Wednesday, March 20, 2019

Khutbah Idul Fitri: Menjaga Kesitiqomahan Ibadah Setelah Ramadhan

Oleh : Slamet Widodo
(Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Assalamualaikum Wr wb

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا لااله الاالله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Jemaah Shalat Idul Fitri, masjid Nurul Islam Bulu Simorejo yang dirahmati Allah Swt.
Melalui mimbar yang mulia ini. Saya wasiat untuk diri saya sendiri dan juga kepada jamaah semua. Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kita kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya takwa. Yaitu, dengan menjalankan semua perintah dan sekuattenaga menjauhi apa pun yang dilarang-Nya. Sebab, dengan takwa, kita akan mendapatkan imbalan surgadi akhirat kelak. Amin.


الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Ma’asiral muslimin Rahimakumullah
Patut kiranya pada kesempatan ini,  kita bersyukur kepada Allah Swt. dengan mengucap Alhamdulillah Robbil ‘alamin. Sebab, dalam setiap harinya dan khususnya hari ini, nikmat Allah Swt. yang telah diberikan kepada kita begitu banyak. Karena saking banyaknya, sampai-sampai kita tidak akan peenah bisa mampu menghitungnya.
Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S.Ibrahim: 34
وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ ﴿٣٤

"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)."
Terlebih nikmat itu berupa iman, Islam, sehat dan sempat. Sehingga kita ditakdirkan oleh Allah Swt. Bisa berkumpul di masjid yang mubarak ini. Tidak lain, untuk merayakan Idul Fitri dan melaksanakan salat Idberjamaah.
Selawat dan salam kita sampaikan kepada Kanjeng Nabi Muhammad saw. Sebab, beliaulah pembawa risalah cahaya Islam. Sehingga dengan hidayah Allah Swt. kita bisa mengenal Allah dan Rasul-rasul-Nya.
Meskipun tempat kita jauh dari Negeri Arab. Dimana Rasulullah pertama kali diutus untuk menyampaikan cahaya Islam di negeri itu. Namun, atas jasa para Sahabat, tabiin, tabiit tabiin, Waliyullah dan para Alim Ulama’, kita bisa merasakan nikmatnya cahaya iman dan Islam.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Ma’asiral muslimin Rahimakumullah
Pagi ini, atas izin Allah, kita bisa berkumpul di Masjid ini untuk merayakan hari Raya Idul Fitri dalam keadaan sehat walafiat, aman dan damai.
Sejak semalam, mulai terbenamnya matahari sebagai pertanda akhir bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal, sampai hari ini. Seluruh penduduk bumi ini, semua mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil. Hal ini dilakukan sebagai ungkapan bahagia dan rasa wujud syukur kepada Allah Swt. Lantaran mereka semua telah ber-Idul Fitri.
Sebagimana firman Allah Swt dalam Quran Surat Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴿١٨٥
185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Perayaan Idul Fitri adalah hari perayaan umat Islam atas keberhasilannya dalam melaksanakan perintah Allah, yakni puasa. Untuk menahan hawa nafsu (dari makan, minum, berhubungan intim antara suami dan istri, sertahal-hal yang membatalkannya di siang hari) selama sebulan penuh.
Fitri yang artinya adalah suci. Jadi pada hari ini, semua umat Islam kembali pada posisi awal. Yakni seperti bayi yang baru saja dilahirkan oleh sang ibu. Suci, putih dan bersih. Tanpa noda dan dosa. Dan mendapat gelar Muttaqin (orang yang bertakwa).
Sebagaimana dijelaskan Allah Swt. dalam Quran Surat Al-Baqarah ayat183: bahwa tujuan diperintahkannya berpuasa adalah untuk mencapai derajat Muttaqin.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٨٣﴾
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"(Q.S.Al Baqarah:183)
Lalu, apa ciri-ciri orang yang bertakwa? Dijelaskan Allah Swt dalam QS Ali Imron ayat 134:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ ﴿١٣٤﴾
"(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,"
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Ma’asiral muslimin rahimakumullah
Seperti yang dijelaskan Allah Swt. dalam Firman-Nya di atas. Bahwa puasa adalah untuk mencapai derajat Muttaqin (bertakwa). Untuk mencapai target tersebut, tentu ada proses dan juga ada sebuah sarana pendukungnya.
Sarana pendukung itu adalah berupa Madrasah/sekolah/universitas/Pondok Pesantren untuk belajar dan berproses dalam mencapai target takwa. Sarana itu bernama Ramadhan.
Maka, bulan Ramadhan adalah sebagai madrasah/sekolah/universitas/Pondok Pesatren sarana untuk belajar dan menmpa diri.
Ya, selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan kemarin, kita semua telah belajar, berlatih dan menempa diri. Ada banyak jenis ibadah yang telah kita lakukan, baik dilakukan di Masjid Nurul Islam Bulu Simorejo, Musholla dan di rumah masing-masing. Selain ibadah wajib, juga ibadah sunah. Tujuannya hanya satu. Yakni untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kegiatan itu diantaranya adalah:
1) Puasa di siang hari: ibadah ini bertujuan untuk berlatih menahan hawa nafsu.

