Showing posts with label Coretan. Show all posts
Showing posts with label Coretan. Show all posts

Tuesday, June 16, 2020

JANGAN SIA-SIAKAN KESEMPATAN

Allah Swt. memberikan jatah waktu sama kepada semua manusia. Dalam sehari semalam ada 24 jam. Pas. Tidak lebih dan tidak kurang.

Sebagai buktinya adalah ditetapkannya salat fardu. Bagi mukmin. Sehari semalam ada lima waktu. Jadwalnya pas. Sama sekali tidak mengganggu aktivitas manusia.

Sebagaimana Firman Allah Swt. dalam Quran Surat An-Nisaa ayat 103.

“Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Apabila manusia mau memanfaatkan waktu dengan baik. Tentu tak ada waktu yang terbuang sia-sia.

Kalaupun ada orang yang mengatakan, dirinya tak bisa melaksanakan salat karena sibuk kerja atau hal lain. Itu hanya alasan saja.

Dan waktu menjadi salah satu nikmat Allah yang sangat berharga. Harus dijaga betul-betul. Sebelum akhirnya menyesal. Sebab, waktu dan kesempatan datangnya hanya sekali. Tidak bisa diulang untuk kedua kali.

Sebagaimana pesan Rasulullah saw.

“Jagalah lima hal sebelum lima hal. (1) Mudamu sebelum datang masa tuamu, (2) sehatmu sebelum datang masa sakitmu, (3) waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, (4) kayamu sebelum miskinmu, (5) hidupmu sebelum matimu.”

Pesan Rasulullah saw. Di atas jika kita renungkan, tentu memiliki makna yang sangat mendalam. Dan lima hal itu sangatlah penting dan berharga. Lebih berharga dibanding emas dan intan berlian.

Di sini saya akan mencoba mengulas dua poin saja. Tidak semuanya.

*_Jagalah masa muda sebelum masa tua._*

Mengapa masa muda harus benar-benar dijaga?

Sebab, masa muda adalah masa yang paling produktif bagi setiap manusia. Di masa itu, saatnya untuk belajar dengan tekun. Sebab tenaganya masih kuat. Fikirannya masih segar. Cita-citanya masih panjang.

Karena itu, sudah selayaknya, selagi masih muda, kita harus membiasakan diri untuk melakukan sesuatu hal yang baik dan positif. Sebab, kebiasaan masa muda akan terbawa hingga tua nanti.

Artinya, seperti apa gambaran masa tua seseorang bisa dilihat apa yang menjadi kebiasaannya di masa mudanya.

_*Jagalah waktu luang sebelum waktu sibuk datang*_

Betapa banyak waktu luang dan kesempatan yang kita miliki. Namun sayangnya, tidak kita manfaatkan dengan baik. Sering kali kita mengisi waktu dengan hal yang sia-sia.

Malam hari adalah waktu luang bagi seorang mukmin. Sebab, di siang harinya ia sibuk bekerja mencari rizki yang dijanjikan oleh Allah Swt.

Rasulullah saw pernah bersabda, bahwa “Malam itu panjang maka jangan membuatnya pendek (menyia-nyiakannya) dengan tidurmu dan siang itu terang jangan kau gelapkan dengan dosa-dosamu.”

Nah, belajar dari pesan-pesan Nabi di atas. Jika kita sudah meniatkan diri sebagai penulis. Tentu tak ada alasan untuk tidak menulis karena sibuk atau tidak sempat.

Selain menulis juga harus memperbanyak membaca buku. Seperti kata M. Husnaini, penulis asal Lamongan.

*Kuantitas tulisan diperoleh dengan terus nenulis.*
*Kualitas tulisan didapat hanya dengan membaca.*

Sesuatu hal yang tak diutamakan, meskipun itu remeh-temeh, maka hal itu akan terbuang sia-sia dalam hidup seseorang. Dan bisa menjadikannya merugi.

Wallahu a’lam...

Kepohbaru, 8 September 2019 M./8 Muharam 1441 H.

Oleh: Slamet Widodo
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Monday, June 15, 2020

Mencintai Allah vs Mencintai Manusia

Foto Istimewa: dok. Pribadi

Ketika kamu mencintai seseorang, kamu pasti merawatnya (serta menjaganya).
Kecuali Allah, jika kamu mencintai-Nya, Dia yang akan menjagamu.

(Sayid Machmoed BSA - @sayidmachmoed)

Cuitan pemilik akun twitter @sayidmachmoed ini sungguh indah untuk direnungkan. Maknanya begitu mendalam. Kita akan jadi penjaga (budak) terhadap orang yang kita cintai. 

Benar adanya, jika kita mencintai seseorang, sebagai contoh: keluarga (orang tua, istri, anak dan saudara). Maka kita wajib menjaganya dari sentuhan api neraka. Memberinya nafkah dengan cara yang halal. Mendidik dan membimbing mereka dengan ilmu agama, agar dekat kepada Allah Swt. Sebab, itu sudah menjadi komitmen kita sebagai pemimpin. Pemimpin yang bertanggung jawab atas keselamatan diri sendiri dan juga mereka.

Sebagaimana firman Allah dalam Quran Surat At-Tahrim ayat 6 yang artinya: 

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” 

Menjaga diri dan keluarga dari sentuhan api neraka bukan hanya menjadi tanggung jawab seorang laki-laki (suami). Tetapi juga menjadi tanggung jawab semua: istri dan juga anak. Serta seluruh anggota keluarga. Sebab, kita semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. 

Sebagaimana sabda Nabi saw.  
“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi)

Namun sebaliknya, jika kita mencintai Allah Swt. justru Dia akan selalu menjaga kita. 

Sebagaimana firman Allah yang artinya,

“Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (QS. Al-Anfal: 64)

Di dalam ayat lain, 

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya.” (QS. Az-Zumar: 36)

Bentuk cinta kepada Allah adalah dengan bertakwa dan bertawakal kepada-Nya. Yakni melaksanakan segala perintah dengan menjauhi seluruh larangannya dengan ihlas. 

Wallahu a’lam...

Kepohbaru, 
23 Syawal 1441 H.
15 Juni 2020 M.

Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Wednesday, June 10, 2020

Kunci Bahagia

Dokumen Pribadi

Menulis adalah merekam perjalanan. Mengabadikan kisah. Memetik hikmah dari setiap yang kita alami. Perjalanan dan kisah itu akan menjadi sejarah. Lembaran-lembaran itu nantinya dapat dibuka kembali oleh penulis itu sendiri atau orang lain. Sehingga dapat dijadikan pelajaran dalam menjejaki langkah pada masa yang akan datang.

***

Rabu pagi, 10 Juni 2020, saya berkesempatan menyertai tetangga sebelah yang melangsungkan akad nikah. Ia dinkahi seorang perjaka yang berasal dari Kedungpring, Lamongan. Akad nikah yang dilaksanakan di ruang pertemuan kantor urusan agama (KUA) kecamatan setempat itu berjalan lancar. Prosesi akad nikah berlangsung sangat sederhana. Tak lebih dari sepuluh orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Semua pakai masker. Hal itu dilaksanakan karena mengikuti protokol kesehatan dalam pencegahan Covid-19. Meski begitu,  tak mengurangi khidmatnya proses ijab kabul.

Usai prosesi ijab kabul, Pak penghulu memberikan beberapa nasehat kepada kedua pengantin baru itu. Walaupun nasehat itu ditujukan kepada kedua mempelai, namun hakekatnya juga untuk pengantin-pengantin lawas yang hadir pada saat itu. Agar bukan hanya saya yang mendapatkan nasehat itu, maka saya tuliskan kembali nasehat itu untuk pembaca sekalian.

“Setiap kali ada pengantin baru, doa yang umum diucapkan adalah: ‘semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah warrahmah.’”

“Makna sakinah adalah _ayem tentrem_ (hidup tenang dan damai). Sakinah diturunkan Allah kepada keluarga yang _mbeneh_ (benar). Mbeneh maksdunya, suami dan istri tahu tugas dan kewajibannya masing-masing lalu dijalankan dengan penuh tanggung jawab.”

“Suami dan istri harus saling mendoakan dalam kebaikan. Jika ada suami atau istri yang berbuat tidak baik, maka yang salah adalah diantara keduanya. Sebab mereka tak saling mendoakan dalam kebaikan. Bisa jadi doanya hanya asal-asalan.”

“Wong wedok kudu isa dadi daringan. Wong lanang aja sampek buka daringan.” (Orang perempuan –istri- harus bisa jadi tempat menyimpan –harta suami-. Suami jangan sampai membuka tempat menyimpan harta).” 

