Friday, February 6, 2026

Soal Ulangan Harian Kelas 7

Berikut adalah soal ulangan harian
Kelas 7

Semester genap

Silahkan klik di bawah ini:

Soal Ulangan harian

Ngerumati Makam, Ngerumati Diri

Ilustrasi dari ChatGPT

Laraswangi - Kamis Pon dan Jumat Wage menjadi hari istimewa bagi masyarakat Jawa, khususnya di tempat tinggal saya—barangkali juga di banyak tempat lain. Setiap Kamis Pon sore, bakda Asar menjelang Magrib, orang-orang berdatangan ke makam leluhur. Tujuannya untuk ziarah kubur: mendoakan keluarga yang telah wafat, menabur bunga, dan sejenak menundukkan hati. Tradisi ini telah lama mengakar dalam budaya Islam di tanah Jawa.

Hari ini, Jumat Wage, 6 Februari 2026, selepas salat Jumat, saya pun berkesempatan menunaikan ziarah ke makam Bapak dan para leluhur. Makam itu berada tak jauh dari tempat kelahiran saya, juga di makam Nglumber—tempat kelahiran Bapak.

Amalan ini saya lakukan hingga kini—semoga Allah mengaruniakan keistikamahan—karena teringat pesan Bapak semasa hidup. Setiap Jumat Wage, beliau mengajak saya ziarah ke makam kakek-nenek, baik dari jalur Bapak maupun dari jalur Ibu. Bapak berpesan, sepeninggal beliau, agar saya tetap melanjutkan kebiasaan itu. Saya juga diminta untuk ngerumati makam para sesepuh dan keluarga.

Sebenarnya, ziarah ke makam Bapak dan leluhur tidak hanya dilakukan pada Kamis Pon atau Jumat Wage. Saya pernah mendengar penjelasan Kiai Mahrus dari Brangkal, Kepohbaru, bahwa ziarah bisa dilakukan kapan saja, terutama pada hari Jumat. Banyak fadillah dan manfaat dari amalan tersebut. Saya berusaha mengamalkannya, meski harus jujur mengakui, belum sepenuhnya bisa istikamah.

Bagi saya, ziarah kubur menyimpan banyak pelajaran. Salah satunya adalah mengingat kematian.

Saat berziarah ke makam leluhur, saya mendapati nama-nama yang tertera di batu nisan. Ada nama yang sama dengan nama saya, nama teman, nama tetangga, dan nama-nama lain yang terasa begitu dekat. Ketika memandang—bukan sekadar membaca—nama-nama itu, angan saya melayang. Kelak, saya pun akan sama seperti mereka: terbujur diam tanpa suara di bawah tanah, ditandai sebongkah batu nisan.

Saya tidak tahu bagaimana keadaan mereka saat ini. Apa yang mereka alami. Namun, sebagaimana yang disampaikan para guru, kiai, dan ulama, alam kubur adalah alam penantian yang panjang—cerminan dari nasib kita di akhirat. Keadaan itu ditentukan oleh bagaimana amal kita selama hidup di dunia.

Saya pun membayangkan: kelak saya wafat di usia berapa, kapan, di mana, dan di tanah mana jasad ini dimakamkan. Bagaimana keadaan makam saya nanti. Apakah bersih dan terawat, atau justru seperti makam kakek, nenek, dan Pak Lek saya di Nglumber—rumbuk, dipenuhi rerumputan, hingga nyaris tak tampak sebagai sebuah makam.

Setelah saya renungkan kembali pesan Bapak—agar ziarah ke makam kakek-nenek minimal sebulan sekali, pada Kamis Pon–Jumat Wage—barangkali itulah maksudnya: supaya saya tetap ingat untuk ngerumati makam para sesepuh, sekaligus merawat ingatan tentang kematian.

Allāhumma’ghfir lahum warḥamhum wa ‘āfihim wa‘fu ‘anhum.

Simorejo, 06 Februari 2026 Jumat Wage, menjelang Ashar

Artikel Terpopuler

Soal Ulangan Harian Kelas 7

Berikut adalah soal ulangan harian Kelas 7 Semester genap Silahkan klik di bawah ini: Soal Ulangan harian

Artikel Terpopuler