Monday, June 29, 2020

Sukses Itu...


Makna sukses dalam kamus Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti berhasil, beruntung. Jika mendapat imbuhan ke-an, menjadi ke-sukses-an memiliki arti keberhasilan dan keberuntungan.

Masing-masing orang memiliki definisi sukses yang berbeda-beda. Dikatakan sukses apabila seseorang mampu mendapatkan apa yang menjadi cita-citanya. Ada pula yang berpendapat sukses itu diukur dengan materi. Mereka yang dikatakan sukses apabila memiliki banyak harta. Namun pendapat itu dibantah oleh tokoh-tokoh dunia.

Bill Gates pendiri Microsoft mengatakan, sukses adalah guru yang payah, kesuksesan mendorong orang-orang cerdas untuk berfikir bahwa dirinya tak akan pernah kalah.

Sementara itu, Thomas Alva Edison seorang penemu dan pebisnis memiliki pendapat sukses adalah 1% inspirasi, 99% keringat.

Zig Zaglar penulis asal Amreika memiliki pendapat yang berbeda. Menurutnya, sukses adalah melakukan yang terbaik apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang kita miliki. Sukses adalah melakukan, bukan mendapatkan. Sukses adalah usaha, bukan kemenangan. Sukses adalah standar pribadi, meraih yang tertinggi yang ada di dalam diri kita, menjadi semua yang kita bisa. 

Ted Turner pendiri TBS dan CNN mengartikan sukses adalah saat kamu berperilaku dengan benar dan mampu menempatkan diri sebaik-baiknya.

Abah Makshum Alief, pembina Jamaah Istighotsah “Asmaul Haq” mengatakan, sesungguhnya di dunia tidak ada kata sukses. Sebab dunia ini adalah proses menuju negeri akhirat. Capaian-capain yang kita raih di dunia ini adalah estafet dari sebuah perjalanan hidup. Sukses yang sebenarnya adalah apabila manusia telah bertemu Tuhannya di surga kelak.

Dari berbagai pendapat tersebut bisa kita tarik kesimpulan bahwa sukses adalah proses usaha yang dilakukan manusia itu sendiri. 

Allah Swt. melihat pekerjaan dan usaha manusia, bukan hasil. Sebagaimana Firman Allah Swt. yang terdapat dalam Qur’an Surat At-Taubah ayat 105.

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada Allah lalu diberitakan kepada-Nya apa yang telah kamu kerjakan.”

Nah, bagaimana makna sukses menurut Anda?

Kepohbaru, 29 Juni 2020

Oleh: Slamet Widodo
Guru MTsN 3 Bojonegoro

Tuesday, June 16, 2020

JANGAN SIA-SIAKAN KESEMPATAN

Allah Swt. memberikan jatah waktu sama kepada semua manusia. Dalam sehari semalam ada 24 jam. Pas. Tidak lebih dan tidak kurang.

Sebagai buktinya adalah ditetapkannya salat fardu. Bagi mukmin. Sehari semalam ada lima waktu. Jadwalnya pas. Sama sekali tidak mengganggu aktivitas manusia.

Sebagaimana Firman Allah Swt. dalam Quran Surat An-Nisaa ayat 103.

“Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Apabila manusia mau memanfaatkan waktu dengan baik. Tentu tak ada waktu yang terbuang sia-sia.

Kalaupun ada orang yang mengatakan, dirinya tak bisa melaksanakan salat karena sibuk kerja atau hal lain. Itu hanya alasan saja.

Dan waktu menjadi salah satu nikmat Allah yang sangat berharga. Harus dijaga betul-betul. Sebelum akhirnya menyesal. Sebab, waktu dan kesempatan datangnya hanya sekali. Tidak bisa diulang untuk kedua kali.

Sebagaimana pesan Rasulullah saw.

“Jagalah lima hal sebelum lima hal. (1) Mudamu sebelum datang masa tuamu, (2) sehatmu sebelum datang masa sakitmu, (3) waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, (4) kayamu sebelum miskinmu, (5) hidupmu sebelum matimu.”

