Monday, April 22, 2019

Gus Baha' Cerita tentang Doa Nabi Dzunnun


Oleh: Slamet Widodo, S.Pd
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Sabtu Pagi, 20 April 2019. Sekira pukul 09.30 WIB. Di ruang laboratorium komputer 3. Tempat saya bertugas. Saya, Kiai Mahrus dan Pak Sudarmono berada di dalamnya. Beliau berdua rabahan, untuk istirahat sejenak. Sembari menunggu azan Zuhur berkumandang.

Sementara saya menyiapkan administrasi UNBK. Yang dilaksanakan Senin, 22 April 2019. Membuat daftar hadir, berita acara, jadwal dan lain sebagainya.

Tak lama berselang. Pekerjaan saya hampir selesai. Semua kebutuhan administrasi sebagian besar sudah saya buat. Rasa lelah pun mendera. Untuk sekedar meluruskan punggung, saya pun ikut rebahan di lantai yang beralaskan karpet hijau. Di antara sela-sela meja tempat puluhan komputer diletakkan.

Saat rebahan dan memejamkan mata barang sejenak. Kiai Mahrus, sambil memutar video pengajian Gus Baha' di Youtube. Entah tema apa yang dibahas. Saya tak mengikuti ngaji itu dari awal. Saya fokus pada pekerjaan. Sehingga kurang fokus pada pengajian itu.

Sayabaru mengikuti (fokus mendengarkan) pengajian itu, saat Gus Baha' bercerita tentang Nabi Dzannun atau Nabi Yunus as. Dengan gaya khasnya, santai tapi serius, Gus Baha' berkisah tentang Nabi yang pernah ditelan ikan itu.

***

Pada masanya, Yunus as. diutus Allah Swt. untuk menyampaikan risalah kepada kaumnya. Di sebuah kampung bernama Ninawa. Di daerah Mosul, Irak. Semua penduduknya telah berpaling dari jalan Allah yang lurus. Mereka menyembah patung dan berhala.

Tugas Yunus as. adalah memberi petunjuk dan mengajak mereka kembali ke jalan yang lurus. Yakni menyembah Allah Swt. Bukan yang lain.

Namun apa yang terjadi? Ternyata seluruh kaum Yunus as. menolak ajakannya dan ingkar kepada Allah Swt. Mereka tetap memilih menyembah patung dan berhala. Mereka tetap memilih kafir. Bukan hanya itu. Mereka juga mengolok-olok dan menghina Nabi Yunus as.

Melihat kelakuan kaumnya itu, akhirnya Yunus as. marah. Dan tidak mengharapkan lagi keimanan kaumnya itu.

Kemudian Allah Swt. pun mewahyukan kepada Yunus as. untuk memberitahukan kepada kaumnya, bahwa Allah akan mengazab mereka. Karena sikap mereka itu.

Lalu Yunus as. menyampaikan perihal azab itu kepada kaumnya dan mengancam mereka dengan azab Allah swt. Kemudian ia pergi meninggalkan mereka.

Kala itu, kaum Yunus as. telah mengetahui, bahwa Yunus as. telah pergi meninggalkan mereka. Sehingga mereka yakin, azab akan turun dan bahwa Yunus adalah seorang nabi. Karena itu, mereka segera bertobat kepada Allah Swt., kembali menyembah kepada-Nya, dan menyesali perbuatan mereka.

Pada saat itu, kaum lelaki, wanita, dan anak-anak menangis karena takut azab yang menimpa mereka. Lalu mereka berdoa dengan suara keras kepada Allah Swt. agar azab itu diangkat dari mereka. Saat Allah Swt. melihat tulusnya tobat mereka, maka Allah Swt. menghilangkan azab itu dari mereka serta menjauhkannya. Allah Taala berfirman,

“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 98)

Setelah peristiwa itu, Yunus as. tetap meninggalkan kampung dan kaumnya karena marah. Padahal Allah Swt. belum mengizinkannya.

Yunus as. pergi ke tepi laut dan menaiki kapal. Tanpa sepengetahuan para penumpang dan nahkoda kapal. Pada saat Yunus as. berada di atas kapal, tiba-tiba ombak laut menjadi besar dan dahsyat. Angin menjadi kencang dan membuat kapal menjadi terombang-ambing, oleng. Hingga hampir saja tenggelam.

Mengingat kondisi kapal nakhoda dan penumpang kapal segera mengambil inisiatif. Sebagian barang-barang berat yang ada di kapal itu dilempar ke laut. Untuk meringankan beban. Namun ternyata, kapal tetap saja oleng dan hampir tenggelam.