2) Shalat tarawih secara berjamaah di masjid dan musholla.
Kegiatan ini cukup diminati jamaah. Terbukti, setiap malam selama bulan Ramadhan, para jamaah memenuhi shaf-shaf masjid dan mushalla.Untuk mengikuti shalat sunah yang hanya ada pada bulan Ramadhan ini.

3) Tadarus Al Qur’an.
Membaca kalam-kalam ilahi ini dilaksanakan selama satu bulan penuh, pagi, siang dan malam. Baik dimasjid, musholla dan di rumah.

4) Shalat lail dan i’tikaf.
Saya sangat bersyukur dan bahagia melihatnya. Sebab, di malam hari selama bulan Ramadhan, terutama sepuluh malam terakhir. Masjid Nurul Islam selalu ramai dipenuhi jamaah untuk melaksanakan i’tikaf dan shalat lail. Bukan hanya orang dewasa saja, tetapi juga anak-anak (santri TPQ Nurul Islam Bulu Simorejo) yang dibimbing langsung oleh Sutadz M. Askur Rohman.

5) Bermunajat dan memohon ampun kepada Allah Swt. Dalam setiap saat atas segala dosa yang telah kita perbuat.

6) Ngaji bareng ustadz dari luar kampung.
Kegiatan ini dilaksanakan pada setiap minggu sore dan malam Nuzul Qur’an. Tujuan utamanya adalah menambah ilmu. Terutama ilmu untuk bekal dan tata cara beribadah kepada Allah Swt. Dan Alhamdulillah, jamaah yang mengikuti selama kegiatan cukup banyak.

Dalam kegiatan ini, Lagi-lagi pemuda mengambil peran penting. Menjadi garda terdepan. Demi suksesnya acara tersebut. Dan kegiatan tersebut, dengan izin Allah, terbukti sukses.

7) Memberi ta’jil untuk para jamaah yang ada masjid dan makanan ringan (jaminan) untuk kegiatan tadarus.

8) Membayar infaq dan zakat fitrah untuk mensucikan harta dan diri untuk menyempurnakan ibadah puasa kita di bulan Ramadahan ini.


9) Dan satu lagi, setiap shalat jamaah lima waktu selama bulan ramadhan, selalu dipenuhi para jamaah. 

Itu adalah sedikit dari banyak kegiatan dan ibadah yang telah kita lakukan selama bulan Ramadhan. Mulai dari ana-anak, Para pemuda dan orang dewasa bersemangat untuk mengadakan dan mendukung penuh kegiatan tersebut. Dukungan itu baik berupa harta benda, tenaga dan juga pikiran. Semua itu dilakukan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dan juga untuk memakmurkan masjid.

Semoga kita semua temasuk orang-orang yang mendapatkan naungan dari Allah Swt.