Dijelaskan oleh Pak Penghulu, suami harus bekerja dengan giat. Tak boleh bermalas-malasan. Hasil nafkah dari suami diberikan kepada istri untuk dibelanjakan sesuai dengan kebutuhan dan disimpan.

“Setiap keluarga pasti diuji oleh Allah Swt. Masing-masing keluarga mendapat ujian yang berbeda-beda. Sesuai dengan tingkat keimanan mereka. Tugas suami dan istri adalah harus mampu menyelesaikan permasalahan tersebut. Jika ada masalah, namun keluarga tersebut tak bisa menyelesaikannya, maka yang terjadi adalah perselisihan. Jika tak kunjung mendapat solusi maka akhirnya terjadi pecahan.”

“Ada tiga tipe keluarga: Keluarga sukses dan bahagia. Keluarga sukses tapi tidak bahagia. Keluarga bahagia.”

Pak Penghulu memberi penjelasan, kebanyakan orang menganggap tolok ukur bahagia adalah jika memiliki banyak harta. Belum tentu. Banyak orang kaya, tapi hidupnya tak bahagia, bahkan berantakan. Anak-anaknya akhlaknya rusak. Suami-istri bercerai. Dan banyak lagi contohnya.

Kunci bahagia itu adalah banyak bersyukur. Selain itu, biasakan suami-istri makan sepiring berdua. Saling menyuapi satu sama lain. Minum segelas berdua. Walaupun makan nasi, lauknya cukup ikan asin dan sambel, maka akan terasa nikmat. Karena makanan itu penuh dengan keberkahan dari Allah Swt. 

Itulah wujud dari kerukunan rumah tangga dan itu pula yang menjadi kunci tercurahnya rizki dari langit. Rukun.

Ia mencontohkan, Nabi saw. selalu makan dan minum berdua bersama dengan istri-istri beliau. Saling suap-suapan. Gelas bekas minum Nabi saw juga diminum oleh istri-istri beliau. Nabi saw. selalu romantis kepada keluarga.

Keluarga pengantin lawas agar rumah tangganya selalu sakinah mawaddah warrahmah, maka  harus banyak-banyak membaca, ngaji dan mengingat kembali masa-masa pengantin baru. 

Saya doakan betul, bagi yang masih jomlo, agar segera dipertemukan dengan jodohnya. Tentu atas pilihan Allah Swt. Sebab baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah. 

Perlu diketahui, bahwa jodoh, rizki dan maut adalah di tangan Allah. Namun harus tetap berusaha semaksimal mungkin. Harus tetap melalui proses. Karena Allah sangat menyukai proses. 

Wallahu a’lam...

---- 

Simorejo, 
18 Syawal 1440 H.
10 Juni 2020 M.

Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Friday, August 23, 2019

LUPA MEMBAWA BERKAH UNTUK MUHASABAH


Oleh: Slamet Widodo
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Hari ini, Jum’at Kliwon, 23 Agustus 2019 saya benar-benar mendapat pelajaran hidup yang luar biasa. 

Kisah ini berawal, seminggu yang lalu. Saya ngobrol dengan teman seperjuangan saya. Sebut saja namanya Lek Ustaz. Sengaja tidak saya sebutkan nama. 

Kala itu ia curhat kepada saya. Dalam tiga Jum’at berturut-turut, ia membaca khutbah di masjid tempat saya dilahirkan. 

Jumat pertama, ia membaca khutbah, memang sesuai dengan jadwal yang ia miliki. 

Jum’at kedua, ia menggantikan khatib yang berhalangan hadir, karena sakit yang dirawat di rumah sakit beberapa hari. 

Jum’at ketiga, menggantikan jadwal khutbah, seseorang yang mendapat tugas dinas dari pemerintah, di luar daerah. Sehingga tidak memungkinkan untuk mengisi khutbah di masjid ini. 

Nah, untuk yang ketiga ini, sampai saat ini, belum ada gantinya. Sebenarnya takmir masjid sudah mengambil langkah untuk mencari pengganti. Namun belum dapat. Belum ada yang mau. 

Berawal dari sini, Lek Ustaz bercerita kepada saya. Katanya ia punya rasa tidak enak dengan jamaah. Masa, tiap Jumat kok dirinya terus yang membaca khutbah. Seperti dimonopoli. “Kayak nggak ada orang pinter selain saya. Padahal orang-orang pinter di sini juga banyak,” katanya. 

Mendengar curhatan itu, lalu saya menyanggupi untuk mengisi khutbah menggantikan teman yang tugas dinas luar daerah tadi. 

Jadwalnya hari ini. Jumat Kliwon. Saya juga punya jadwal sendiri. Jum’at Legi. 

Entah-lah, saya benar-benar lupa jika hari ini saya mendapat giliran membaca khotbah. Lek Ustaz, setiap kali hadir di majlis tahlil juga ketemu saya. Namun tidak mengingatkan. 

Biasanya, kalu saya punya jadwal membaca khotbah, dua atau tiga hari sebelumnya, materi sudah saya siapkan. Biasanya saya mencari materi di internet. Atau, kalau tidak begitu, saya bikin sendiri. Tema, saya sesuaikan dengan kondisi lingkungan dan informasi yang sedang berkembang. Biar kekinian. Dan jamaah tidak bosan. 

Sementara untuk hari ini, tidak saya siapkan sama sekali. Ya, memang karena benar-benar lupa. 

Karena merasa tidak punya jadwal. Akhirnya saya pulang dari sekolahan, ya santai saja. Kayak orang nggak punya salah, gitu. Hehehe.

Setibanya di rumah. Seperti biasa, sebelum berangkat menunaikan salat Jumat, saya bersih diri.

Entah-lah, saat bersih diri itu, ada hal lain yang tak bisa saya tinggalkan. Dan harus saya tunaikan. Jadi membutuhkan waktu cukup lama. Niat saya, berangkat ke masjid agak telat. Ya, karena merasa ndak punya jadwal. 

Setelah tertunai, saya bergegas ganti baju dan sarung. Saya buka HP untuk melihat jadwal salat melalui aplikasi. 

Waktu Zuhur kurang dua menit. 

Saya segera berangkat ke masjid yang jaraknya hanya beberapa langkah dari rumah. 

Saat memasuki masjid. Saya mendapati seorang pengurus takmir berdiri di pintu serambi. Lalu menyalami saya. 

Selain itu, seorang muazin yang duduk di barisan belakang segera berdiri melihat kedatangan saya. Kemudian maju beberapa langkah ke saf depan untuk mengumandangkan azan. Semua jamaah melihat ke belakang. Sepertinya mereka semua menunggu kedatangan saya. 

Namun lagi-lagi, saya tak menyadari jika sayalah yang mereka tunggu.

Sebelum azan, saya mengambil posisi di samping Lek Ustaz yang duduk di saf tengah, untuk menunaikan salat sunah tahiyatal masjid. 

Selepas salam. Saya tanya ke Lek Ustaz. 

“Jadwal sampeyan?”

“Mboten to. Terose Sampeyan hari ini siap?” (Bukan. Katanya Anda hari ini siap?)

“Loh? Saya kok ndak menyiapkan materi. Sampeyan menyiapkan materi?”

“Mboten.” (Tidak) 

“Minta tolong, sampeyan lihat, di mimbar ada kitab khutbah atau tidak?” pinta saya. 

Bersamaan dengan Lek Ustaz ke depan untuk mengecek, adakah kitab khutbah di mimbar.

Saya langsung bergegas pulang. Mengambil kitab khutbah. Sementara itu muazin masih mengumandangkan azan. 

Saya mengambil kitab khutbah bahasa Jawa, karya Ust. Abd. Rozzaq Zuhdi. Diterbitkan Penerbit “Al-Miftah” Surabaya. Cetakan tahun 2001. Kitabnya kecil. Kertasnya sudah usang. Karena dimakan usia. Kitab ini saya taruh di atas sound bersama tumpukan buku-buku lainnya. 

Sambil jalan menuju masjid. Saya buka kitab itu untuk mencari materi yang pas untuk saya baca nanti. 

Sekali buka, saya menemukan sebuah judul “Mensyukuri nikmat kemerdekaan”. Lalu saya lipat halaman tersebut untuk menandai.

Saat saya masuk masjid, muazin selesai mengumandangkan azan. Dan mengajak jamaah untuk salat sunat. 

Biidznillah, salat Jumat berjalan dengan lancar. Saya membaca khotbah bahasa jawa dengan tema kemerdekaan. 

