Monday, January 17, 2022

Jodoh Menurut Ilmu Matematika

Foto diambil dari laman web
Al-Khawarizmi, seorang ahli matematika, suatu ketika pernah ditanya mengenai kriteria wanita yang baik.

Jawabannya sungguh mengejutkan! Penasaran? Ini jawabannya!
Bapak Al-jabar ini mengibaratkan:
Jika wanita itu sholihah dan taat beragama maka nilainya 1 (satu). Apabila wanita itu memiliki paras nan ayu rupawan, maka nilainya ditambahkan angka 0 (nol) di belakang angka 1 tersebut. Kemudian jika wanita tersebut kaya, maka ditambahkan nol lagi. Dan jika ia berasal dari keluarga baik-baik, maka nol-nya bertambah lagi satu.
Jadi, menurut Al-khowarizmi, apabila ada wanita sholihah dan taat beragama, berparas cantik, kaya, dan berasal dari keluarga baik-baik, maka nilainya adalah 1000 (seribu).
Namun, jika yang (angka) 1 tidak ada, maka nilainya 0 (nol). Maka 0 tidak ada artinya sama sekali. (Sumber: IG @ngajimatematika.
Hal itu berdasar pada hadits Nabi saw.
“Wanita dinikahi karena 4 hal. Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari).
Sekedar menambah wawasan tentang tokoh matematika.
Al-Khawarizmi, memiliki nama lengkap Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi. Ia lahir di sebuah kota kecil bernama Khawarizm yang saat ini dikenal dengan nama Khiva, Uzbekistan pada tahun 780 M. Namun, ilmuwan Barat dan Eropa lebih mengenal Al-Khawarizmi dengan nama Algoritm, Algorismus, atau Algoritma.
Karya terbesarnya adalah Aljabar. Bukunya yang berjudul Al-kitab al-mukhtasar fi hisab al-jabr wa'l-muqabala (The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing), menjadi pondasi penting dalam aljabar di era modern. Aljabar, juga menjadi materi yang banyak dipelajari di dunia sampai saat ini. (https://www.ruangguru.com/blog/al-khawarizmi).

Kedungsari, Kepoh, 17 Januari 2022. 16:27 PM

Oleh: Slamet Widodo*)

*) Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro

Sunday, September 5, 2021

Radio Masih Masih Tetap Eksis di Tengah Arus Media Digital

Radio. ©blogspot.com

Kepohbaru - Setiap pagi, selepas Subuh, Bapak mertua saya selalu mendengarkan berita di radio. Acara favoritnya Kopi Pagi. Acara yang dipandu oleh Kang Imam Sudibyo itu disiarkan melalui radio Istana FM, Bojonegoro. Dari media radio inilah, bapak mertua mendapatkan informasi-informasi ter-update yang terjadi di Kabupaten Bojonegoro dan sekitarnya.

Berbeda dengan Bapak mertua, tetangga sebelah rumah saya, hampir setiap hari, siang dan malam, juga memutar radio. Dengan volume lumayan keras. (Terkadang saya dan istri saat mengerjakan tugas yang butuh konsentrasi tinggi, merasa terganggu). Acara favoritnya musik berbagai genre, mulai dari dangdut, koplo, langgam, keroncong, kosidah, nasyid dan lain-lain. 

Sementara itu, tetangga depan rumah saya, juga suka mendengarkan wayang kulit, tayub, dan ludruk,  melalui radio. Hanya saja pada jam-jam tertentu, tidak setiap hari.

Di dunia pendidikan, selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) akibat covid-19, pemerintah kabupaten Bojonegoro radio dijadikan solusi dalam pembelajaran jarak jauh. 

Sebagamana dilansir di website resmi Pememerintah Kabupaten Bojonegoro, bojonegorokab.go.id., Dinas Pendidikan (Disdik) Bojonegoro menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) lewat siaran langsung di radio milik Pemkab, Radio Malowopati FM. Selain radio, Disdik juga menggunakan aplikasi pendidikan bernama Sifajargoro. Dua media itu menjadi solusi utama di tengah pandemi ini.

Setahun yang lalu, Rahayu Lestari Putri, salah satu anggota keluarga Kita Belajar Menulis (KBM), juga pernah siaran di radio milik Pemkab Bojonegoro itu. Rahayu (panggilan akrabnya), siaran bersama tim Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Bojonegoro. Dalam siaran itu ia menginformasikan program-program yang ada di Baznas. Saya mengakses siaran itu melalui streaming di internet. 

Dari uraian di atas, bisa kita ketahui, bahwa di era transfromasi digital ini, radio masih tetap bisa bertahan. Selain sebagai hiburan, radio juga menjadi media arus utama untuk meyampaikan informasi kepada masyarakat. Juga menjadi solusi bagi dunia pendidikan di tengah badai Covid-19 ini.

Walaupun kanal media baru berbasis internet berkembang secara masif, namun radio tetap bisa eksis menyapa pendengar. Meski demikian, adaptasi dan inovasi sesuai dengan perkembangan zaman terus dibutuhkan agar tetap bertahan.