Pesan Rasulullah saw. Di atas jika kita renungkan, tentu memiliki makna yang sangat mendalam. Dan lima hal itu sangatlah penting dan berharga. Lebih berharga dibanding emas dan intan berlian.

Di sini saya akan mencoba mengulas dua poin saja. Tidak semuanya.

*_Jagalah masa muda sebelum masa tua._*

Mengapa masa muda harus benar-benar dijaga?

Sebab, masa muda adalah masa yang paling produktif bagi setiap manusia. Di masa itu, saatnya untuk belajar dengan tekun. Sebab tenaganya masih kuat. Fikirannya masih segar. Cita-citanya masih panjang.

Karena itu, sudah selayaknya, selagi masih muda, kita harus membiasakan diri untuk melakukan sesuatu hal yang baik dan positif. Sebab, kebiasaan masa muda akan terbawa hingga tua nanti.

Artinya, seperti apa gambaran masa tua seseorang bisa dilihat apa yang menjadi kebiasaannya di masa mudanya.

_*Jagalah waktu luang sebelum waktu sibuk datang*_

Betapa banyak waktu luang dan kesempatan yang kita miliki. Namun sayangnya, tidak kita manfaatkan dengan baik. Sering kali kita mengisi waktu dengan hal yang sia-sia.

Malam hari adalah waktu luang bagi seorang mukmin. Sebab, di siang harinya ia sibuk bekerja mencari rizki yang dijanjikan oleh Allah Swt.

Rasulullah saw pernah bersabda, bahwa “Malam itu panjang maka jangan membuatnya pendek (menyia-nyiakannya) dengan tidurmu dan siang itu terang jangan kau gelapkan dengan dosa-dosamu.”

Nah, belajar dari pesan-pesan Nabi di atas. Jika kita sudah meniatkan diri sebagai penulis. Tentu tak ada alasan untuk tidak menulis karena sibuk atau tidak sempat.

Selain menulis juga harus memperbanyak membaca buku. Seperti kata M. Husnaini, penulis asal Lamongan.

*Kuantitas tulisan diperoleh dengan terus nenulis.*
*Kualitas tulisan didapat hanya dengan membaca.*

Sesuatu hal yang tak diutamakan, meskipun itu remeh-temeh, maka hal itu akan terbuang sia-sia dalam hidup seseorang. Dan bisa menjadikannya merugi.

Wallahu a’lam...

Kepohbaru, 8 September 2019 M./8 Muharam 1441 H.

Oleh: Slamet Widodo
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Monday, June 15, 2020

Mencintai Allah vs Mencintai Manusia

Foto Istimewa: dok. Pribadi

Ketika kamu mencintai seseorang, kamu pasti merawatnya (serta menjaganya).
Kecuali Allah, jika kamu mencintai-Nya, Dia yang akan menjagamu.

(Sayid Machmoed BSA - @sayidmachmoed)

Cuitan pemilik akun twitter @sayidmachmoed ini sungguh indah untuk direnungkan. Maknanya begitu mendalam. Kita akan jadi penjaga (budak) terhadap orang yang kita cintai. 

Benar adanya, jika kita mencintai seseorang, sebagai contoh: keluarga (orang tua, istri, anak dan saudara). Maka kita wajib menjaganya dari sentuhan api neraka. Memberinya nafkah dengan cara yang halal. Mendidik dan membimbing mereka dengan ilmu agama, agar dekat kepada Allah Swt. Sebab, itu sudah menjadi komitmen kita sebagai pemimpin. Pemimpin yang bertanggung jawab atas keselamatan diri sendiri dan juga mereka.

Sebagaimana firman Allah dalam Quran Surat At-Tahrim ayat 6 yang artinya: 

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” 

Menjaga diri dan keluarga dari sentuhan api neraka bukan hanya menjadi tanggung jawab seorang laki-laki (suami). Tetapi juga menjadi tanggung jawab semua: istri dan juga anak. Serta seluruh anggota keluarga. Sebab, kita semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. 