Sabda Rasulullah saw. Yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu ,dari Nabi Shallallahu ‘alaihiwasallam, Beliau Shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,

“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:

1) Imam yang adil,
2) Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh,
3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid,
4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya,
5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan
6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta
7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”

Haditsinishahih, diriwayatkan oleh:
1. Al-Bukhari (no. 660, 1423, 6479, 6806),2. Muslim (no. 1031 (91)),

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Ma’asiral muslimin rahimakumullah
Sejak hari ini, Ramadhan bulan penuh berkah, bulan penuh pengampunan, bulan diturunkannya Al Quran, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya sama dengan seribu bulan, telah berlalu. Ramadhan akan pergi meninggalkan kita. Berganti Syawal dan selama sebelas bulan ke depan.
Lalu pertanyaannya sekarang adalah: Apakah setelah Ramadhan berlalu, ibadah-ibadah yang telah kita kerjakan dengan penuh semangat di bulan Ramadhan, akan tetap kita jaga dan kerjakan di sebelas bulan berikutnya? Ataukah sebaliknya. Setelah Ramadhan pergi, semangat kita juga pergi. Masjid dan mushalla kembali sepi? Apakah kita sudah memohon ampun kepada Allah Swt? Apakah kita bias menjamin, kita akan bertemu lagi dengan Ramadhan yang akan datang?
Kita semua adalah alumni (lulusan) madrasah Ramadhan. Kita semua telah lulus dan keluar dari Madrasah yang luar biasa hebat. Selama sebulan penuh kita belajar dengan penuh semangat. Kini, di bulan Syawal dan sebelas bulan kedepan, kita harus tetap semangat menjaga ibadah-ibadah yang telah kita laksanakan kemarin, selama satu bulan penuh. Kita harus terus memakmurkan masjid. Kita harus mempersiapkan generasi muda sebagai generasi penerus untuk memakmurkan masjid.
Dan tentu, kita sangat berharap kepada Allah, amal ibadah yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan kemarin diterima dan mendapat ridha dari Allah Swt.
Sungguh kerugian besar jika amal ibadah kita tidak diterima, dosa dosa tidak diampuni tapi ternyata tahun depan tidak bisa menjumpai bulan puasa lagi. Inilah yang membuat para ulama khawatir. Kebanyakan mereka selalu mengungkapkan rasa khawatir dan sedih saat berpisah dengan bulan Ramadhan.
Salah satunya Ibnu Rajab rahimahullah beliau mengatakan,
كَيْفَ لاَ تَجْرِى لِلْمُؤْمِنِ عَلَى فِرَاقِهِ دُمُوْع وَ هُوَ لاَ يَدْرِي هَلْ بَقِيَ لَهُ فِي عُمْرِهِ إِلَيْهِ رُجُوْع
"Bagaimana mungkin air mata seorang mukmin tidak berlinang kala berpisah dengan bulan Ramadhan. Sementara dia tidak mengetahui tersisa dari umurnya untuk kembali bertemu dengannya."
Berkata juga sebagian salaf lainnya,
لَوۡ أَعۡلَمُ اَنَّ اللّهَ تَقَبَّل مِنِّيۡ مِثۡقَالَ حَبَّةٍ مِنۡ خَرۡدَلٍ لَتَمَنَّيۡتُ المَوۡت
"Seandainya aku tahu bahwa Allah menerima amalanku walau seberat biji khordzal (biji yg sangat kecil seperti biji sawi), pasti aku akan berangan kematian"
Oleh sebab itu Ramadhan kemarin harus bias memberi perubahan pada diri kita masing-masing kearah yang lebih baik. Selalu istiqomah dalam beribadah dan tidak mengerjakan kemaksiatan selepas bulan Ramadhan.
Sungguh tidak ada yang tahu apakah kita masih bertemu dengan Ramadan Ramadan berikutnya. Sungguh kita juga tidak tahu apakah masih bisa sujud, ruku, menangis di malam-malam bulan Ramadan.
Mari di hari kemenangan ini kita buka lembaran baru. Bersiap menghadapi tantangan baru yang akan hadir kembali. Sebab belenggu-belenggu setan telah terlepas. Membuat para pelaku maksiat kembali leluasa melancarkan godaan-godaannya. Jadilah muslim yang istiqamah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَذِكْرِ اْلحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.



Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ 7×، اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ "إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا". اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَأًصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِماَتِ, وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ, اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ. رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِاْلحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهىَ عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Sunday, March 17, 2019

Cicak, Binatang “Pembawa Sial” tapi Disukai Anak-anak

Gambar Sumber: Cinta Ruqyah Syariyyah

Oleh: Slamet Widodo*)

Entahlah, malam ini, saya tiba-tiba ingin menulis tentang cecak. Saat duduk di ruang tengah bersama ibu, di rumah Bulu Simorejo. Saya melihat seekor cecak yang menempel di tembok. Ia diam penuh siaga, tepatnya  di atas pintu kamar saya. 

Melihat cicak itu, saya langsung teringat anak kedua saya, Azimatun Faiqotuz Zahro (Azim). Ia suka sekali dengan hewan reptil ini. Apabila ia menangis, akan langsung tenang, ketika ditunjukkan cicak yang menempel di tembok rumah kami. 

Bukan hanya itu, ketika ia terbangun saat tidur di tengah malam atau bangun saat pagi, pertama kali yang ditanyakan adalah cicak. “Cecake endi, buk?” (Cicaknya mana, buk?). “Lha kuwi cecake (Lha itu cecaknya),” kata ibunya sambil menunjukkan cecak yang menempel di dinding kamar.

Apabila kebetulan tak ada cicak, maka si ibunya dengan sabar memberi alibi. “Loh cecake no endi ya? Cecake bobok, paling. Ngantuk. Nah, Azim ayo bobok maneh. Isih malem.” (Loh, cecaknya di mana ya? Cecaknya bobok, mungkin. Ngantuk. Nah, Azim ayo bobok lagi. Masih malam). Dalam sekejap anak kami pun tenang dan bobok kembali dalam dekapan hangat sang ibu. 

Bukan hanya Azim. Kakaknya, Zahro, 12 tahun, sewaktu kecil pun punya kesenangan yang sama dengan adiknya. Sama-sama suka cecak. Bahkan dulu, Zahro meminta kakeknya untuk menangkap cecak. Lalu dimasukkan ke dalam plastik bening. Untuk di buat mainan.

Bagaimana dengan anak Anda? Apakah suka sama cecak juga? 

Entah mengapa anak kecil (terutama anak saya) suka sekali dengan cecak. Bahkan ada lagu khusus anak-anak tentang hewan reptil ini. Judulnya: Cecak-cecak di dinding.

Pernah suatu hari, saya diskusi dengan istri saya. Mengapa anak kecil suka sekali dengan cecak. Ia bilang, katanya: “hewan yang pertama kali yang dikenalkan orang tua kepada anak kecil adalah cecak. Sebab cecak mudah di dapat. Cecak banyak ditemui di rumah-rumah. Karena anak kecil memorinya sangat kuat, maka apa yang ia lihat, dengar dan rasakan itu akan tertancap kuat di dalam ingatannya.” 

Hem, masuk akal juga ya... 

Namun, di balik kelucuan cecak, sehingga menarik simpati anak kecil. Ternyata  ada hadits Rasulullah saw. tentang keutamaan membunuh cecak. Termasuk tokek. 

Tentu ada alasan tertentu, mengapa Rasulullah saw. menganjurkan untuk membunuh cecak. 

Pertama, ternyata binatang tersebut bisa mendatangkan penyakit. Sehingga harus segera dibunuh. 

“Barang siapa yang membunuh cecak sekali pukul, maka dituliskan baginya pahala seratus kebaikan. Barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala pertama. Barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala lebih kurang dari yang kedua,” (HR Muslim).

Kedua, dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa cicak dibunuh karena meniupi api agar membakar Ibrahim as. berdasarkan hadits riwayat Bukhari.

“Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda, ‘Dahulu cicak ikut membantu meniup api Ibrahim as.” (HR Bukhari).

Itu cecak di jaman Rasulullah saw. dan Nabi Ibrahim as. Hadits itu apakah berlaku juga untuk cecak-cecak yang ada di rumah-rumah kita atau tidak. Wallahu a’lam. Saya tidak banyak ilmu tentang hal itu. 

Meski pun cecak merupakan binatang yang dianjurkan untuk dibunuh. Tentunya binatang reptil itu juga bisa memberi manfaat bagi manusia. Yakni kita bisa mengambil pelajaran hidup dari cecak. Allah swt. dalam menciptakan sesuatu tentu tidak ada yang sia-sia. 

