Tuesday, June 12, 2012

Akibat membaca artikelnya Pak Jonru


Malam ini, malam Jum’at, 29 September 2011, waktu di pojok kanan bawah laptop ku tertulis angka 20:47. Sengaja aku buka dan baca file PDF yang berjudul “Tentang Motivasi” yang ditulis oleh Jonru. Yang tadi siang aku download dari internet. Aku sendiri juga tidak tahu dan tidak mengenal siapa dia sebenarnya. Dia punya alamat  web http://www.jonru.net/  dan  http://jonru.multiply.com

Jangan salah, isi artikelnya sangat luar biasa. Dia penulis hebat. walaupun aku belum mengenalnya, namun aku bisa menilai bahwa dia penulis hebat dari karyanya. Betapa tidak, setelah membaca karyanya yang berjudul “Tentang Motivasi” aku langsung tergerak dan semangatku terbakar untuk menulis ini. Ini, ya, ini adalah hasil dari terbakarnya semangat ku.

Benar juga, apa yang dikatakannya benar-benar sesuai dengan apa yang selama ini aku rasakan. Sebenarnya, aku sangat ingin sekali menulis dan menuangkan semua ide yang ada di otak ku, namun gagal, dan gagal lagi. Alasan aku pun klasik, malas, lagi ngga’ moot, nanti dulu, padahal sebenarnya di otak ku sudah penuh ide. Namun, ya, yang satu itu, MALAS.COM.

Ada satu kalimat yang menarik dan benar-benar memompa semangatku yakni “Begitu banyak orang yang siap untuk berhasil, tapi hanya sedikit yang siap untuk gagal”. Satu kalimat yang menurutku penuh makna. Dan aku pun mengakuinya. Aku yakin anda juga tidak beda jauh dengan aku. Ha… ha… ha…

Ada lagi kalimat yang membuat ku tercengang, mungkin anda juga akan membuka mata lebar-lebar. “Sebelum menemukan listrik, Thomas Alva Edison telah bereksperimen sebanyak 999 kali, dan semuanya gagal. Jika saja pada percobaan yang ke-1000 ia mundur, maka kemungkinan besar hari ini kita tak akan bisa menonton siaran TV atau menumpan makanan di kulkas. Hidup kita akan menjadi gelap gulita di malam hari, sepi karena tak ada televisi.

Nah, coba sekarang kita banyangkan. Mungkin saja bagi kita yang belum tau bahwa kita bisa menikmati terangnya lampu di malam hari, bisa melihat siaran TV ternyata dibalik itu ada seorang ilmuwan yang berusaha membantu kita membuat listrik tidak dengan mudah ia membuatnya. Ternyata 999 kali ia mecobanya namun gagal, setelah ia mencobanya sekali lagi yang jumlahnya 1000 kali percobaanya baru berhasil.

Coba sekarang kita bandingkan dengan diri kita. Tentunya aku juga membandingkan. Jika kita melakukan sesuatu hal, baru sekali gagal, apa yang kita perbuat? Ya, kita langsung menyerah dan mengatakan “aku sudah tidak bisa”. Padahal baru sekali gagal.

  Hal di atas juga sudah aku sampaikan di depan kelas 7B MTs Negeri Kepohbaru. Kebetulan tadi siang sekitar jam 12.00 – 13.10, jam ke 7-8 aku ada jam pelajaran Matematika. Aku juga sempat memberikan contoh tentang yang pernah mereka alami.

“Kamu pernah belajar sepeda?” Tanyaku.

“Pernah….” Serempak anak-anak menjawabnya.

Pertanyaanku berikutnya adalah, “Usia berapa kamu mulai belajar naik sepeda?” 

“5 tahun, 6 tahun, pak” jawaban yang beragam.

“Apa motivasi kamu belajar naik sepeda?”

“Pengen bisa, Pengen teman-teman, pak. Disururuh ibu, pak” celoteh mereka.

“Iya, bapak ambil alas an yang pertama. Kebanyakan alasan dari kamu adalah kamu pengen bisa. Nah, kalau kamu sudah ada niatan untuk bisa maka sesulit apapun rintangan pasti kamu lalui. Coba kita bayangkan ketika pertama kali kita belajar naik sepeda tentunya kamu berkali-kali jatuh. Setelah kamu sabar dan tekun melakukannya akhirnya kamu bisa naik sepeda. Manfaat dari naik sepeda hasilnya kamu sendiri yang merasakan bukan? Kamu bisa pergi ke sekolah, ke pasar atau ke mana kamu suka. Begitu juga dalam hal belajar pelajaran sekolah.” Penjelasaku panjang lebar. Mereka terbengong dan mengangguk-ngangguk. Ternyata mereka baru menyadari hal itu.   