**** 

Dari sini saya bisa merasakan dan tersadar, betapa semua ketentuan Allah swt. begitu indah dan sangat baik bagi hambaNya. 

Betapa tidak. Saya sama sekali tidak punya persiapan untuk membaca khotbah hari ini. 

Namun, saat mengambil kitab khotbah. Materi yang saya baca bertema peringatan kemerdekaan. Pas banget dengan situasi saat ini. Kita sebagai warga negara Indonesia sedang merayakan kemerdekaan yang ke-74.

Saya benar-benar sadar, bahwa semua ini pasti karena campur tangan Allah yang Maha Profesional.

Lho kok baru sadar? Apa selama ini tidak menyadari bahwa semua yang terjadi pada diri manusia atas kehendak Allah? 

Ya, diakui atau tidak. Kita sebagai manusia biasa, sering lalai dan kurang, bahkan tidak bersyukur atas nikmat Allah yang kita terima. 

Sebab saking banyaknya nikmat yang kita terima. Dan kita terbiasa mendapatkan kenikmatan yang melimpah. Sehingga kita lupa bersyukur. 

Coba saja, kenikmatan yang kita terima ini sedikit dikurangi. Pasti kita akan berkeluh kesah. Kita akan bilang bahwa Allah Swt tak lagi sayang kepada kita. 

Ah, dasar manusia. 

----

Bulu Simorejo, 23 Agustus 2019

Wednesday, August 21, 2019

MILENIAL, AYO NYOBLOS JANGAN BOLOS

Gambar Sumber: Suara.com

Oleh: Slamet Widodo, S.Pd
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)


Saat ini sudah bulan April 2019. Bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia. Sebab, di bulan ini, rakyat Indonesia tengah menyelenggarakan pesta demokrasi. Pesta untuk memilih secara langsung Presiden dan wakil presiden, Anggota Legislatif (DPR RI dan DPRD) dan juga anggota DPD. Yang akan memimpin Indonesia selama lima tahun ke depan. Seperti apa wajah, corak dan warna Indonesia lima tahun ke depan, akan ditentukan dalam sehari. Yakni pada tanggal 17 April 2019 mendatang.

Hari itu menjadi hari yang sangat penting untuk menentukan nasib bangsa Indonesia lima tahun ke depan. Oleh sebab itu, partisipasi rakyat dalam menyukseskan pemilu tersebut sangat dibutuhkan. Caranya dengan datang ke TPS, dan memilih salah satu calon sesuai dengan pilihannya masing-masing. Sukses dan tidaknya pemilu ini berada di tangan rakyat.

Menurut Peneliti Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indonesia, Andrian Habibi, salah satu indikator suksesnya pemilu adalah rendahnya angka golput (golongan putih: sebutan bagi warga negara yang tidak menyalurkan suaranya saat pemilu).

Peran generasi Milenial tak kalah pentingnya dalam menyukseskan pemilu ini. Betapa tidak, seperti yang diberitakan www.brilio.net, berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih Milenial mencapai 70 juta-80 juta jiwa dari 193 juta pemilih. Artinya, sekitar 35-40 persen memiliki pengaruh besar terhadap hasil pemilu dan menentukan siapa pemimpin di masa mendatang.

Pantas saja, para politisi berusaha merayu dan memikat hati generasi Milenial, agar memilih mereka. Kaum milenial adalah ladang basah bagi mereka. Meski usia para politisi itu sudah tidak Milenial lagi. Namun, dalam kampanye mereka macak menjadi Milenial. Dan mengklaim diri dan kubunya sebagai sosok paling Milenial.

Namun, kesan negatif telah tersemat bagi generasi yang lahir di atas tahun 1980-an ini. Mereka dicap sebagai generasi yang acuh terhadap perkembangan politik di negaranya. Mereka cenderung memilih cara dan gayanya sendiri. Dan sering memilih golput dalam pemilu. Hal itu bukan tanpa alasan. Mereka cenderung memiliki tingkat kepercayaan rendah pada politisi. Selain itu juga sinis terhadap berbagai lembaga politik dan pemerintahan. Semua itu disebabkan karena ulah politisi yang menyajikan pendidikan politik yang menjijikkan kepada rakyat.

Di sisi lain, ada sebuah studi yang membantah anggapan di atas. Studi tersebut menyebutkan bahwa generasi muda adalah kelompok yang dinilai paling peduli terhadap berbagai isu politik (Harris, 2013).

Pendapat yang kedua ini, sangat logis. Terbukti saat ini banyak politisi muda yang turut bertarung merebut hati rakyat. Dengan memajang foto terbaik dirinya di pinggir-pinggir jalan. Untuk menduduki kursi di DPR RI, DPRD Propinsi dan kabupaten/kota. Mereka mengklaim akan sanggup dan mampu mengemban amanah rakyat. Akan siap menyuarakan penderitaan rakyat. Dan janji-janji manis atas nama rakyat. Setidaknya meraka telah bertekad berjuang untuk kemajuan bangsa dan negara tercinta ini.

Saya teringat dengan pesan Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno: “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”
Pesan itu memiliki makna bahwa generasi muda adalah generasi yang penuh potensi. Generasi dengan semangat yang berkobar-kobar. Mereka sebagai agent of change (agen perubahan) sosial. Mereka adalah harapan dan tumpuan bangsa Indonesia di masa mendatang.

Ayolah para pemuda, kini saatnya mengerahkan kekuatan baik tenaga dan pikiran, berjuang untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Satu pesan John F. Kennedy, “Jangan pernah bertanya apa yang diberikan negara kepadamu, namun bertanyalah apa yang sudah kami berikan untuk negara.”

Untuk itu, ayo datanglah ke tempat pemungutan suara (TPS) terdekat. Gunakan hak suaramu untuk memilih Presiden dan wakilnya serta anggota legislatif pada pemilu 17 April mendatang. Itu adalah salah satu wujud pengabdianmu terhadap negara ini.

----

Kepohabaru, 10 April 2019

Tuesday, June 11, 2019

Google Maps (agar tak) Menyesatkan


(Serba-serbi Idul Fitri)

Oleh: Slamet Widodo*)


Google Maps menjadi salah satu aplikasi penunjuk arah milik perusahaan raksasa Google. Aplikasi ini menyediakan layanan berbentuk peta. Google Maps dapat menampilkan gambar lokasi jalanan, kondisi jalan dan bahkan tingkat kemacetan. Selain itu, Google Maps juga menyediakan bentuk dan rupa secara detail dari planet bumi.

Aplikasi ini dapat diakses di mana saja dan kapan saja melalui perangkat komputer atau smartphone. Dengan catatan jaringan internet tersedia degan baik dan berjalan lancar. Koneksi internet yang kurang bagus dan tersendat akan mengakibatkan aplikasi Google Maps error. Tidak berjalan dengan baik dan bahkan menyesatkan.

Penggunaan aplikasi Google Maps di zaman now ini menjadi sebuah keniscayaan. Terlebih semakin berkembangnya layanan transportasi online. Aplikasi ini menjadi kebutuhan utama. Bukan hanya itu, Google maps sangat membantu bagi pengendara dalam perjalanan.

Kemarin, Selasa, 11 Juni 2019, saya memiliki pengalaman indah saat menggunakan aplikasi Google maps ini.

Saya beserta anak kedua dan istri berniat mengahdiri halal bi halal keluarga besar MTs Negeri 3 Bojonegoro. Lokasinya berada di rumah Pak Sholikin (Waka Humas), Bulu Terate, Sugihwaras, Bojonegoro. 

Saat berangkat ke lokasi, sengaja saya tidak bareng dengan teman. Sebab, saya sudah pernah dua kali ke rumah tersebut. Namun, tak begitu ingat jalan menuju ke sana. 

Sebelum berangkat, saya mengirim pesan pribadi dan meminta tuan rumah untuk share lokasi melalui Whatsapp. 

Gayung pun bersambut. Tak berselang lama, Pak Sholikin men-share lokasi di pesan pribadi dan di grup Dinas. 

Dengan percaya diri, saya berangkat membawa anak istri dengan motor Beat kesayangan istri, bermodal petunjuk arah yang telah dikirim kepada saya dan grup Dinas. 

Sejak dari rumah, saya sudah mensetting aplikasi Google maps dalam mode pengendara. Volume smartphone saya setting lebih keras. Agar bisa saya dengar saat berkendara. Dalam posisi stand by, smartphone android, saya masukkan ke saku baju. Saya pacu motor menuju lokasi. 

