Saturday, July 25, 2020

Stop Bilang Anakku Nakal

Dokumen pribadi: Zahro dan Azim

Semua orang pasti sepakat, jika melihat anak kecil pasti ada rasa senang dan cenderung ingin menggendong, mencium atau mencubitnya. Siapa yang tidak gemas ketika melihat si kecil dengan pipi bakpao, mata bening dan belok, bibir mungil nan manis, kulit lembut dan bau khas. Bahkan ada pula yang berusaha membuat agar anak kecil tersebut menangis. Sebab, tangisan anak kecil terdengar sangat merdu dan tampak lucu. Jika sudah menangis, orang tua akan menggendong, merayu dengan memberikan sesuatu agar tenang kembali.

Menurut para peneliti dari Yale University, seperti dilansir di detikhealth (28 Januari 2013). Setiap kali seseorang melihat atau menemukan sesuatu yang menggemaskan, logika akan menganggap hal tersebut harus diperlakukan dengan lembut dan dan penuh kasih sayang. Namun sebaliknya, sebagian kasus muncul perilaku agresif atau semia agresif seperti ingin mencubit atau membuat suara.

Rebecca Dyer, ketua peneliti menjelaskan, “perilaku agresif bisa disebabkan oleh efek ‘high-positive’ dari emosi yang sangat positif, adanya orientasi pendekatan dan rasa hampir kehilangan kontrol.” (dikutip dari Medindia, 28/1/2013)

Anak kecil dengan segala tingkahnya akan terlihat lucu. Semua orang yang melihatnya pasti dibuat tersenyum. Makan belepotan, menumpahkan makanan dan minuman itu hal biasa dan wajar. Memanjat kursi, menaiki meja menjadi hal yang lazim dilakukan. Membuat isi rumah berantakan adalah sesuatu yang sedap dipandang mata. Tembok yang semula bersih tiba-tiba terdapat lukisan abstrak yang memesona. Bicaranya ceplas-ceplos dan polos sangat merdu didengar oleh telinga. Ketika punya keinginan harus segera dipenuhi, tak bisa ditunda. Apabila perasaanya sedang tidak menentu dan tidak nyaman, akan diekspresikan dengan tangisan. Semua itu sukses menarik perhatian orang tua.

Namun, sebagian orang tua menganggap semua kegiatan yang dilakukan anak kecil itu tidaklah wajar. Akhirnya orang tua melarangnya, tidak boleh begini-begitu. Orang tua khawatir anaknya celaka, jatuh dan terluka. Karena naluri balita cenderung aktif, maka mereka tak mengindahkan larangan orang tua. Sehingga, orang tua menganggap bahwa hal itu disebut anaknya nakal.

Perlu diketahui, anak-anak cenderung sangat aktif, suka bergerak dan berlarian kesana-kemari. Memanjat, naik, turun. Ia tidak bisa atau jarang berdiam di satu tempat dalam waktu yang lama. Hal itu menunjukkan anak Anda adalah anak yang cerdas. Sebab ia banyak mencoba dan belajar dari aktivitas-aktivitas yang ia lakukan.

Hal itu dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw. dalam sabdanya.

“Aktifnya anak kecil akan menambah akalnya ketika dia dewasa nanti.” (HR. Tirmizi)

Menurut Muhammad Ali dalam Shalah al-Buyut fi Juhdi al-Nabi mengutip pendapat Imam Nawawi, bahwa aktifnya anak kecil (maksudnya kepekaan dan ketajaman instingnya) laksana burung gagak yang tangkas dan cepat. Keaktifan dan keratifitasnya adalah tanda kecerdasannya.

Sebaliknya, menurut Muhammad Said Mursi dalam kitabnya yang berjudul Fannu Tarbiyati al-Aulad fi al-Islam, anak pendiam yang suka menyendiri dan tidak terlalu aktif cenderung tumbuh menjadi anak yang pasif, lemah, dan takut mencoba hal-hal baru.

Bapak/ibu, mulai sekarang berhentilah mengatakan nakal pada anak. Berhati-hatilah mengucapkan kata-kata positif kepada mereka. Sebab, ucapan orang tua kepada anak adalah doa yang mustajab. Sebagai orang tua, sangat tidak ihlas jika dibilang anak kita nakal. Karena itu, jangan pernah mengatakan nakal kepada anak sendiri dan juga kepada anak-anak lainnya.

Simorejo, 26 Juli 2020

Oleh: Slamet Widodo
Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro

NB. Seharusnya artikel ini saya posting pada 23 Juli 2020, pas momen Hari Anak Nasional. Namun, tidak mengapa, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.  

Wednesday, July 22, 2020

Jangan Samakan Nol dengan Kosong


Banyak yang salah dalam menyebut (mengucapkan) angka 0 (nol). Nol dibaca kosong. Penyebutan itu jamak dilakukan saat mengeja angka, nomor telepon atau telepon genggam. 

Misalnya, nomor telepon 081359058xxx. Maka akan dieja menjadi: kosong, delapan, satu dan seterusnya. Harusnya, nol, delapan, satu dan seterusnya.