...Wahai Pemelihara kami, Engkau tidak menciptakan semua ini sia-sia. .... (QS Ali Imron ayat 191).

Pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari cecak adalah:

1. Bersyukur 

Cecak, diciptakan Allah swt. dalam bentuk yang begitu rupa. Kakinya pendek. Hidupnya hanya menempel di tembok. Atau langit-langit rumah. Ia hanya menggunakan lidah untuk menangkap makanan. Sementara itu makanannya hewan yang bisa terbang. Tentu kondisi ini sangat tak menguntungkan bagi cicak. 


Meski begitu, ia tak pernah protes kepada Allah Swt. Tak pernah mengeluh dengan kondisi seperti itu. Ia tetap bersyukur. 

Bagaimaana dengan manusia? Hehehe...
Manusia banyak berkeluh kesah. Merasa serba kurang. Dan serba tidak cocok. Ia terus protes kepada Allah Swt. Sudah punya ini, kurang itu. Sudah punya itu, kurang ini. 

Memang, sifat dasar manusia adalah selalu berkeluh kesah. 

"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir." (QS. Al-Ma’arij: 19)


2. Semangat Bekerja

Cecak termasuk binatang yang giat bekerja. Ia tak mau bermalas-malasan. Apabila ada kesempatan mangsa datang, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengejar dan menangkapnya. Tak peduli mangsanya terbang. Tetap saja ia akan mengejar mangsa itu sampai dapat. 

Nah, bagaimana dengan manusia? Hehehe...

Ah, manusia. Apabila ia belum mendapatkan pekerjaan. Maka ia akan mencari pekerjaan itu sampai dapat. Apa pun dan bagaimana pun caranya, akan ditempuh. 

Namun, apabila sudah mendapatkan pekerjaan. Apa yang dilakukan? Ia akan bermalas-malasan. Bekerja asal-asalan. Maunya kerja enak dan ringan. Tapi gajinya besar dan lancar. 


3. Qonaah (Menerima apa adanya) 

Meski banyak sekali mangsa yang beterbangan. Terkadang tak satu pun yang bisa ditangkap oleh cecak. Bagaimana sikap cecak, apakah ia putus asa? Tidak. Tidak sama sekali. Justru ia diam. Tenang. Sambil menunggu mangsa lain yang datang. 

Nah salah satu sifat baik dari cecak adalah qonaah. Menerima pemberian Allah Swt. dengan lapang dada. Karena ia yakin, bahwa rizkinya sudah diatur oleh Allah Swt. Ia tak kan khawatir Rizkinya bakal tertukar atau tertunda. Sebab rizki pemberian Allah itu pas. Tak kurang dan tak lebih. 

Kita seharusnya bisa mencontoh sifat qonaah cecak. Tak perlu tamak mengejar dunia. Sebab rizki kita sudah diatur oleh Allah. Tentunya Allah Maha Adil dan Maha Pemurah. Dia tak mungkin membiarkan hamba-Nya kelaparan. Tentunya semua kebutuhan manusia telah dicukupi oleh Allah Swt. 

Dalam bekerja untuk urusan dunia, jangan sampai lalai sehingga meninggalkan urusan dengan Allah Swt.  

Rizki kita sudah ditetapkan oleh Allah Swt. Sekuat apa pun dan segiat apa pun kita bekerja. Jika Allah menetukan rizki kita untuk hari ini sebesar seratus ribu, misalnya. Maka yang kita dapat ya seratus ribu itu. Tak kurang dan tak lebih. 

Terkadang kita lupa memaknai rizki itu sendiri. Yang kita sebut rizki adalah berupa uang atau harta benda lainnya. Bukan. Bukan hanya itu. Rizki yang Allah berikan kepada kita, dalam setiap harinya, sangat banyak. Tak terhitung jumlahnya. Berapa di antaranya adalah hidup di dunia ini. Udara yang kita hirup setiap hari. Kesehatan badan. Kesempatan untuk beribadah. Semua itu adalah rizki. 

Untuk itu, marilah kita berusaha mengambil pelajaran dari binatang apa pun yang diciptakan Allah Swt. Salah satunya adalah cecak. Sebab, apa pun yang dicipatakan Allah Swt. di dunia ini untuk manusia yang mau berfikir. Dan tentunya tak ada yang sia-sia. Wallahu a’lam...