Perjalanan kami dari rumah hingga jalan raya Bulu Tetate Sugihwaras cukup lancar. Sebab, saya dan istri pernah melewati jalan tersebut beberapa kali. Namun, jalan menuju lokasi acara, saya masih agak ragu. Nah, dalam kondisi seperti ini saya mempercayakan sepenuhnya kepada Google maps.

Saya patuh kepada perintah Google Maps. Katanya, tujuan saya tinggal 200 meter. Lalu belok kanan. Namun, saya ragu dengan perintah simbah Google Maps ini. Sebab, pertinggan yang ia maksud adalah jalan setapak menuju sawah. Akhirnya saya melanjutkan perjalanan sejauh kurang lebih 300 meter. Oleh simbah Google Maps, saya di suruh kembali. Saya pun mengikuti perintahnya. Dan benar. Lokasi yang ia maksud adalah sawah tegalan. 

Saya hentikan motor. Kemudian menghubungi Pak Sholikin. Meminta petunjuk jalan menuju ke rumahnya. Saya pun kembali dan bertemu dengan teman guru, Bu Nanik dan suami. Ia juga menuju lokasi yang sama dan mengalami hal yang sama dengan saya. Tersesat gara-gara Google Maps. 

Banyak hal yang bisa kita ambil dari kejadian ini. Seperti uraian saya di atas. Google Maps tak berjalan dengan baik apabila sinyal internet pada area tersebut dalam keadaan buruk. 

Setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat menggunakan aplikasi ini. Ketika men-share lokasi melalui Whatsapp, terdapat dua pilihan. Pertama, berbagi lokasi terkini dan kedua, kirim lokasi anda saat ini. 

Pada pilihan kedua, terdapat akurasi jarak lokasi. Semakin kecil angka akurasi, misalnya: 3 meter, semakin tepat sasaran. Namun sebaliknya, apabila angka akurasinya semakin besar, maka jarak sasaran semakin jauh. Hal inilah yang membuat kita tersesat dan menyesatkan. Semua itu tergantung kualitas sinyal yang kita dapatkan saat itu. 

Sementara pilihan pertama, berbagi lokasi terkini tak dilengkapi dengan akurasi jarak. 

Jadi, mari bijaklah dalam menggunakan Google Maps. Semoga bermanfaat.

--- 

Simorejo, Kepohbaru, 12 Juni 2019.



*) Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro

Monday, April 22, 2019

Gus Baha' Cerita tentang Doa Nabi Dzunnun


Oleh: Slamet Widodo, S.Pd
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Sabtu Pagi, 20 April 2019. Sekira pukul 09.30 WIB. Di ruang laboratorium komputer 3. Tempat saya bertugas. Saya, Kiai Mahrus dan Pak Sudarmono berada di dalamnya. Beliau berdua rabahan, untuk istirahat sejenak. Sembari menunggu azan Zuhur berkumandang.

Sementara saya menyiapkan administrasi UNBK. Yang dilaksanakan Senin, 22 April 2019. Membuat daftar hadir, berita acara, jadwal dan lain sebagainya.

Tak lama berselang. Pekerjaan saya hampir selesai. Semua kebutuhan administrasi sebagian besar sudah saya buat. Rasa lelah pun mendera. Untuk sekedar meluruskan punggung, saya pun ikut rebahan di lantai yang beralaskan karpet hijau. Di antara sela-sela meja tempat puluhan komputer diletakkan.

Saat rebahan dan memejamkan mata barang sejenak. Kiai Mahrus, sambil memutar video pengajian Gus Baha' di Youtube. Entah tema apa yang dibahas. Saya tak mengikuti ngaji itu dari awal. Saya fokus pada pekerjaan. Sehingga kurang fokus pada pengajian itu.

Sayabaru mengikuti (fokus mendengarkan) pengajian itu, saat Gus Baha' bercerita tentang Nabi Dzannun atau Nabi Yunus as. Dengan gaya khasnya, santai tapi serius, Gus Baha' berkisah tentang Nabi yang pernah ditelan ikan itu.

***

Pada masanya, Yunus as. diutus Allah Swt. untuk menyampaikan risalah kepada kaumnya. Di sebuah kampung bernama Ninawa. Di daerah Mosul, Irak. Semua penduduknya telah berpaling dari jalan Allah yang lurus. Mereka menyembah patung dan berhala.

Tugas Yunus as. adalah memberi petunjuk dan mengajak mereka kembali ke jalan yang lurus. Yakni menyembah Allah Swt. Bukan yang lain.

Namun apa yang terjadi? Ternyata seluruh kaum Yunus as. menolak ajakannya dan ingkar kepada Allah Swt. Mereka tetap memilih menyembah patung dan berhala. Mereka tetap memilih kafir. Bukan hanya itu. Mereka juga mengolok-olok dan menghina Nabi Yunus as.

Melihat kelakuan kaumnya itu, akhirnya Yunus as. marah. Dan tidak mengharapkan lagi keimanan kaumnya itu.

Kemudian Allah Swt. pun mewahyukan kepada Yunus as. untuk memberitahukan kepada kaumnya, bahwa Allah akan mengazab mereka. Karena sikap mereka itu.

Lalu Yunus as. menyampaikan perihal azab itu kepada kaumnya dan mengancam mereka dengan azab Allah swt. Kemudian ia pergi meninggalkan mereka.

Kala itu, kaum Yunus as. telah mengetahui, bahwa Yunus as. telah pergi meninggalkan mereka. Sehingga mereka yakin, azab akan turun dan bahwa Yunus adalah seorang nabi. Karena itu, mereka segera bertobat kepada Allah Swt., kembali menyembah kepada-Nya, dan menyesali perbuatan mereka.

Pada saat itu, kaum lelaki, wanita, dan anak-anak menangis karena takut azab yang menimpa mereka. Lalu mereka berdoa dengan suara keras kepada Allah Swt. agar azab itu diangkat dari mereka. Saat Allah Swt. melihat tulusnya tobat mereka, maka Allah Swt. menghilangkan azab itu dari mereka serta menjauhkannya. Allah Taala berfirman,

“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 98)

Setelah peristiwa itu, Yunus as. tetap meninggalkan kampung dan kaumnya karena marah. Padahal Allah Swt. belum mengizinkannya.

Yunus as. pergi ke tepi laut dan menaiki kapal. Tanpa sepengetahuan para penumpang dan nahkoda kapal. Pada saat Yunus as. berada di atas kapal, tiba-tiba ombak laut menjadi besar dan dahsyat. Angin menjadi kencang dan membuat kapal menjadi terombang-ambing, oleng. Hingga hampir saja tenggelam.

Mengingat kondisi kapal nakhoda dan penumpang kapal segera mengambil inisiatif. Sebagian barang-barang berat yang ada di kapal itu dilempar ke laut. Untuk meringankan beban. Namun ternyata, kapal tetap saja oleng dan hampir tenggelam.

Namun, kapal itu tetap saya tidak terombang-ambing, oleng dan hampir tenggelam. Nakhoda dan para penumpang kapal tersebut berdiskusi. Untuk mengurangi beban kapal, harus ada satu penumpang yang rela untuk terjun ke laut. Semua penumpang tidak ada yang mau. Kemudian dilakukan pengundian. Siapa pun yang mendapat undian, harus terjun ke laut.

Ternyata undian itu jatuh kepada Yunus as. Undian tersebut diulang hingga tiga kali. Hasilnya tetap sama. Dan lagi-lagi Yunus as. lah yang mendapatkan undian itu. Artinya, Yunus as. harus rela terjun ke laut. Kemudian Yunus as bangkit dan melepas bajunya, kemudian melemparkan diri ke laut.

Tentunya Allah Swt. tidak rela jika seorang utusan dan kekasih-Nya mati di tengah lautan. Bersama itu pula, Allah Swt. mengirimkan seekor ikan besar dan mengilhamkan kepada ikan itu untuk menelan Yunus as. Dan tetap menjaganya agar tubuhnya tidak robek atau bahkan luka sedikit pun. Yunus as. pun tinggal di dalam perut ikan itu dalam beberapa waktu dan dibawanya mengarungi lautan.

Menyadari dirinya berada di dalam perut ikan yang gelap gulita itu. Yunus as. menyesal telah berbuat salah dan melanggar perintah Allah Swt.

Kini Yunus as. telah berada dalam tiga kegelapan; kegelapan perut ikan, kegelapan lautan, dan kegelapan malam.