Namun, kapal itu tetap saya tidak terombang-ambing, oleng dan hampir tenggelam. Nakhoda dan para penumpang kapal tersebut berdiskusi. Untuk mengurangi beban kapal, harus ada satu penumpang yang rela untuk terjun ke laut. Semua penumpang tidak ada yang mau. Kemudian dilakukan pengundian. Siapa pun yang mendapat undian, harus terjun ke laut.

Ternyata undian itu jatuh kepada Yunus as. Undian tersebut diulang hingga tiga kali. Hasilnya tetap sama. Dan lagi-lagi Yunus as. lah yang mendapatkan undian itu. Artinya, Yunus as. harus rela terjun ke laut. Kemudian Yunus as bangkit dan melepas bajunya, kemudian melemparkan diri ke laut.

Tentunya Allah Swt. tidak rela jika seorang utusan dan kekasih-Nya mati di tengah lautan. Bersama itu pula, Allah Swt. mengirimkan seekor ikan besar dan mengilhamkan kepada ikan itu untuk menelan Yunus as. Dan tetap menjaganya agar tubuhnya tidak robek atau bahkan luka sedikit pun. Yunus as. pun tinggal di dalam perut ikan itu dalam beberapa waktu dan dibawanya mengarungi lautan.

Menyadari dirinya berada di dalam perut ikan yang gelap gulita itu. Yunus as. menyesal telah berbuat salah dan melanggar perintah Allah Swt.

Kini Yunus as. telah berada dalam tiga kegelapan; kegelapan perut ikan, kegelapan lautan, dan kegelapan malam.

Maka di dalam kegelapan perut ikan itu Yunus as. berkata kepada dirinya sendiri. Kalau pun harus mati di dalam perut ikan itu, ia ingin mati dalam keadaan bertasbih dan memohon ampun kepada Allah Swt.. Maka Yunus as. berdoa:

“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala,

“Dan (ingatlah kisah) Dzunnun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, “Bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” –Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiyaa’: 87-88)

Kemudian Allah Swt. memerintahkan ikan itu agar memuntahkan Yunus as. ke pinggir pantai. Lalu Allah swt. menumbuhkan sebuah pohon sejenis labu yang memiliki daun yang lebat. Pohon itu dapat menaungi Yunus as. dan menjaganya dari panas terik matahari.

Sebagaimana firman Allah Swt.,

“Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.– Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.” (QS. ash-Shaaffaat: 145-146)

Ketika Yunus as. dimuntahkan dari perut ikan yang keadaannya seperti anak burung yang telanjang dan tidak berambut. Lalu Allah menumbuhkan pohon sejenis labu, dimana ia dapat berteduh dengannya dan makan darinya. Selanjutnya pohon itu kering, lalu Yunus menangis karena keringnya pohon itu. Kemudian Allah berfirman kepadanya, “Apakah kamu menangis karena pohon itu kering. Namun kamu tidak menangis karena seratus ribu orang atau lebih yang ingin engkau binasakan.”

Selanjutnya, Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan Yunus as. agar kembali kepada kaumnya untuk memberitahukan mereka, bahwa Allah Ta’ala telah menerima tobat mereka dan telah rida kepada mereka. Maka Yunus as. melaksanakan perintah itu. Ia pergi mendatangi kaumnya dan memberitahukan kepada mereka wahyu yang diterimanya dari Allah Swt.

Kaumnya pun telah beriman dan Allah memberikan berkah kepada harta dan anak-anak mereka, sebagaimana yang diterangkan Allah dalam firman-Nya,

“Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.–Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS. ash-Shaaffaat: 147-148)

***

Tentang doa Nabi Yunus as., Rasulullah saw. bersabda,

“Doa Dzunnun (Nabi Yunus as.) ketika di perut ikan adalah “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Sesungguhnya tidak seorang muslim pun yang berdoa dengannya dalam suatu masalah, melainkan Allah akan mengabulkan doanya.” (HR. Tirmidzi).

***
Artikel ini saya tulis, karena saya mengalami dan merasakan sebuah pengalaman yang menurut saya luar biasa. Pengalaman itu saya alami bersama teman-teman pada Jumat Wage, 19 April 2019 malam. Di musala “Nur Alief” Kradenanrejo, Kedungpring, Lamongan.

Kisah tentang Nabi Yunus as. itu saya dapatkan dari berbagai sumber di internet.