*** 

Pernah kejatuhan cecak?
Jika pernah, setelah kejatuhan cecak, apa yang ada di dalam pikiran kita? 

Ah, embuh lah... 

----

Kepohbaru, 18 Maret 2019.


*) Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro – Pendiri komunitas menulis cah ndeso “Kita Belajar Menulis (KBM)”)

Ngopi Bareng Mas Agus Al Barqy

Foto: Dokumen Pribadi 


Oleh: Slamet Widodo*)

Minggu pagi, 17 Maret 2019. Saya, istri dan anak kedua kami, Azimatun Faiqotuz Zahro, 1 tahun 11 bulan, silaturrahmi di rumah saudara. Rumahnya Kalibanjar, Kedungpengaron, Modo Lamongan. Selain silaturrahim, kami juga mengahdiri undangan dari teman yang punya hajat. 

Di rumah saudara itu, oleh tuan rumah, saya disuguhi kopi. Sembari menyaksikan anak saya, ditemani ibunya, bermain-main di lantai bersama anak dari saudara kami. Dan juga anak-anak kecil sebayanya. Saya duduk di kursi sambil menikmati kopi hitam manis. Kopi saya tuang di lepek (piring kecil untuk tatakan cangkir). Sebelum saya seruput, kopi yang saya taung di lepek, saya foto. Lalu saya buat story Whatsapp (WA). Saya beri caption “Ngopi” di bawah gambar itu.

Tak berselang lama. Ada pesan masuk di WA saya. Dari Mas Agus Al Barqy. Ternyata ia mengomentari story saya. 

“Iso ngopi bereng pak?” (Bisa ngopi juga, Pak?)

“Njajal koyok wong-wong, Mas. Lah kok yo enak.” (Mencoba seperti orang-orang, Mas. Ternyata enak juga)

“Enak bagi Anda, (namun) tidak cocok buat perut saya... “ 

“Nah, itulah dunia. Terkadang baik untuk saya, belum tentu untuk Njenengan (Anda), Mas.” 

*** 

Entahlah. Setiap kali saya chat atau ngobrol secara langsung dengan Mas Agus Al Barqy, saya selalu mendapat ilmu dan hikmah. Padahal, saat kami ngobrol atau chat hanya hal-hal sepele. Guyonan (gurauan). Tetapi saya bisa menyerap lalu menjadikan ide untuk saya tuangkan mejadi tulisan. 

Salah satu hikmah yang saya dapatkan hari ini adalah: 

“Enak bagi Anda, tidak cocok buat perut saya...”

Ya, itulah dunia. Kita harus qonaah. Bersyukur dengan apa (harta) yang kita miliki. Sebab semua yang kita miliki atas pemberian Allah Swt. Menurut Allah Swt. apa pun yang diberikan kepada kita adalah baik dan cocok bagi kita. 

Kita tak boleh silau atau iri dengan apa pun yang dimiliki orang lain. Sebab, harta atau apa pun yang dimiliki orang lain belum tentu cocok bagi kita. 

Itulah hikmah yang saya dapatkan hari ini. Hikmah bisa kita dapatkan di mana saja dan kapan saja. Asalkan kita mau membaca, merenungkan dan mengambil pelajaran. Membaca bukan hanya membaca buku atau sesuatu yang tersurat (tertulis). Namun kita juga harus membaca sesuatu yang tersirat (dunia dan seisinya. Termasuk diri kita).

Pantas saja, Allah Swt. memerintahkan kepada kita semua melalui Nabi Muhammad Saw. untuk menbaca. Sebab, semua yang ada di dunia ini diciptakan Allah Swt bagi manusia untuk dibaca dan dipelajari bagi orang-orang yang mau berfikir. 

Wallahu a’lam...

*** 

Saya bersyukur hari ini bisa ngopi bareng Mas Agus Al Barqy. Meski hanya ngobrol lewat chat. Tetapi berasa ngopi beneran. 