Maka di dalam kegelapan perut ikan itu Yunus as. berkata kepada dirinya sendiri. Kalau pun harus mati di dalam perut ikan itu, ia ingin mati dalam keadaan bertasbih dan memohon ampun kepada Allah Swt.. Maka Yunus as. berdoa:

“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala,

“Dan (ingatlah kisah) Dzunnun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, “Bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” –Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiyaa’: 87-88)

Kemudian Allah Swt. memerintahkan ikan itu agar memuntahkan Yunus as. ke pinggir pantai. Lalu Allah swt. menumbuhkan sebuah pohon sejenis labu yang memiliki daun yang lebat. Pohon itu dapat menaungi Yunus as. dan menjaganya dari panas terik matahari.

Sebagaimana firman Allah Swt.,

“Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.– Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.” (QS. ash-Shaaffaat: 145-146)

Ketika Yunus as. dimuntahkan dari perut ikan yang keadaannya seperti anak burung yang telanjang dan tidak berambut. Lalu Allah menumbuhkan pohon sejenis labu, dimana ia dapat berteduh dengannya dan makan darinya. Selanjutnya pohon itu kering, lalu Yunus menangis karena keringnya pohon itu. Kemudian Allah berfirman kepadanya, “Apakah kamu menangis karena pohon itu kering. Namun kamu tidak menangis karena seratus ribu orang atau lebih yang ingin engkau binasakan.”

Selanjutnya, Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan Yunus as. agar kembali kepada kaumnya untuk memberitahukan mereka, bahwa Allah Ta’ala telah menerima tobat mereka dan telah rida kepada mereka. Maka Yunus as. melaksanakan perintah itu. Ia pergi mendatangi kaumnya dan memberitahukan kepada mereka wahyu yang diterimanya dari Allah Swt.

Kaumnya pun telah beriman dan Allah memberikan berkah kepada harta dan anak-anak mereka, sebagaimana yang diterangkan Allah dalam firman-Nya,

“Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.–Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS. ash-Shaaffaat: 147-148)

***

Tentang doa Nabi Yunus as., Rasulullah saw. bersabda,

“Doa Dzunnun (Nabi Yunus as.) ketika di perut ikan adalah “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Sesungguhnya tidak seorang muslim pun yang berdoa dengannya dalam suatu masalah, melainkan Allah akan mengabulkan doanya.” (HR. Tirmidzi).

***
Artikel ini saya tulis, karena saya mengalami dan merasakan sebuah pengalaman yang menurut saya luar biasa. Pengalaman itu saya alami bersama teman-teman pada Jumat Wage, 19 April 2019 malam. Di musala “Nur Alief” Kradenanrejo, Kedungpring, Lamongan.

Kisah tentang Nabi Yunus as. itu saya dapatkan dari berbagai sumber di internet.

----
Kepohbaru, 23 April 2019

Wednesday, April 10, 2019

Milenial Ayo Nyoblos, Jangan Bolos

Oleh: Slamet Widodo, S.Pd
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Sumber gambar: katainisama.com

Saat ini sudah bulan April 2019. Bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia. Sebab, di bulan ini, rakyat Indonesia tengah menyelenggarakan pesta demokrasi. Pesta untuk memilih secara langsung Presiden dan wakil presiden, Anggota Legislatif (DPR RI dan DPRD) dan juga anggota DPD. Yang akan memimpin Indonesia selama lima tahun ke depan. Seperti apa wajah, corak dan warna Indonesia lima tahun ke depan, akan ditentukan dalam sehari. Yakni pada tanggal 17 April 2019 mendatang. 

Hari itu menjadi hari yang sangat penting untuk menentukan nasib bangsa Indonesia lima tahun ke depan. Oleh sebab itu, partisipasi rakyat dalam menyukseskanj pemilu tersebut sangat dibutuhkan. Caranya dengan datang ke TPS, dan memilih salah satu calon sesuai dengan pilihannya masing-masing. Sukses dan tidaknya pemilu ini berada di tangan rakyat. 

Menurut Peneliti Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indonesia, Andrian Habibi, salah satu indikator suksesnya pemilu adalah rendahnya angka golput (golongan putih: sebutan bagi warga negara yang tidak menyalurkan suaranya saat pemilu).

Peran generasi Milenial tak kalah pentingnya dalam menyukseskan pemilu ini. Betapa tidak, seperti yang diberitakan www.brilio.net, berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih Milenial mencapai 70 juta-80 juta jiwa dari 193 juta pemilih. Artinya, sekitar 35-40 persen memiliki pengaruh besar terhadap hasil pemilu dan menentukan siapa pemimpin di masa mendatang.

Pantas saja, para politisi berusaha merayu dan memikat hati generasi Milenial, agar memilih mereka. Kaum milenial adalah ladang basah bagi mereka. Meski usia para politisi itu sudah tidak Milenial lagi. Namun, dalam kampanye mereka macak menjadi Milenial. Dan mengklaim diri dan kubunya sebagai sosok paling Milenial.

Namun, kesan negatif telah tersemat bagi generasi yang lahir di atas tahun 1980-an ini. Mereka dicap sebagai generasi yang acuh terhadap perkembangan politik di negaranya. Mereka cenderung memilih cara dan gayanya sendiri. Dan sering memilih golput dalam pemilu. Hal itu bukan tanpa alasan. Mereka cenderung memiliki tingkat kepercayaan rendah pada politisi. Selain itu juga sinis terhadap berbagai lembaga politik dan pemerintahan. Semua itu disebabkan karena ulah politisi yang menyajikan pendidikan politik yang menjijikkan kepada rakyat. 

Di sisi lain, ada sebuah studi yang membantah anggapan di atas. Studi tersebut menyebutkan bahwa generasi muda adalah kelompok yang dinilai paling peduli terhadap berbagai isu politik (Harris, 2013).

Pendapat yang kedua ini, sangat logis. Terbukti saat ini banyak politisi muda yang turut bertarung merebut hati rakyat. Dengan memajang foto terbaik dirinya di pinggir-pinggir jalan. Untuk menduduki kursi di DPR RI, DPRD Propinsi dan kabupaten/kota. Mereka mengklaim akan sanggup dan mampu mengemban amanah rakyat. Akan siap menyuarakan penderitaan rakyat. Dan janji-janji manis atas nama rakyat. Setidaknya meraka telah bertekad berjuang untuk kemajuan bangsa dan negara tercinta ini. 

Saya teringat dengan pesan Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno: “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”

Pesan itu memiliki makna bahwa generasi muda adalah generasi yang penuh potensi. Generasi dengan semangat yang berkobar-kobar. Mereka sebagai agent of change (agen perubahan) sosial. Mereka adalah harapan dan tumpuan bangsa Indonesia di masa mendatang. 

Ayolah para pemuda, kini saatnya mengerahkan kekuatan baik tenaga dan pikiran, berjuang untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa. 

Satu pesan John F. Kennedy, “Jangan pernah bertanya apa yang diberikan negara kepadamu, namun bertanyalah apa yang sudah kami berikan untuk negara.”

Untuk itu, ayo datanglah ke tempat pemungutan suara (TPS) terdekat. Gunakan hak suaramu untuk memilih Presiden dan wakilnya serta anggota legislatif pada pemilu 17 April mendatang. Itu adalah salah satu wujud pengabdianmu terhadap negara ini. 

----
Kepohabaru, 10 April 2019

Sunday, March 17, 2019

Cicak, Binatang “Pembawa Sial” tapi Disukai Anak-anak

Gambar Sumber: Cinta Ruqyah Syariyyah

Oleh: Slamet Widodo*)

Entahlah, malam ini, saya tiba-tiba ingin menulis tentang cecak. Saat duduk di ruang tengah bersama ibu, di rumah Bulu Simorejo. Saya melihat seekor cecak yang menempel di tembok. Ia diam penuh siaga, tepatnya  di atas pintu kamar saya. 

Melihat cicak itu, saya langsung teringat anak kedua saya, Azimatun Faiqotuz Zahro (Azim). Ia suka sekali dengan hewan reptil ini. Apabila ia menangis, akan langsung tenang, ketika ditunjukkan cicak yang menempel di tembok rumah kami. 

Bukan hanya itu, ketika ia terbangun saat tidur di tengah malam atau bangun saat pagi, pertama kali yang ditanyakan adalah cicak. “Cecake endi, buk?” (Cicaknya mana, buk?). “Lha kuwi cecake (Lha itu cecaknya),” kata ibunya sambil menunjukkan cecak yang menempel di dinding kamar.

