangkan ke dalam tulisan. Kegiatan merenung ini membutuhkan waktu yang cukup lama dibanding menulis hasil renungan.

Seperti tulisan yang Anda baca saat ini. Tulisan ini hasil saya merenung lebih dari dua hari. Padahal, membaca tulisan ini hanya butuh waktu kurang dari lima menit saja.

Ketiga, membaca tulisan sendiri. Setelah selesai menulis. Penulis wajib membaca tulisannya sendiri. Bukan hanya sekali. Tapi berkali-kali. Sebelum di-share di media sosial dan dibaca orang lain.

Tujuannya, untuk mengedit tulisan sendiri. Mungkin ada kalimat yang kurang pas.

Selain itu, sebagai penulis, disamping menjadi penulis hebat, juga harus bisa menjadi editor yang keren.

Kepohbaru, 20 Agustus 2019

BERTEMU PENULIS IDOLA (1)


(Belajar Menepati Janji meski Apa pun yang Terjadi)

Oleh: Slamet Widodo, S.Pd.*)

Sekitar seminggu sebelumnya. Melalui WhatsApp, saya mengutarakan niat saya kepada Pak Ajun Pujang Anom untuk bisa ketemu. Saya ingin sekali bertemu dan konsultasi tentang banyak hal kepada beliau. Terutama dalam bidang menulis.

Saya juga ingin nge-charge (baca ngeces) semangat menulis saya yang sudah mulai mendrip-mendrip (redup). Kayak dilah ublik (lentera) yang mulai kehabisan minyak tanah (Jawa: Lengo Gas).

Minggu, 18 Agustus 2019 menjadi hari yang saya pilih. Sebab, hari itu saya tak banyak kegiatan. Sekolah juga libur. Beruntung, beliau pun memenuhi keinginan saya itu. Bagi saya, ketemu Pak Ajun adalah momen yang sangat berharga. Sebab, setiap kali saya bertemu, beliau pasti memotivasi saya. Sharing pengalaman beliau yang segudang.

Sekedar informasi. Pak Ajun adalah salah satu penulis produktif di Bojonegoro. Menurut saya, beliau penulis yang multi talent. Sebab, beliau bisa menguasai berbagai genre tulisan. Easay, macam-macam puisi, seni rupa dan banyak lagi. Tulisannya kebanyakan satire. Saya baca-baca artikel di internet, menulis satire itu dibutuhkan kecerdasan lebih. Nah, kan dari sini sudah terlihat, Pak Ajun itu orangnya cerdas.

Pak Ajun, saat ini mengajar di SDN Pandan II, Ngraho. Rumah aslinya Bojonegoro. Belakang Masjid Agung Bojonegoro.

Melihat cara bicaranya yang tas-tes. Pasti banyak ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Dan benar. Soal pengalaman organisasi, banyak sekali yang beliau ikuti. Informasi yang saya dapatkan langsung dari sumbernya (dijamin valid). Pak Ajun aktif di organisasi Intra dan ekstra Kampus. Dan kini juga aktif di organisasi profesi. Dan masih banyak lagi yang disampaikan kepada saya. Tapi saya lupa. Sebab saking banyaknya. Tidak saya catat.

Kembali ke pembahasan awal. Sabtu pagi, 17 Agustus 2019, saya umumkan di grup Keluarga KBM Bojonegoro. Bahwa Ahad pagi saya akan ke Bojonegoro. Untuk kopdar dengan Pak Ajun. Siapa yang mau ikut, saya persilahkan.

Gayung pun bersambut. Ada dua orang yang menyatakan siap berangkat menyertai saya. Mereka adalah Mas Roni Hardiawan (Kepohbaru) dan Mas Aan Haris (Tuban). Keluarga lainnya, sebenarnya mau ikutan, hanya saja bentrok dengan agenda masing-masing. Saya katakan kepada mereka berdua, kita bertemu Pak Ajun di Alun-alun Bojonegoro. Sekira pukul 08.30.

Perjalanan dari tempat saya (Kepohbaru) jika lancar sekira satu jam. Artinya, saya harus berangkat pukul 07.30 dari rumah.