Sebagaimana sabda Nabi saw.  
“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi)

Namun sebaliknya, jika kita mencintai Allah Swt. justru Dia akan selalu menjaga kita. 

Sebagaimana firman Allah yang artinya,

“Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (QS. Al-Anfal: 64)

Di dalam ayat lain, 

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya.” (QS. Az-Zumar: 36)

Bentuk cinta kepada Allah adalah dengan bertakwa dan bertawakal kepada-Nya. Yakni melaksanakan segala perintah dengan menjauhi seluruh larangannya dengan ihlas. 

Wallahu a’lam...

Kepohbaru, 
23 Syawal 1441 H.
15 Juni 2020 M.

Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Wednesday, June 10, 2020

Kunci Bahagia

Dokumen Pribadi

Menulis adalah merekam perjalanan. Mengabadikan kisah. Memetik hikmah dari setiap yang kita alami. Perjalanan dan kisah itu akan menjadi sejarah. Lembaran-lembaran itu nantinya dapat dibuka kembali oleh penulis itu sendiri atau orang lain. Sehingga dapat dijadikan pelajaran dalam menjejaki langkah pada masa yang akan datang.

***

Rabu pagi, 10 Juni 2020, saya berkesempatan menyertai tetangga sebelah yang melangsungkan akad nikah. Ia dinkahi seorang perjaka yang berasal dari Kedungpring, Lamongan. Akad nikah yang dilaksanakan di ruang pertemuan kantor urusan agama (KUA) kecamatan setempat itu berjalan lancar. Prosesi akad nikah berlangsung sangat sederhana. Tak lebih dari sepuluh orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Semua pakai masker. Hal itu dilaksanakan karena mengikuti protokol kesehatan dalam pencegahan Covid-19. Meski begitu,  tak mengurangi khidmatnya proses ijab kabul.

Usai prosesi ijab kabul, Pak penghulu memberikan beberapa nasehat kepada kedua pengantin baru itu. Walaupun nasehat itu ditujukan kepada kedua mempelai, namun hakekatnya juga untuk pengantin-pengantin lawas yang hadir pada saat itu. Agar bukan hanya saya yang mendapatkan nasehat itu, maka saya tuliskan kembali nasehat itu untuk pembaca sekalian.

“Setiap kali ada pengantin baru, doa yang umum diucapkan adalah: ‘semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah warrahmah.’”

“Makna sakinah adalah _ayem tentrem_ (hidup tenang dan damai). Sakinah diturunkan Allah kepada keluarga yang _mbeneh_ (benar). Mbeneh maksdunya, suami dan istri tahu tugas dan kewajibannya masing-masing lalu dijalankan dengan penuh tanggung jawab.”

“Suami dan istri harus saling mendoakan dalam kebaikan. Jika ada suami atau istri yang berbuat tidak baik, maka yang salah adalah diantara keduanya. Sebab mereka tak saling mendoakan dalam kebaikan. Bisa jadi doanya hanya asal-asalan.”

“Wong wedok kudu isa dadi daringan. Wong lanang aja sampek buka daringan.” (Orang perempuan –istri- harus bisa jadi tempat menyimpan –harta suami-. Suami jangan sampai membuka tempat menyimpan harta).” 

Dijelaskan oleh Pak Penghulu, suami harus bekerja dengan giat. Tak boleh bermalas-malasan. Hasil nafkah dari suami diberikan kepada istri untuk dibelanjakan sesuai dengan kebutuhan dan disimpan.

“Setiap keluarga pasti diuji oleh Allah Swt. Masing-masing keluarga mendapat ujian yang berbeda-beda. Sesuai dengan tingkat keimanan mereka. Tugas suami dan istri adalah harus mampu menyelesaikan permasalahan tersebut. Jika ada masalah, namun keluarga tersebut tak bisa menyelesaikannya, maka yang terjadi adalah perselisihan. Jika tak kunjung mendapat solusi maka akhirnya terjadi pecahan.”