Aku juga sempat download sampel bukunya Jonru yang judulnya “Cara dahsyat menjadi penulis hebat”. Tapi hanya sampelnya saja, jadi yo hanya beberapa halaman. Jika pengen edisi lengkapnya bisa kita dapatkan www.penulislepas.com, tapi ingat, tidak gratis alias beli. Eh, maunya yang gratisan-gratisan saja. Karya sebagus ini akung kalu digratiskan. Ya, setidaknya harus ada imbalan atas karya-karyanya.

Kepoh, 29 September 2011
Di kamar tidur.

Monday, June 11, 2012

Ibu, cepet sembuh ya…


Oleh: Slamet Widodo

Hari itu Minggu, 18 Maret 2011. Pagi-pagi buta setelah sholat subuh sementara anakku Zahra belum bagun, aku harus segera ke rumah ibuku untuk kontrol. Setelah lima hari kemarin berobat ke dokter H. M. Azhari, Baureno.

Ibuku sakit mata. Selain itu juga, kondisi kesehatan ibuku kurang baik. Badannya kurus, sampai-sampai tulang di bagian dadanya terlihat. Di saat malam ibu tidak bisa tidur. Bahkan pernah suatu malam, sepanjang malam ibu tidak tidur sama sekali. Entah kenapa dan apa yang ibu pikirkan. Ibu jarang sekali makan, katanya kalau makan selalu ingin muntah.

Padahal, sudah berkali-kali ku obatkan ke dokter, ibu masih belum juga baikan. Namun kali ini, setelah saya bawa ke dr. Azhari ada perubahan ke arah lebih baik.

Pukul 06.00 WIB aku sampai di rumah ibuku. Selang 15 menit aku berangkat membonceng ibu. Sebelum itu, ibu ku pakaikan jaketku dan helm pinjam dari tetangga belakang rumah agar ibu tidak kedinginan dan masuk angin.

Sebelum berangkat ibu sudah saya ingatkan,

“Bu, makan dulu, walaupun hanya sedikit nanti biar tidak sakit. Soalnya ini mau suntik.”

“Tidak nak, cukup, ibu sudah makan pisang” jawab ibuku.

Akupun mengiyakan, walaupun ibu hanya makan satu buah pisang saja. Padahal ibu sudah masak nasi, namun baru nasi yang dimasak, sementara lauk dan sayurnya baru akan dimasak nanti setelah pulang dari berobat.

Aku bonceng ibuku dengan motor Supra X ’92ku. Merayap pasti menyusuri dinginnya pagi menuju Baureno. Setengah jam kemudian kami sampai di tempat dr. Azhari. Ternyata sudah banyak pasien yang antri.  Namun kebetulan setelah menunggu dua pasien, kini giliran ibuku masuk dan akupun ikut masuk.

“Lho, ibu, bagaimana, ada perubahan? Silakan duduk” tanya dokter ramah.

“Iya dok, Alhamdulillah sedikit lebih baik. Mata saya juga cukup baik dibanding kemarin. Namun perut saya kembung tidak bisa kentut, badan saya masih lemas.” Jawab ibu.

“O…? Iya, tidak apa-apa, nanti saya suntik insya Allah akan segera sembuh.”

Lalu dokter memeriksa mata ibu, kemudian ibu di-tensi, dan di kir.

“Mas, mata ibu anda terkena katarak, jadi sulit disembuhkan. Harus operasi. Tapi tidak apa-apa, katarak tidak terlalu berbahaya.” Dokter menjelaskan kepadaku.

“Iya dok.” Jawabku singkat.

Aku tahu bagaimana perasaan ibu setelah mendengar penjelasan dokter. Ibu akan shock mendengarnya.
Tak lama kemudian,

“Silahkan tengkurap bu, mau saya suntik.” Pinta dokter.

Ibupun mematuhi perintah dokter, tengkurap, lalu dokter menyuntiknya. Aku tahu, ibu kesakitan saat disuntik. Hal itu terdengar dari rintihan ibuku. Karena saat ibu disuntik aku tidak melihat, aku tidak tega melihatnya.

Beberapa saat kemudian ibu dan aku duduk di ruang tunggu untuk mengambil resep. Namun, saat hendak berdiri, ibu tiba-tiba pingsan. Untung saja aku di dekatnya langsung membopongnya.
Aku panik, dokter pun panik dan juga pasien yang masih antri pun juga ikut panik.
Dokter dan apotekker pun menghampiriku yang sedang membopong ibu. Mereka menyarankan untuk membaringkan ibu ke dipan pasien yang berada di ruangan belakang apotekker. Ibu diberi teh segelas hangat.