Ternyata, manusia hanya bisa berencana. Allah-lah yang Maha Mengatur segalanya. Pagi sekira pukul 07.30, ketika saya mau berangkat ke Bojonegoro. Azim, anak kedua saya sedang merajuk. Sebab ia sedang sakit batuk-pilek. Sebelumnya suhu badannya panas. Namun sudah dingin. Tak mau ditinggal ibunya barang semenit pun. Akibatnya ibunya mau nyuci pakaian dan mandi, juga tidak bisa. Beruntung, saya berhasil merayunya untuk saya ajak dolanan. Agar ibunya bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Kakaknya, Zahro, pukul 06.30, saya antar ke sekolahan. Untuk mengikuti latihan terakhir gerak jalan.

Akhirnya rencana keberangkatan saya tertunda. Pukul 08.30 saya baru bisa berangkat dari rumah. Sebenarnya, saya bisa saja membatalkan agenda kopdar ini. Cukup memberikan kabar melalui WA kepada Pak Ajun dan keluarga KBM Bojonegoro. Alasannya sudah cukup kuat. Dan real. Tidak mengada-ada. Anak saya benar-benar sakit.

_Namun, saya harus belajar menepati janji. Janji itu berat. Harus ditepati. Apa pun kondisinya saya harus berangkat. Meski hati saya merasa berat meninggalkan anak dan istri di rumah._

Pagi, sebelum berangkat. Saya mengirim pesan WA kepada Mas Roni. Saya Tanya berangkat jam berapa. Bagaimana dan lewat mana. Tak ada respons. Centang satu. Abu-abu. Saya coba telepon juga ndak bisa. Saya yakin HP-nya sedang off. Akhirnya saya berangkat ditemani Vario merah kesayangan.

Pelan tapi pasti. Dalam perjalanan, saya menembus debu tebal jalan Nglinggo - Pohwates yang sedang diperbaiki. Pukul 09.30, persis satu jam perjalanan akhirnya saya tiba di Alun-alun Bojonegoro. Setelah mendapatkan tempat yang nyaman, di depan TK Kartika, saya memarkir motor dan duduk di tepi jalan Alun-alun. Lalu saya memberi kabar dan keberadaan saya kepada Pak Ajun dan Mas Aan.

Hanya menunggu sepuluh menit, Pak Ajun sampai juga di tempat saya. Beliau datang dengan sepeda gunung kesayangan. Tak berselang lama, disusul Mas Aan yang sudah lebih dulu sampai di Alun-alun dan mencari-cari keberadaan saya.

Ini adalah pertemuan pertama saya dengan Mas Aan. Setelah sekian lama bertemu di rumah KBM Bojonegoro. Kami bertiga duduk di kursi taman Alun-alun. Ngobrol ngalor ngidul tentang literasi.

Di awal pertemuan, saya cerita kepada Pak Ajun tantang hal-hal yang saya alami sebelum berangkat ke lokasi.

Pak Ajun bilang, “kenapa nggak dibatalkan saja? Lah wong rumah saya dekat sini, kok.”

“Ndak, saya ndak enak, Pak. Saya sudah membuat janji. Kok malah saya yang membatalkan.”

Obrolan kami berlangsung gayeng. Saya masih menunggu kedatangan Mas Roni. Ternyata sudah hampir satu jam tidak ada kabar sama sekali. Saya lihat Whatsapp masih centang satu.

Akhirnya, kopdar kali ini hanya kami bertiga.

Saat saya menulis artikel ini, Mas Roni mengirimkan pesan WA kepada saya. Katanya ia ketiduran. Hpnya mati. Sebab semalam dibuat YouTube-an sampai baterainya habis.

Nah, itulah takdir. Manusia hanya berencana, Allah-lah yang Maha menentukan.

Bersambung

Simorejo, 18-08-2019; 9:42 PM.

*) Penulis adalah Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro

Artikel Terpopuler

Soal Ulangan Harian Kelas 7

Berikut adalah soal ulangan harian Kelas 7 Semester genap Silahkan klik di bawah ini: Soal Ulangan harian

Artikel Terpopuler