Apabila kebetulan tak ada cicak, maka si ibunya dengan sabar memberi alibi. “Loh cecake no endi ya? Cecake bobok, paling. Ngantuk. Nah, Azim ayo bobok maneh. Isih malem.” (Loh, cecaknya di mana ya? Cecaknya bobok, mungkin. Ngantuk. Nah, Azim ayo bobok lagi. Masih malam). Dalam sekejap anak kami pun tenang dan bobok kembali dalam dekapan hangat sang ibu. 

Bukan hanya Azim. Kakaknya, Zahro, 12 tahun, sewaktu kecil pun punya kesenangan yang sama dengan adiknya. Sama-sama suka cecak. Bahkan dulu, Zahro meminta kakeknya untuk menangkap cecak. Lalu dimasukkan ke dalam plastik bening. Untuk di buat mainan.

Bagaimana dengan anak Anda? Apakah suka sama cecak juga? 

Entah mengapa anak kecil (terutama anak saya) suka sekali dengan cecak. Bahkan ada lagu khusus anak-anak tentang hewan reptil ini. Judulnya: Cecak-cecak di dinding.

Pernah suatu hari, saya diskusi dengan istri saya. Mengapa anak kecil suka sekali dengan cecak. Ia bilang, katanya: “hewan yang pertama kali yang dikenalkan orang tua kepada anak kecil adalah cecak. Sebab cecak mudah di dapat. Cecak banyak ditemui di rumah-rumah. Karena anak kecil memorinya sangat kuat, maka apa yang ia lihat, dengar dan rasakan itu akan tertancap kuat di dalam ingatannya.” 

Hem, masuk akal juga ya... 

Namun, di balik kelucuan cecak, sehingga menarik simpati anak kecil. Ternyata  ada hadits Rasulullah saw. tentang keutamaan membunuh cecak. Termasuk tokek. 

Tentu ada alasan tertentu, mengapa Rasulullah saw. menganjurkan untuk membunuh cecak. 

Pertama, ternyata binatang tersebut bisa mendatangkan penyakit. Sehingga harus segera dibunuh. 

“Barang siapa yang membunuh cecak sekali pukul, maka dituliskan baginya pahala seratus kebaikan. Barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala pertama. Barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala lebih kurang dari yang kedua,” (HR Muslim).

Kedua, dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa cicak dibunuh karena meniupi api agar membakar Ibrahim as. berdasarkan hadits riwayat Bukhari.

“Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda, ‘Dahulu cicak ikut membantu meniup api Ibrahim as.” (HR Bukhari).

Itu cecak di jaman Rasulullah saw. dan Nabi Ibrahim as. Hadits itu apakah berlaku juga untuk cecak-cecak yang ada di rumah-rumah kita atau tidak. Wallahu a’lam. Saya tidak banyak ilmu tentang hal itu. 

Meski pun cecak merupakan binatang yang dianjurkan untuk dibunuh. Tentunya binatang reptil itu juga bisa memberi manfaat bagi manusia. Yakni kita bisa mengambil pelajaran hidup dari cecak. Allah swt. dalam menciptakan sesuatu tentu tidak ada yang sia-sia. 

...Wahai Pemelihara kami, Engkau tidak menciptakan semua ini sia-sia. .... (QS Ali Imron ayat 191).

Pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari cecak adalah:

1. Bersyukur 

Cecak, diciptakan Allah swt. dalam bentuk yang begitu rupa. Kakinya pendek. Hidupnya hanya menempel di tembok. Atau langit-langit rumah. Ia hanya menggunakan lidah untuk menangkap makanan. Sementara itu makanannya hewan yang bisa terbang. Tentu kondisi ini sangat tak menguntungkan bagi cicak. 


Meski begitu, ia tak pernah protes kepada Allah Swt. Tak pernah mengeluh dengan kondisi seperti itu. Ia tetap bersyukur. 

Bagaimaana dengan manusia? Hehehe...
Manusia banyak berkeluh kesah. Merasa serba kurang. Dan serba tidak cocok. Ia terus protes kepada Allah Swt. Sudah punya ini, kurang itu. Sudah punya itu, kurang ini. 

Memang, sifat dasar manusia adalah selalu berkeluh kesah. 

"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir." (QS. Al-Ma’arij: 19)


2. Semangat Bekerja

Cecak termasuk binatang yang giat bekerja. Ia tak mau bermalas-malasan. Apabila ada kesempatan mangsa datang, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengejar dan menangkapnya. Tak peduli mangsanya terbang. Tetap saja ia akan mengejar mangsa itu sampai dapat. 

Nah, bagaimana dengan manusia? Hehehe...

Ah, manusia. Apabila ia belum mendapatkan pekerjaan. Maka ia akan mencari pekerjaan itu sampai dapat. Apa pun dan bagaimana pun caranya, akan ditempuh. 

Namun, apabila sudah mendapatkan pekerjaan. Apa yang dilakukan? Ia akan bermalas-malasan. Bekerja asal-asalan. Maunya kerja enak dan ringan. Tapi gajinya besar dan lancar. 


3. Qonaah (Menerima apa adanya) 

Meski banyak sekali mangsa yang beterbangan. Terkadang tak satu pun yang bisa ditangkap oleh cecak. Bagaimana sikap cecak, apakah ia putus asa? Tidak. Tidak sama sekali. Justru ia diam. Tenang. Sambil menunggu mangsa lain yang datang. 

Nah salah satu sifat baik dari cecak adalah qonaah. Menerima pemberian Allah Swt. dengan lapang dada. Karena ia yakin, bahwa rizkinya sudah diatur oleh Allah Swt. Ia tak kan khawatir Rizkinya bakal tertukar atau tertunda. Sebab rizki pemberian Allah itu pas. Tak kurang dan tak lebih. 

Kita seharusnya bisa mencontoh sifat qonaah cecak. Tak perlu tamak mengejar dunia. Sebab rizki kita sudah diatur oleh Allah. Tentunya Allah Maha Adil dan Maha Pemurah. Dia tak mungkin membiarkan hamba-Nya kelaparan. Tentunya semua kebutuhan manusia telah dicukupi oleh Allah Swt. 

Dalam bekerja untuk urusan dunia, jangan sampai lalai sehingga meninggalkan urusan dengan Allah Swt.  

Rizki kita sudah ditetapkan oleh Allah Swt. Sekuat apa pun dan segiat apa pun kita bekerja. Jika Allah menetukan rizki kita untuk hari ini sebesar seratus ribu, misalnya. Maka yang kita dapat ya seratus ribu itu. Tak kurang dan tak lebih. 

Terkadang kita lupa memaknai rizki itu sendiri. Yang kita sebut rizki adalah berupa uang atau harta benda lainnya. Bukan. Bukan hanya itu. Rizki yang Allah berikan kepada kita, dalam setiap harinya, sangat banyak. Tak terhitung jumlahnya. Berapa di antaranya adalah hidup di dunia ini. Udara yang kita hirup setiap hari. Kesehatan badan. Kesempatan untuk beribadah. Semua itu adalah rizki. 

Untuk itu, marilah kita berusaha mengambil pelajaran dari binatang apa pun yang diciptakan Allah Swt. Salah satunya adalah cecak. Sebab, apa pun yang dicipatakan Allah Swt. di dunia ini untuk manusia yang mau berfikir. Dan tentunya tak ada yang sia-sia. Wallahu a’lam...

*** 

Pernah kejatuhan cecak?
Jika pernah, setelah kejatuhan cecak, apa yang ada di dalam pikiran kita? 

Ah, embuh lah... 

----

Kepohbaru, 18 Maret 2019.


*) Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro – Pendiri komunitas menulis cah ndeso “Kita Belajar Menulis (KBM)”)

Ngopi Bareng Mas Agus Al Barqy

Foto: Dokumen Pribadi 


Oleh: Slamet Widodo*)

Minggu pagi, 17 Maret 2019. Saya, istri dan anak kedua kami, Azimatun Faiqotuz Zahro, 1 tahun 11 bulan, silaturrahmi di rumah saudara. Rumahnya Kalibanjar, Kedungpengaron, Modo Lamongan. Selain silaturrahim, kami juga mengahdiri undangan dari teman yang punya hajat. 

Di rumah saudara itu, oleh tuan rumah, saya disuguhi kopi. Sembari menyaksikan anak saya, ditemani ibunya, bermain-main di lantai bersama anak dari saudara kami. Dan juga anak-anak kecil sebayanya. Saya duduk di kursi sambil menikmati kopi hitam manis. Kopi saya tuang di lepek (piring kecil untuk tatakan cangkir). Sebelum saya seruput, kopi yang saya taung di lepek, saya foto. Lalu saya buat story Whatsapp (WA). Saya beri caption “Ngopi” di bawah gambar itu.