Saat ibu tersadar, dokter meminta saya untuk meminumkan teh hangat. Ibu pun meminumnya.
Kemudian ibu berkata,

“Nak pandangan ibu tiba-tiba gelap. Badan ibu gemetar. Keringat ibu dingin. Enggak tau kenapa?”

“Iya bu, tenang, istirahat dulu di sini. Enggak apa-apa. Ditenangkan pikirannya.” Dokter menenangkan ibu sambil memeriksa tensinya.

“Tensinya bagus, 120.” Tambah dokter.

“Iya dok. Mungkin ibu takut, kata dokter harus operasi.” Jawab ku.

“O… itu? Tidak apa-apa bu. Semua orang pasti mengalami katarak.” Dokter menenangkan ibuku.

“Putranya berapa, bu?” Tanya dokter lagi.

“Hanya saya dok.” Jawabku. Karna kelihatannya ibu masih malas untuk bicara.

“Oh, lha, kerja di mana Mas?” selidiknya.

“Di MTsN Kepohbaru, dok”. Jawabku.

“Sudah PNS?” Tanya dokter lagi.

“Alhamdulillah, sudah dok.”

Dokter pun menjelaskan banyak hal agar ibuku tenang, sadar dan tidak takut serta bersyukur. Karena anaknya walaupun satu sudah menjadi PNS. Sementara aku mendengarkan dan duduk di bagian bawah kaki ibuku berbaring.

Setelah dirasa agak baikan,

“Tenang dulu bu, istirahat dulu, nanti saya periksa lagi.” Pesan dokter.

Dokter pun meninggalkan kami, untuk menangani pasien yang lain.

Tiba-tiba ibuku berkata sambil meneteskan air mata,

“Nak, terus kalu sudah begini kamu dengan siapa nak?”

Akupun sebenarnya menangis, tapi aku tahan, jangan sampai ibu tau kalau aku benar-benar sedih dan menghawatirkan keadaanya.

“Ya, sendiri. Lha terus sama siapa lagi to bu? Dah ga apa-apa. Istirahat dulu, tenangkan hatinya, jangan takut.” Hiburku.

Memang, aku adalah anak tunggal. Satu-satunya tambatan hati ibu adalah aku. Kakak ku meninggal saat aku masih kelas 6 SD. Dan bahkan, empat bulan yang lalu nenek ku juga meninggal. Mungkin hal itulah yang membuat ibu terpukul, sehingga jatuh sakit.  

Aku sempat berfikir untuk mencarikan ibu mobil untuk membawanya pulang. Saya khawatir nanti ibu tidak bisa membonceng sepeda. Ku tawarkan niatanku, namun ibu menolaknya.

“Sudah, ibu tidak apa-apa.” Jawab ibu, berusaha menghiburku.

Sudah hampir satu jam ibu istirahat, kondisinya sudah agak membaik. Akupu mengajak ibu pulang dan ku bonceng dengan motorku. Sebelum jalan, aku pesan sama ibu,

“Nanti pegangan yang erat, bu.”

“Iya, nak. Sudah ayo jalan”. Jawab ibuku, lirih.

“Benar, ibu enggak apa-apa dan bisa bonceng?” aku memastikan.

“Iya.” Jawab ibuku pelan.

Motorpun aku jalankan 40 km/jam. Jarak tempat dokter itu dengan rumah saya 30 km. Satu setengah jam kemudian aku sampai juga di rumah.

“Alhamdulillah, sudah sampai rumah…” ucap ibuku.

Kemudian ibuku bebaring di bayang  yang ada di ruang tamu untuk istirahat.

Ibu, semoga ibu cepat sembuh. Aku sangat sayang pada ibu. Ibu, do’a ibu sangat mustajabah. Aku berharap ibu panjang umur sehingga do’a ibu selalu membasahi tubuhku. Amin.

Ya Allah, hamba mohon kesempatan untuk bisa berbakti kepada ibu dan bapakku, hamba mohon kesempatan untuk bisa membahagiakan ibu dan bapakku. Allahummaghfirlii waliwalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani shoghiiro… Amin.

Kisah ini ditulis, berdasarkan kisah nyata yang dialami sendiri oleh penulis.

Jodoh Menurut Ilmu Matematika

Foto diambil dari laman web Al-Khawarizmi, seorang ahli matematika, suatu ketika pernah ditanya mengenai kriteria wanita yang baik. Jawabann...