“Ada tiga tipe keluarga: Keluarga sukses dan bahagia. Keluarga sukses tapi tidak bahagia. Keluarga bahagia.”

Pak Penghulu memberi penjelasan, kebanyakan orang menganggap tolok ukur bahagia adalah jika memiliki banyak harta. Belum tentu. Banyak orang kaya, tapi hidupnya tak bahagia, bahkan berantakan. Anak-anaknya akhlaknya rusak. Suami-istri bercerai. Dan banyak lagi contohnya.

Kunci bahagia itu adalah banyak bersyukur. Selain itu, biasakan suami-istri makan sepiring berdua. Saling menyuapi satu sama lain. Minum segelas berdua. Walaupun makan nasi, lauknya cukup ikan asin dan sambel, maka akan terasa nikmat. Karena makanan itu penuh dengan keberkahan dari Allah Swt. 

Itulah wujud dari kerukunan rumah tangga dan itu pula yang menjadi kunci tercurahnya rizki dari langit. Rukun.

Ia mencontohkan, Nabi saw. selalu makan dan minum berdua bersama dengan istri-istri beliau. Saling suap-suapan. Gelas bekas minum Nabi saw juga diminum oleh istri-istri beliau. Nabi saw. selalu romantis kepada keluarga.

Keluarga pengantin lawas agar rumah tangganya selalu sakinah mawaddah warrahmah, maka  harus banyak-banyak membaca, ngaji dan mengingat kembali masa-masa pengantin baru. 

Saya doakan betul, bagi yang masih jomlo, agar segera dipertemukan dengan jodohnya. Tentu atas pilihan Allah Swt. Sebab baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah. 

Perlu diketahui, bahwa jodoh, rizki dan maut adalah di tangan Allah. Namun harus tetap berusaha semaksimal mungkin. Harus tetap melalui proses. Karena Allah sangat menyukai proses. 

Wallahu a’lam...

---- 

Simorejo, 
18 Syawal 1440 H.
10 Juni 2020 M.

Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Wednesday, June 3, 2020

Cerdas Memaknai Solidaritas

(Refleksi Hari Lahir Pancasila)


Sering kita mendengar ungkapan “solidaritas tanpa batas”. Ungkapan itu jamak ditulis dan diucapkan oleh sebagian besar pemuda. Bagi mereka, makna solidaritas ini menjadi sesuatu hal yang sakral. Kata itu menjadi prioritas dalam sebuah kelompok atau organisasi yang mereka ikuti. Tujuannya, tak lain agar organisasi tersebut menjadi lebih bersatu dan kompak. Sehingga mereka rela berkorban apa pun demi organisasi yang mereka banggakan itu.

Agar dapat lebih bersatu untuk kepentingan bersama, hal yang harus dimiliki oleh setiap kelompok/organisasi adalah satu rasa, satu jiwa, satu pikiran dan satu tujuan. Namun ironi, sebagian pemuda kebablasan dalam memahami makna solidaritas ini. Pemahaman yang salah itu yang menjadi penyebab rusaknya moral para pemuda. Padahal nantinya mereka akan menjadi pemimpin bangsa di masa yang akan datang.

Pengertian yang jamak kita temui adalah, apabila ada salah satu anggota kelompok terlibat dalam sebuah masalah dengan kelompok lain. Maka anggota lain dalam kelompok tersebut akan membelanya. Tak peduli benar atau salah. Semua itu dilakukan atas nama solidaritas. 

“Jika ada salah satu anggota (saudara) yang jatuh, kita harus jatuh juga agar bisa merasakan apa yang ia rasakan.” 