Hal itu bukan tanpa alasan. Penyebutan kosong pada angka nol yang jamak diucapkan itu memang pernah ada yang memberi contoh salah. Masih ingat film Saras 008 yang tayang di salah satu stasiun TV swasta? (Jika Anda pernah menonton film tersebut, berarti Anda sudah berusia). Film tersebut tayang perdana pada tahun 1998 hingga 2004. 

Masih ingat saat Saras berubah wujud menjadi Super Girl? Dia menyebut “Saras kosong, kosong, delapan...” Mengapa bukan “Saras nol, nol, delapan...” Tentu saja media televisi itu (yang bukan hanya menjadi tontonan tetapi juga tuntutan) memberi contoh yang salah.

Bukan hanya itu. Salah satu iklan perusahaan telekomunikasi pun turut menambah pemahaman salah kepada masyarakat. Iklan televisi tersebut membuat jingle yang sukses menghipnotis masyarakat hingga kini. Betapa tidak, jingle yang dihiasi dengan beberapa perempuan yang ber-skating-ria itu berhasil menembus alam bawah sadar kita. Sehingga jingle iklan itu masih terngiang hingga kini.

Begini bunyi jingle-nya: “Kosong, delapan, kosong, sembilan, delapan, sembilan empat kaliiii,” sembari dihiasi dengan beberapa perempuan yang ber-skating-ria. Jika angkanya ditulis menjadi seperti ini: 080989999. Nah, auto nyanyi, bukan? Hehehe. 

Pengertian nol dan kosong itu berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata kosong ternyata memiliki beberapa definisi, yaitu: tidak berisi; tidak berpenghuni; hampa, berongga; tidak mengandung arti; tidak bergairah; tidak ada yang menjabatnya, terluang; tidak ada sesuatu yang berharga (penting); tidak ada muatannya; tidak pandai, tidak cerdas. 

Contohnya: gelas yang tak ada isinya air, kopi atau teh disebut gelas *kosong*. Karena itu, isilah segera gelasnya. Saatnya mengisi kembali gelas itu. Mari ngopi sama saya. Nanti saya kasih cerita tentang asyiknya belajar matematika. Mau?

Lalu, bagaimana dengan kata nol? Menurut KBBI, nol memiliki makna sebagai berikut: bilangan yang dilambangkan dengan 0; taman kanak-kanak (TK) kelas persiapan sebelum memasuki tingkat pertama dalam urutan kelas; tidak ada kenyataan, omong kosong; dan tidak ada hasil.

Coba perhatikan dari kedua penjabaran definisi di atas. Jelas berbeda antara nol dengan kosong. Masing-masing kata mewakili dan memiliki maknanya sendiri-sendiri. Kata “kosong” cenderung digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan. Sementara kata “nol” merujuk pada sebuah bilangan.

Dalam ilmu matematika beda lagi. Kosong dalam Matematika merupakan himpunan tanpa anggota. Maknanya kurang lebih sama dengan nul atau nihil. Sementara itu, nol adalah angka yang berada di antara 1 dan -1. Posisi nol (angka 0) pun jelas terlihat dalam garis bilangan.

Masih mengeyel menyebut nol dengan kata kosong?

Insaflah wahai manusia jika dirimu khilaf.


Kepohbaru, 23 Juli 2020


Oleh: Slamet Widodo*)

*) Guru matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro

Tuesday, July 14, 2020

Jadilah Seperti Matematika


Sudah menjadi rahasia umum, matematika menjadi salah satu bidang mata pelajaran yang ditakuti banyak orang. Bukan hanya ditakuti, namun juga dibenci. Banyak alasan yang menyebabkan mereka benci terhadap permainan angka ini. Menurut mereka, belajar matematika itu sulit. 

Penyebab lainnya, pengalaman trauma yang dialami sejak duduk di bangku sekolah dasar. Bisa juga trauma dihukum guru gara-gara tak hafal perkalian, pembagian atau rumus-rumus.

Mereka bukan hanya benci pelajarannya, tetapi juga gurunya. Karena itu kebanyakan guru matematika itu tak memiliki fans. Bahkan, ada siswa dikala bertemu atau berpapasan dengan guru matematika, mereka memilih menghindar. Ada juga yang bilang, guru matematika seperti monster menakutkan. Hihihi… aum….

Tenang, meski Anda membenci matematika. Namun, ia sama sekali tak membenci Anda. Justru sebaliknya, ia ihlas membantu dan mempermudah Anda dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. Ia selalu menemani hari-hari Anda. Misalnya jual-beli, pengukuran, menentukan arah kiblat, waktu salat dan lain sebagainya. Bahkan ia pun berada di dalam laptop, komputer dan Android Anda. 

Matematika mengajarkan kita menjadi manusia yang baik. Sebagaimana sabda Nabi saw. “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Lalu Anda masih tak suka dengan matematika? Betapa jahatnya dirimu. Air susu kau balas air tuba. Huhuhuhu…. (emot nangis).

Kepohbaru, 14 Juli 2020

Oleh: Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Jodoh Menurut Ilmu Matematika

Foto diambil dari laman web Al-Khawarizmi, seorang ahli matematika, suatu ketika pernah ditanya mengenai kriteria wanita yang baik. Jawabann...