---

Kepohbaru, 17 Maret 2019

*) Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro – Pendiri komunitas menulis cah ndeso “Kita Belajar Menulis (KBM)”)

Friday, March 15, 2019

Hadiah Buku Jejak Sakinah



Oleh: Slamet Widodo, S.Pd
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)


Foto: Koleksi Pribadi

"Bertemanlah dengan penulis, maka Anda akan mendapatkan hadiah buku."

Anda ingin dapat buku gratis? Buku dari pengarangnya langsung? Gampang. Bertemanlah dengan penulis.

Quote di atas sepertinya sangat cocok dengan kondisi yang saya alami hari ini. Rabu pagi, 6 Maret 2019, tetiba saya mendapat pesan Whatsapp dari teman (lebih tepatnya saudara). Namanya Muhammad Alim. Biasa saya memanggilnya Pak Alim. Ia salah satu guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Kepohbaru. Ia sangat produktif menulis. Sastra, menjadi pilihan aliran menulisnya. Ia juga anggota aktif di Kita Belajar Menulis (KBM) Bojonegoro.

Isi pesannya singkat. Memberi kabar gembira kepada saya. Katanya: ia mau menemui saya di tempat tugas saya. Untuk mengantarkan buku.

Wah, ini super keren. Hal yang paling saya tunggu dan sangat menyenangkan. Mendapat hadiah buku. Hehehe...

Tak berselang lama. Ia tiba di tempat saya. Membawa dua buah buku untuk saya. Pertama buku "Jejak Sakinah" hasil karyanya sendiri. Itu menjadi buku perdana baginya. Dan kedua, majalah Nurul Hayat. Majalah itu ia dapatkan dari kantor Nurul Hayat, Bojonegoro. Beberapa waktu lalu. Ia bawa dua. Satu buku diberikan kepada saya. Terimakasih banyak Pak Alim. Semoga Allah Swt. menggantinya dengan yang lebih baik lagi.

Bicara soal buku "Jejak Sakinah". Seperti yang saya katakan di atas. Buku itu menjadi buku perdana baginya. Dan disusul lagi buku yang kedua, Sastra dalam Sanubari. Kedua buku tersebut seluruhnya berisi puisi. Terbit secara bersamaan. Jadi, itulah kerennya Pak Alim. Ia bisa menerbitkan buku sekaligus dalam waktu yang bersamaan.

Jejak sakinah, berisi 100 puisi. Menceritakan tentang perjalanan penulisnya dalam menjemput jodoh. Lebih tepatnya ia dijodohkan oleh orang tuanya. Jodohnya yang menjadi istrinya saat ini.

Dalam membina tangga, ternyata tak semulus yang kita idamkan. Tak seindah yang kita janjikan saat "pacaran". Penulis menghadapi banyak tantangan. Halangan dan rintangan.

Ia menuturkan, tantangan, halangan dan rintangan dalam berumah tangga itu pasti ada. Dan wajib ada. Siapapun pasti akan mengalaminya. Tak pandang bulu. Apapun pangkat dan derajatnya. Baik kaya ataupun miskin. Semuanya.

Tak jarang sebuah keluarga yang usia pernikahannya baru seumur jagung atau bahkan yang sudah puluhan tahun, akhirnya bubrah. Karena tak bisa menghadapi dan melewati ujian-ujian dalam berumah tangga.

Di dalam buku Jejak Sakinah ini, penulis menawarkan tips dan trik dalam menghadapi semua cobaan itu. Agar pembaca bisa melewatinya dengan baik dan bijak.

Pengertian sakinah menurut penulis buku ini bukanlah sebuah kejayaan. Bukam banyaknya materi yang dimiliki. Sakinah adalah ketentraman hidup dalam kebersamaan.

Sakinah bukanlah kemasyhuran atau ukuran kedikdayaan (menang-kalah) dalam pergaulan. Bukan. Sakinah adalah keharuan, saling mengerti, saling memaafkan, saling melengkapi kekurangan masing-masing. Saling menolong dan saling meringankan. Keren.

Menikahlah, maka kamu akan merasakan kebahagiaan yang tak terkira.
Tak percaya? Cobalah.