Itu adalah makna solidaritas yang salah kaprah. Seharusnya bukan begitu. Agar lebih bernilai positif. Maka hal yang harus dilakukan adalah memotivasi saudara yang terjatuh supaya ia bisa kembali bangkit.

“Jika ada salah satu anggota (saudara) yang jatuh, mari kita angkat bersama agar ia bisa bangun kembali dari tempat tersebut.”

Parahnya lagi, apabila ada pemikiran semua yang di luar kelompoknya adalah musuh. Pemikiran seperti ini apabila tertanam di dalam jiwa para pemuda maka akan berakibat fatal. Hal inilah yang menjadikan perpecahan antar warga negara. Dan tidak sesuai dengan nilai sila ketiga Pancasila: Persatuan Indonesia.

Sepertinya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila mulai luntur di dalam jiwa bangsa ini. Mereka cenderung mementingkan kelompoknya masing-masing.

Apakah ini salah satu akibat dihapuskannya pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di bangku sekolah? Entah.  

Sebagai pemuda, seharusnya kita memiliki pemikiran yang berorientasi pada masa yang akan datang. Pemuda yang bisa merajut kembali persatuan dan kesatuan bangsa yang mulai robek ini. Sebab, pemuda adalah calon pemimpin masa depan. Seperti apa nasib Indonesia mendatang, menjadi tanggung jawab kita bersama.   

Kita harus bisa menghargai perbedaan. Nilai-nilai Pancasila harus betul-betul tertanam di dalam jiwa kita. Kita adalah saudara sebangsa dan setanah air, walaupun beda organisasi atau kelompok. Tentunya setiap kelompok memiliki tujuan baik, yakni memajukan bangsa. Justru apabila masing-masing kelompok bekerja sama, maka akan terwujud _baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur._    

--- 

Simorejo, 
10 Syawal 1441 H
2 Juni 2020 M.

Oleh: Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Istimewanya Salat Isya’ dan Subuh


Saat buka-buka twitter, ada sebuah cuitan yang menarik perhatian saya. Pemilik akun @fakhrulazmi99 (Fakhrul Syakirin – Bendera Malaysia) membuat cuitan tentang hadits Rasulullah Saw. 

Rasulullah saw. bersabda:
“Ada tiga suara yang dicintai Allah Swt. Pertama, Suara ayam jantan yang berkokok menjelang waktu Subuh. Dua, suara orang yang membaca Al-Quran. Dan tiga, suara orang yang memohon ampun di waktu Subuh.”

Begitu tulisnya. Tak dilengkapi perawi hadits.

Salat Subuh, walaupun dua rakaat, namun sangat berat dikalukan. Karena itu Allah memberi motivasi kepada hamba-Nya, salat dua rakaat sebelum Subuh, nilainya seperti dunia dan seisinya. Tentu, pahala salat Subuh juga sangat besar dan hanya Allah yang tahu.

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, jika ingin mengetahui jumlah orang Islam, lihatlah saat salat Maghrib. Tetapi jika ingin mengetahui muslim yang berkualitas, lihatlah pada saat salat Subuh. 

Salat Subuh menjadi pembeda antara muslim yang sebenarnya dengan orang munafik. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.

“Sesungguhnya dua salat ini (Subuh dan Isya’) adalah salat yang  berat bagi orang munafik. Sesungguhnya, apabila mereka mengetahui apa yang ada di dalam salat Subuh dan salat Isya’ maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak. (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).

Mari berusaha istikamah melaksanakan salat Subuh berjamaah di masjid. Dan juga mari mengajarkan anak-anak dan keturunan kita menjaga salat lima waktu sejak dini. 

Ingat, satu kali teladan lebih baik dari seribu nasehat!

Wallahu a’lam...

Simorejo,
11 Syawal 1441 H.
3 Juni 2020 M.


Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Jodoh Menurut Ilmu Matematika

Foto diambil dari laman web Al-Khawarizmi, seorang ahli matematika, suatu ketika pernah ditanya mengenai kriteria wanita yang baik. Jawabann...