Ada banyak tantangan yang dihadapi media konvensional seperti radio ini. Salah satu tantangan itu berupa meningkatnya jumlah pengguna internet dan kanal media digital. 

Menurut laporan We Are Social 2021 yang dilansir Kompas.id, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta atau 73,7 persen dari total penduduk. Meningkat 15,5 persen disbanding tahun sebelumnya.

Konten digital yang banyak digemari oleh penduduk usia dewasa adalah konten di YouTube, media social, aplikasi pemutar music daring, dan Podcast.

We Are Social 2021 juga melaporkan, sebanyak 52,1 persen masyarakat berusia 16 sampai 64 tahun mendengarkan siaran radio secara streaming dalam setiap bulannya.

Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan oleh Kompas pada 18-20 Agustus 2021 lalu, ada 45 persen responden yang masih mendengarkan radio. Sementara itu, berdasarkan usia, generasi X (usia 40-55) menempati urutan pertama, yakni 48,2 persen, disusul generasi Y (milenial – usia 24-39) di urutan kedua dengan 25,1 persen dan di urutan ketiga ada generasi Baby Boomers (usia 56-74) sebanyak 15,6 persen. Sisanya ditempati generasi Z, 10,6 persen dan generasi silent sebanyak 0,5 persen.    

Alat yang sering digunakan untuk mendengarkan radio yakni radio antenna (radio berbentuk fisik, radio di mobil dll) sebanyak 66,8 persen. Disusul aplikasi radio yang ada di telepon seluler sebanyak 28,6 persen dan streaming melalui Website sebanyak 4,6 persen.  

Nah, apakah Anda juga masih gemar mendengarkan radio? Kalau saya, “terpaksa” harus mendengarkan radio setiap hari. Hehehe…

Kepohbaru, 5 September 2021

Slamet Widodo

Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Friday, September 3, 2021

Karpu Lantas


Di penghujung Agustus 2021, pertemuan tatap muka (PTM) terbatas diberlakukan di MTs Negeri 3 Bojonegoro. Setelah hampir dua bulan dilakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Terbatas artinya, siswa yang masuk hanya lima puluh persen. Sisanya tetap belajar dari rumah secara daring.

Siswa dijadwalkan masuk secara bergiliran dengan memakai seragam lengkap. Dalam sehari, ada sembilan kelas dari delapan belas kelas yang dijadwalkan masuk.

PTM ini tentu sangat dirindukan oleh siswa, guru dan juga orang tua. Sebab siswa bisa belajar dan dibimbing secara langsung oleh guru di kelas.

Hal pertama yang saya lakukan di awal PTM di kelas 7 adalah menanyakan kabar siswa, menanyakan kesan dan kendala selama belajar daring dari rumah. Jawaban mereka hampir sama: kesulitan mengakses internet karena buruknya sinyal. Selain itu rata-rata siswa tidak memiliki kuota internet (kalaupun memiliki, hanya kuota untuk WhatsApp). Sebagian lainnya lebih beruntung: bisa akses internet melalu Wi-Fi.

Selanjutnya saya menanyakan kembali materi bilangan bulat yang telah saya kirim melalui WhatsApp, Google Classroom, dan YouTube selama PJJ. Tujuannya untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan siswa dalam memahami materi tersebut.

Hasilnya: sungguh membuat saya terharu. Ternyata sebagian besar siswa belum bisa memahami operasi (penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian) bilangan bulat. Terutama operasi bilangan bulat positif dan negatif. Padahal materi dasar yang wajib dikuasai dalam belajar matematika adalah operasi bilangan bulat ini.

Menurut saya, hal itu wajar untuk mata pelajaran matematika. Jangankan belajar secara daring. Belajar dengan PTM saja, tak banyak siswa yang dapat memahami materi yang dipelajari di kelas bersama guru. 

Untuk membantu siswa supaya mudah dalam memahami operasi bilangan bulat, akhirnya muncullah ide membuat alat peraga yang saya beri nama Kartu Lampu Lalu Lintas (Karpu Lantas).

Nama Karpu Lantas ini saya pilih karena bahan alat peraga ini adalah kertas Buffalo (kertas tebal) berwarna merah dan hijau. Kertas tersebut saya potong membentuk kartu dengan ukuran 8,5 cm x 5,5 cm. (Ukurannya bisa disesuaikan dengan selera, bisa juga dibuat lebih panjang). Jumlah potongan kertas tersebut juga menyesuaikan: makin banyak makin bagus.

Kemudian potongan kertas berbentuk kartu tersebut saya beri tanda: hijau untuk positif (+) dan merah untuk negatif (-).

Analoginya mirip lampu lalulintas. Lampu hijau artinya jalan (+) dan lampu merah artinya berhenti (-). Sementara lampu kuning sebagai tanda (peringatan) agar pengendara berhati-hati.

Cara penggunaannya: kartu merah dan kartu hijau dipasangkan. Sepasang kartu tersebut bernilai nol (0).