-----

Kepohbaru, 6 Maret 2019

Politisasi Salam Literasi

Oleh: Slamet Widodo 
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)
Sumber gambar dari google

Salam literasi. Salam itu indetik sekali dengan kegiatan baca-tulis. Biasanya pengucapannya diikuti dengan kode jari telunjuk dan jempol. Diacungkan secara bersamaan. Sehingga membentuk huruf L. Artinya literasi.

Namun kini, di masa-masa suhu politik di Indonesia semakin memanas. Salam itu memiliki makna lain. Bukan litersi lagi. Salam itu dipolitisisasi. Dijadikan kode salah satu calon peserta pemilu. 17 April 2019 mendatang.

Jadi, ketika kita foto menggunakan salam literasi dan dibarengi dengan kode L. Bisa dipastikan orang lain bakal menilai: kita dicap sebagai pendukung salah satu calon presiden dan wakil presiden.

Memang, di saat menjelang pemilu ini semua hal yang berbau angka menjadi sangat sensitif. Jadi harus hati-hati dalam menyebut angka. Apalagi menggunakan kode jari. Terlebih apabila kita sebagai ASN. Harus netral. Tak boleh terjun langsung dalam politik praktis. Jadi serba repot dan bingung sendiri. Solusinya: untuk sementara, puasa dulu, tak perlu mengucapkan salam literasi. Sampai pemilu usai.

Kondisi seperti ini, bukan hanya saya yang merasakannya. Tetapi juga teman saya. Rabu sore, 06 Maret 2019. Saya membaca statusnya Bu Emi Sudarwati. Beliau menuliskan kegalauan itu di beranda Facebook miliknya.

Begini tulisannya:

“Mau foto harus mikir. Jangan pakai gaya tangan gini atau gitu. Awas, ASN. Jangan foto sama itu, lagi nyaleg. 17 April, segeralah berlalu. Aamiin....”

Saya juga punya pengalaman persis seperti yang dituliskan Bu Emi.

Pada 20 Oktober 2018. Saat itu saya sedang mengikuti pelatihan menulis buku. Di Pusat Belajar Guru (PBG) Bojonegoro. Pematerinya Bu Emi.

Hari itu menjadi hari yang sangat mengesankan bagi saya. Betapa tidak, saya bisa ketemu dengan para penulis hebat dari Bojonegoro. Terutama bisa ketemu dengan Bu Emi. Yang sebelumnya, saya tahu nama beliau dari teman saya. Saya benar-benar penasaran. Ingin sekali ketemu dengan beliau. Alhamdulillah, akhirnya saya diizinkan bertemu pada hari itu.

Dari pertemuan itu pula, saya bisa kenal dengan guru hebat, Pak Miswadi. Dan juga Bu guru yang super keren, Bu Elfi Zulfrida. Serta guru-guru yang war biasyah. Sebab, sebagian dari mereka ada yang pernah terbang ke luar negeri. Jepang, Belanda dan lain-lain. Pokoknya keren-keren.

Sebelum acara dimulai. Saya sempatkan untuk membeli bukunya Bu Emi. Kemudian saya sempatkan untuk foto-foto dengan beliau dengan membawa buku baru itu. Dan juga dengan Bu Elfi serta Pak Mis.

Karena acaranya adalah litetasi. Tentu saja, dalam sesi foto tersebut kami semua menggunakan salam literasi. Kemudian hasil foto itu saya share di story Whatsapp saya.

Eh, ndilalah. Tak berselang lama, saya mendapatkan sebuah pesan dari seorang teman. Isinya mengapresiasi foto saya. Katanya: terimakasih sudah mendukung calon ini.

Hem... Lah dalah. Kok jadi ambigu ya. Saya berusaha menjelaskan panjang lebar. Ia tetap bersikukuh dengan pendapatnya. E, ya sudahlah.

Semoga saja bulan April segera datang dan berlalu. Biar semua ketegangan dan panas-panasan ini segera berakhir.

Siapapun pilihan Anda saat pemilu nanti. Kita harus tetap menulis.

----
Kepohbaru – Simorejo, 07 Maret 2019

Jodoh Menurut Ilmu Matematika

Foto diambil dari laman web Al-Khawarizmi, seorang ahli matematika, suatu ketika pernah ditanya mengenai kriteria wanita yang baik. Jawabann...