----
Kepohbaru, 23 April 2019

Wednesday, April 10, 2019

Milenial Ayo Nyoblos, Jangan Bolos

Oleh: Slamet Widodo, S.Pd
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Sumber gambar: katainisama.com

Saat ini sudah bulan April 2019. Bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia. Sebab, di bulan ini, rakyat Indonesia tengah menyelenggarakan pesta demokrasi. Pesta untuk memilih secara langsung Presiden dan wakil presiden, Anggota Legislatif (DPR RI dan DPRD) dan juga anggota DPD. Yang akan memimpin Indonesia selama lima tahun ke depan. Seperti apa wajah, corak dan warna Indonesia lima tahun ke depan, akan ditentukan dalam sehari. Yakni pada tanggal 17 April 2019 mendatang. 

Hari itu menjadi hari yang sangat penting untuk menentukan nasib bangsa Indonesia lima tahun ke depan. Oleh sebab itu, partisipasi rakyat dalam menyukseskanj pemilu tersebut sangat dibutuhkan. Caranya dengan datang ke TPS, dan memilih salah satu calon sesuai dengan pilihannya masing-masing. Sukses dan tidaknya pemilu ini berada di tangan rakyat. 

Menurut Peneliti Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indonesia, Andrian Habibi, salah satu indikator suksesnya pemilu adalah rendahnya angka golput (golongan putih: sebutan bagi warga negara yang tidak menyalurkan suaranya saat pemilu).

Peran generasi Milenial tak kalah pentingnya dalam menyukseskan pemilu ini. Betapa tidak, seperti yang diberitakan www.brilio.net, berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih Milenial mencapai 70 juta-80 juta jiwa dari 193 juta pemilih. Artinya, sekitar 35-40 persen memiliki pengaruh besar terhadap hasil pemilu dan menentukan siapa pemimpin di masa mendatang.

Pantas saja, para politisi berusaha merayu dan memikat hati generasi Milenial, agar memilih mereka. Kaum milenial adalah ladang basah bagi mereka. Meski usia para politisi itu sudah tidak Milenial lagi. Namun, dalam kampanye mereka macak menjadi Milenial. Dan mengklaim diri dan kubunya sebagai sosok paling Milenial.

Namun, kesan negatif telah tersemat bagi generasi yang lahir di atas tahun 1980-an ini. Mereka dicap sebagai generasi yang acuh terhadap perkembangan politik di negaranya. Mereka cenderung memilih cara dan gayanya sendiri. Dan sering memilih golput dalam pemilu. Hal itu bukan tanpa alasan. Mereka cenderung memiliki tingkat kepercayaan rendah pada politisi. Selain itu juga sinis terhadap berbagai lembaga politik dan pemerintahan. Semua itu disebabkan karena ulah politisi yang menyajikan pendidikan politik yang menjijikkan kepada rakyat. 

Di sisi lain, ada sebuah studi yang membantah anggapan di atas. Studi tersebut menyebutkan bahwa generasi muda adalah kelompok yang dinilai paling peduli terhadap berbagai isu politik (Harris, 2013).

Pendapat yang kedua ini, sangat logis. Terbukti saat ini banyak politisi muda yang turut bertarung merebut hati rakyat. Dengan memajang foto terbaik dirinya di pinggir-pinggir jalan. Untuk menduduki kursi di DPR RI, DPRD Propinsi dan kabupaten/kota. Mereka mengklaim akan sanggup dan mampu mengemban amanah rakyat. Akan siap menyuarakan penderitaan rakyat. Dan janji-janji manis atas nama rakyat. Setidaknya meraka telah bertekad berjuang untuk kemajuan bangsa dan negara tercinta ini. 

Saya teringat dengan pesan Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno: “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”

Pesan itu memiliki makna bahwa generasi muda adalah generasi yang penuh potensi. Generasi dengan semangat yang berkobar-kobar. Mereka sebagai agent of change (agen perubahan) sosial. Mereka adalah harapan dan tumpuan bangsa Indonesia di masa mendatang. 

Ayolah para pemuda, kini saatnya mengerahkan kekuatan baik tenaga dan pikiran, berjuang untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa. 

Satu pesan John F. Kennedy, “Jangan pernah bertanya apa yang diberikan negara kepadamu, namun bertanyalah apa yang sudah kami berikan untuk negara.”

Untuk itu, ayo datanglah ke tempat pemungutan suara (TPS) terdekat. Gunakan hak suaramu untuk memilih Presiden dan wakilnya serta anggota legislatif pada pemilu 17 April mendatang. Itu adalah salah satu wujud pengabdianmu terhadap negara ini. 

----
Kepohabaru, 10 April 2019

Jodoh Menurut Ilmu Matematika

Foto diambil dari laman web Al-Khawarizmi, seorang ahli matematika, suatu ketika pernah ditanya mengenai kriteria wanita yang baik. Jawabann...