Tak berselang lama. Ada pesan masuk di WA saya. Dari Mas Agus Al Barqy. Ternyata ia mengomentari story saya. 

“Iso ngopi bereng pak?” (Bisa ngopi juga, Pak?)

“Njajal koyok wong-wong, Mas. Lah kok yo enak.” (Mencoba seperti orang-orang, Mas. Ternyata enak juga)

“Enak bagi Anda, (namun) tidak cocok buat perut saya... “ 

“Nah, itulah dunia. Terkadang baik untuk saya, belum tentu untuk Njenengan (Anda), Mas.” 

*** 

Entahlah. Setiap kali saya chat atau ngobrol secara langsung dengan Mas Agus Al Barqy, saya selalu mendapat ilmu dan hikmah. Padahal, saat kami ngobrol atau chat hanya hal-hal sepele. Guyonan (gurauan). Tetapi saya bisa menyerap lalu menjadikan ide untuk saya tuangkan mejadi tulisan. 

Salah satu hikmah yang saya dapatkan hari ini adalah: 

“Enak bagi Anda, tidak cocok buat perut saya...”

Ya, itulah dunia. Kita harus qonaah. Bersyukur dengan apa (harta) yang kita miliki. Sebab semua yang kita miliki atas pemberian Allah Swt. Menurut Allah Swt. apa pun yang diberikan kepada kita adalah baik dan cocok bagi kita. 

Kita tak boleh silau atau iri dengan apa pun yang dimiliki orang lain. Sebab, harta atau apa pun yang dimiliki orang lain belum tentu cocok bagi kita. 

Itulah hikmah yang saya dapatkan hari ini. Hikmah bisa kita dapatkan di mana saja dan kapan saja. Asalkan kita mau membaca, merenungkan dan mengambil pelajaran. Membaca bukan hanya membaca buku atau sesuatu yang tersurat (tertulis). Namun kita juga harus membaca sesuatu yang tersirat (dunia dan seisinya. Termasuk diri kita).

Pantas saja, Allah Swt. memerintahkan kepada kita semua melalui Nabi Muhammad Saw. untuk menbaca. Sebab, semua yang ada di dunia ini diciptakan Allah Swt bagi manusia untuk dibaca dan dipelajari bagi orang-orang yang mau berfikir. 

Wallahu a’lam...

*** 

Saya bersyukur hari ini bisa ngopi bareng Mas Agus Al Barqy. Meski hanya ngobrol lewat chat. Tetapi berasa ngopi beneran. 

---

Kepohbaru, 17 Maret 2019

*) Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro – Pendiri komunitas menulis cah ndeso “Kita Belajar Menulis (KBM)”)

Friday, March 15, 2019

Hadiah Buku Jejak Sakinah



Oleh: Slamet Widodo, S.Pd
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)


Foto: Koleksi Pribadi

"Bertemanlah dengan penulis, maka Anda akan mendapatkan hadiah buku."

Anda ingin dapat buku gratis? Buku dari pengarangnya langsung? Gampang. Bertemanlah dengan penulis.

Quote di atas sepertinya sangat cocok dengan kondisi yang saya alami hari ini. Rabu pagi, 6 Maret 2019, tetiba saya mendapat pesan Whatsapp dari teman (lebih tepatnya saudara). Namanya Muhammad Alim. Biasa saya memanggilnya Pak Alim. Ia salah satu guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Kepohbaru. Ia sangat produktif menulis. Sastra, menjadi pilihan aliran menulisnya. Ia juga anggota aktif di Kita Belajar Menulis (KBM) Bojonegoro.

Isi pesannya singkat. Memberi kabar gembira kepada saya. Katanya: ia mau menemui saya di tempat tugas saya. Untuk mengantarkan buku.

Wah, ini super keren. Hal yang paling saya tunggu dan sangat menyenangkan. Mendapat hadiah buku. Hehehe...

Tak berselang lama. Ia tiba di tempat saya. Membawa dua buah buku untuk saya. Pertama buku "Jejak Sakinah" hasil karyanya sendiri. Itu menjadi buku perdana baginya. Dan kedua, majalah Nurul Hayat. Majalah itu ia dapatkan dari kantor Nurul Hayat, Bojonegoro. Beberapa waktu lalu. Ia bawa dua. Satu buku diberikan kepada saya. Terimakasih banyak Pak Alim. Semoga Allah Swt. menggantinya dengan yang lebih baik lagi.

Bicara soal buku "Jejak Sakinah". Seperti yang saya katakan di atas. Buku itu menjadi buku perdana baginya. Dan disusul lagi buku yang kedua, Sastra dalam Sanubari. Kedua buku tersebut seluruhnya berisi puisi. Terbit secara bersamaan. Jadi, itulah kerennya Pak Alim. Ia bisa menerbitkan buku sekaligus dalam waktu yang bersamaan.

Jejak sakinah, berisi 100 puisi. Menceritakan tentang perjalanan penulisnya dalam menjemput jodoh. Lebih tepatnya ia dijodohkan oleh orang tuanya. Jodohnya yang menjadi istrinya saat ini.

Dalam membina tangga, ternyata tak semulus yang kita idamkan. Tak seindah yang kita janjikan saat "pacaran". Penulis menghadapi banyak tantangan. Halangan dan rintangan.

Ia menuturkan, tantangan, halangan dan rintangan dalam berumah tangga itu pasti ada. Dan wajib ada. Siapapun pasti akan mengalaminya. Tak pandang bulu. Apapun pangkat dan derajatnya. Baik kaya ataupun miskin. Semuanya.

Tak jarang sebuah keluarga yang usia pernikahannya baru seumur jagung atau bahkan yang sudah puluhan tahun, akhirnya bubrah. Karena tak bisa menghadapi dan melewati ujian-ujian dalam berumah tangga.

Di dalam buku Jejak Sakinah ini, penulis menawarkan tips dan trik dalam menghadapi semua cobaan itu. Agar pembaca bisa melewatinya dengan baik dan bijak.

Pengertian sakinah menurut penulis buku ini bukanlah sebuah kejayaan. Bukam banyaknya materi yang dimiliki. Sakinah adalah ketentraman hidup dalam kebersamaan.

Sakinah bukanlah kemasyhuran atau ukuran kedikdayaan (menang-kalah) dalam pergaulan. Bukan. Sakinah adalah keharuan, saling mengerti, saling memaafkan, saling melengkapi kekurangan masing-masing. Saling menolong dan saling meringankan. Keren.

Menikahlah, maka kamu akan merasakan kebahagiaan yang tak terkira.
Tak percaya? Cobalah.

-----

Kepohbaru, 6 Maret 2019

Politisasi Salam Literasi

Oleh: Slamet Widodo 
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)
Sumber gambar dari google

Salam literasi. Salam itu indetik sekali dengan kegiatan baca-tulis. Biasanya pengucapannya diikuti dengan kode jari telunjuk dan jempol. Diacungkan secara bersamaan. Sehingga membentuk huruf L. Artinya literasi.

Namun kini, di masa-masa suhu politik di Indonesia semakin memanas. Salam itu memiliki makna lain. Bukan litersi lagi. Salam itu dipolitisisasi. Dijadikan kode salah satu calon peserta pemilu. 17 April 2019 mendatang.

Jadi, ketika kita foto menggunakan salam literasi dan dibarengi dengan kode L. Bisa dipastikan orang lain bakal menilai: kita dicap sebagai pendukung salah satu calon presiden dan wakil presiden.

Memang, di saat menjelang pemilu ini semua hal yang berbau angka menjadi sangat sensitif. Jadi harus hati-hati dalam menyebut angka. Apalagi menggunakan kode jari. Terlebih apabila kita sebagai ASN. Harus netral. Tak boleh terjun langsung dalam politik praktis. Jadi serba repot dan bingung sendiri. Solusinya: untuk sementara, puasa dulu, tak perlu mengucapkan salam literasi. Sampai pemilu usai.

Kondisi seperti ini, bukan hanya saya yang merasakannya. Tetapi juga teman saya. Rabu sore, 06 Maret 2019. Saya membaca statusnya Bu Emi Sudarwati. Beliau menuliskan kegalauan itu di beranda Facebook miliknya.

Begini tulisannya:

“Mau foto harus mikir. Jangan pakai gaya tangan gini atau gitu. Awas, ASN. Jangan foto sama itu, lagi nyaleg. 17 April, segeralah berlalu. Aamiin....”

Saya juga punya pengalaman persis seperti yang dituliskan Bu Emi.

Pada 20 Oktober 2018. Saat itu saya sedang mengikuti pelatihan menulis buku. Di Pusat Belajar Guru (PBG) Bojonegoro. Pematerinya Bu Emi.

Hari itu menjadi hari yang sangat mengesankan bagi saya. Betapa tidak, saya bisa ketemu dengan para penulis hebat dari Bojonegoro. Terutama bisa ketemu dengan Bu Emi. Yang sebelumnya, saya tahu nama beliau dari teman saya. Saya benar-benar penasaran. Ingin sekali ketemu dengan beliau. Alhamdulillah, akhirnya saya diizinkan bertemu pada hari itu.

Dari pertemuan itu pula, saya bisa kenal dengan guru hebat, Pak Miswadi. Dan juga Bu guru yang super keren, Bu Elfi Zulfrida. Serta guru-guru yang war biasyah. Sebab, sebagian dari mereka ada yang pernah terbang ke luar negeri. Jepang, Belanda dan lain-lain. Pokoknya keren-keren.

Sebelum acara dimulai. Saya sempatkan untuk membeli bukunya Bu Emi. Kemudian saya sempatkan untuk foto-foto dengan beliau dengan membawa buku baru itu. Dan juga dengan Bu Elfi serta Pak Mis.

Karena acaranya adalah litetasi. Tentu saja, dalam sesi foto tersebut kami semua menggunakan salam literasi. Kemudian hasil foto itu saya share di story Whatsapp saya.

Eh, ndilalah. Tak berselang lama, saya mendapatkan sebuah pesan dari seorang teman. Isinya mengapresiasi foto saya. Katanya: terimakasih sudah mendukung calon ini.

Hem... Lah dalah. Kok jadi ambigu ya. Saya berusaha menjelaskan panjang lebar. Ia tetap bersikukuh dengan pendapatnya. E, ya sudahlah.

Semoga saja bulan April segera datang dan berlalu. Biar semua ketegangan dan panas-panasan ini segera berakhir.

Siapapun pilihan Anda saat pemilu nanti. Kita harus tetap menulis.

----
Kepohbaru – Simorejo, 07 Maret 2019

Monday, June 11, 2018

Doa

Oleh: Slamet Widodo
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Semalam, selepas berbuka puasa. Sembari menunggu waktu salat Isya’ tiba. Saya membuka dan membaca puluhan pesan masuk di WhatsApp (WA) saya. Kebanyakan pesan yang masuk dari beberapa WA grup (WAG) yang saya ikuti. Terutama WAG alumni Madrasah Aliyah Bahrul Ulum (MABU) Kepohabaru anggkatan 1999. Cukup rame. Membahas persiapan reuni yang rencananya akan diadakan 17 Juni 2018 mendatang. Saya sempatkan berkomentar untuk membalas pesan yang memang membutuhkan jawaban.

Kemudian, halaman WA saya coba geser ke kanan. Di sana ada pemberitahuan status baru dari kontak yang tersimpan di dalam kontak HP.

Setelah saya buka status satu persatu. Saya baca. Ternyata ada sebuah status yang menarik perhatian saya. Status itu ditulis oleh kawan saya. Namanya Mahrus Ali. Dia kawan baik saya. Satu angkatan saat sekolah di MTs Bahrul Ulum Kepohbaru, alumni 1996. Dan MA Bahrul Ulum Kepohbaru, lulus tahun 1999.

Isi pesannya seperti ini:

“Ya Tuhan...
Bila sujudku pada-Mu karena takut neraka.
Bakar aku dengan apinya.
Bila sujudku pada-Mu karena damba surga.
Tutup untukku pintu surga itu.
Namun bila sujudku demi Kau semata.
Jangan palingkan wajah-Mu
Aku rindu menatap keindahan-Mu
Aku rindu menatap keindahan-Mu.

#Syair Para Sufi#”

Setelah membaca status itu, langsung saya kirim komentar kepada Mahrus. “Subhanallah...  Benar-benar ikhlas, Mahrus.”

“Ya seperti ini, ocehanku. Baru ingat kepada Yang Menciptakan Kehidupan (Allah),” balasnya.

Saya belum tahu, yang ditulis Mahrus itu Syair indah karya siapa. Di akhir kalimat cukup ditulis “Syair Para Sufi.”

Syair itu saya baca berulang-ulang. Kemudian saya cermati. Dan saya renungkan. Tanpa terasa, air mata saya meleleh. Menangis sesenggukan sendiri di ruang tamu.

Aku menyadari bahwa, ibadah yang saya lakukan selama ini semata-semata hanya takut neraka. Dan ingin masuk ke syurgaNya Allah Swt. Selain itu, saya masih sering mengeluh atas ujian berupa sakit, kesulitan, kesedihan atau kekurangan yang terjadi pada diri saya. Saya juga sering protes kepada Allah. Meminta rizki lebih. Dan merasa kurang dengan rizki yang telah saya dapatkan.

Syurga dan neraka adalah mutlak hak Allah yang menentukan. Meski sebejat apapun akhlak manusia di dunia ini, pelacur sekalipun, misalnya. Jika Allah menghendaki, mereka bisa masuk syurga. Pun juga sebaliknya.

Kalaupun harus masuk neraka dengan ridha Allah Swt. Maka bara api neraka akan terasa dingin dan nikmat rasanya. Seperti halnya Rasulullah saw. Sewaktu Isra' wa Mi’raj, oleh Malaikat Jibril diajak jalan-jalan ke neraka dengan ridha Allah Swt. Rasulullah saw tidak merasakan panasnya api neraka sama sekali.

Tentang nikmat Allah Swt yang diberikan kepada kita. Sangat banyak. Bahkan, tanpa kita minta pun, Allah Swt sudah memberikan semuanya. Saking banyaknya, kita tidak akan pernah mampu menghitungnya.

Sebagimana Firman Allah dalam Quran:

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menghitung jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)

Tentang rizki. Sebenarnya Allah memberikan rizki kepada hambaNya dengan ukuran yang pas. Tidak lebih dan tidak kurang.

Sebagaimana Firman Allah Swt. dalam Quran:

“Dan Allah melebihkan sebahagian kalian dari sebagian yang lain dalam hal rezeki” (An-Nahl: 71).

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat“.  (Surat Asy-Syura: 27)

Itulah hasil perenungan saya. Setidaknya uraian saya di atas, bisa saya jadikan sebagai bahan untuk muhasabah diri.

***

Saya sangat penasaran dengan syair indah yang dikutip oleh teman baik saya itu. Untuk menenuhi dahaga saya akan ilmu. Saya coba tanya kepada Mbah Google. Dalam hitungan detik, pertanyaan yang menggelayut di benak saya terjawab sudah.

Ternyata syair indah itu adalah karya seorang Sufi bernama Rabiah al Adawiyah.

Penasaran siapa sebenarnya Rabiah al Adawiyah. Saya coba cari lagi di Google. Ketemu.

Berikut saya kutipkan siapa sebenarnya Rabiah al Adawiyah itu.

Siti Rabiah Adawiyah lahir di Basra pada 105 AH dan meninggal pada 185 H. Siti Rabiah Al Adawiyah adalah salah satu wanita Sufi yang mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk menyembah Allah.

Perempuan jelata yang jalan hidupnya tidak seperti wanita pada umumnya, mereka terisolasi di dunia mistik yang jauh dari hal-hal duniawi.

Tidak ada yang lebih dia cintai di dunia ini selain cintanya kepada Allah. Hidupnya sepertinya hanya untuk  Allah, tidak ada tujuan lain selain itu.

Rabiah pernah memproklamasikan bentuk penyerahan diri kepada Allah, ketulusan ibadahnya kepada Allah dalam beberapa syairnya.

"Jika aku menyembah Engkau karena takut api api-Mu, maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah Engkau karena menantikan surga-Mu, maka peluklah aku dari sana. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cintaku pada-Mu, maka beri aku pahala yang besar, berikan aku sekilas keagungan dan keagungan-Mu." (Rabiah Al Adawiyah). http://kumpulanartikelbaru.blogspot.com/

Dan syair-syair itu dinyayikan oleh Rafli dengan tajuk “Doa”. Suaranya merdu. Syairnya sangat indah. Saya baru saja mengunduhnya. Dalam format mp3.

----

Simorejo & Kepohbaru, 12 Juni 2018

Artikel Terpopuler

Soal Ulangan Harian Kelas 7

Berikut adalah soal ulangan harian Kelas 7 Semester genap Silahkan klik di bawah ini: Soal Ulangan harian

Artikel Terpopuler