Contoh (1) : 3 + 2  

Dari contoh di atas: bilangan 3 bernilai positif dan bilangan 2 juga bernilai positif. Karena keduanya positif, berarti kartu yang diambil semuanya berwarna hijau.

Cara mengerjakan dengan kartu Karpu Lantas:

Pertama: ambil 3 kartu hijau. Kedua: ambil lagi 2 kartu hijau.

Karena sama-sama hijau, maka kartunya tinggal menambahkan saja.

Jadi kartu yang diambil menjadi 5 kartu hijau.

Jadi 3 + 2 = 5.

Contoh (2) : -3 + 2

Nah, pada contoh di atas, banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikannya. Bahkan ada yang bilang: tidak bisa dijumlahkan. Miris bukan?

Dari contoh soal di atas: bilangan -3 bernilai negatif (3 kartu berwarna merah) dan bilangan 2 bernilai positif (2 kartu berwarna hijau).

Cara mengerjakan dengan kartu Karpu Lantas:

Pertama: ambil 3 lembar kartu merah. Kedua: ambil 2 lembar kartu hijau.

Karena kartu tersebut berbeda warna, maka masing-masing kartu harus dipasangkan (merah dan hijau).

Setelah dipasangkan, maka terdapat 2 pasang kartu merah dan hijau. Nah, ternyata ada satu kartu yang tidak memiliki pasangan: yakni kartu merah sebanyak 1 lembar (-1).

Nah, sisa kartu merah itulah yang menjadi hasil dari operasi bilangan di atas.

Jadi -3 + 2 = -1

Bagaimana, mudah bukan? Silakan dicoba sendiri di rumah ya…


Kepohbaru, 3 September 2021

Slamet Widodo, S.Pd.

Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Saturday, July 25, 2020

Stop Bilang Anakku Nakal

Dokumen pribadi: Zahro dan Azim

Semua orang pasti sepakat, jika melihat anak kecil pasti ada rasa senang dan cenderung ingin menggendong, mencium atau mencubitnya. Siapa yang tidak gemas ketika melihat si kecil dengan pipi bakpao, mata bening dan belok, bibir mungil nan manis, kulit lembut dan bau khas. Bahkan ada pula yang berusaha membuat agar anak kecil tersebut menangis. Sebab, tangisan anak kecil terdengar sangat merdu dan tampak lucu. Jika sudah menangis, orang tua akan menggendong, merayu dengan memberikan sesuatu agar tenang kembali.

Menurut para peneliti dari Yale University, seperti dilansir di detikhealth (28 Januari 2013). Setiap kali seseorang melihat atau menemukan sesuatu yang menggemaskan, logika akan menganggap hal tersebut harus diperlakukan dengan lembut dan dan penuh kasih sayang. Namun sebaliknya, sebagian kasus muncul perilaku agresif atau semia agresif seperti ingin mencubit atau membuat suara.

Rebecca Dyer, ketua peneliti menjelaskan, “perilaku agresif bisa disebabkan oleh efek ‘high-positive’ dari emosi yang sangat positif, adanya orientasi pendekatan dan rasa hampir kehilangan kontrol.” (dikutip dari Medindia, 28/1/2013)

Anak kecil dengan segala tingkahnya akan terlihat lucu. Semua orang yang melihatnya pasti dibuat tersenyum. Makan belepotan, menumpahkan makanan dan minuman itu hal biasa dan wajar. Memanjat kursi, menaiki meja menjadi hal yang lazim dilakukan. Membuat isi rumah berantakan adalah sesuatu yang sedap dipandang mata. Tembok yang semula bersih tiba-tiba terdapat lukisan abstrak yang memesona. Bicaranya ceplas-ceplos dan polos sangat merdu didengar oleh telinga. Ketika punya keinginan harus segera dipenuhi, tak bisa ditunda. Apabila perasaanya sedang tidak menentu dan tidak nyaman, akan diekspresikan dengan tangisan. Semua itu sukses menarik perhatian orang tua.

Namun, sebagian orang tua menganggap semua kegiatan yang dilakukan anak kecil itu tidaklah wajar. Akhirnya orang tua melarangnya, tidak boleh begini-begitu. Orang tua khawatir anaknya celaka, jatuh dan terluka. Karena naluri balita cenderung aktif, maka mereka tak mengindahkan larangan orang tua. Sehingga, orang tua menganggap bahwa hal itu disebut anaknya nakal.

Perlu diketahui, anak-anak cenderung sangat aktif, suka bergerak dan berlarian kesana-kemari. Memanjat, naik, turun. Ia tidak bisa atau jarang berdiam di satu tempat dalam waktu yang lama. Hal itu menunjukkan anak Anda adalah anak yang cerdas. Sebab ia banyak mencoba dan belajar dari aktivitas-aktivitas yang ia lakukan.

Hal itu dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw. dalam sabdanya.

“Aktifnya anak kecil akan menambah akalnya ketika dia dewasa nanti.” (HR. Tirmizi)

Menurut Muhammad Ali dalam Shalah al-Buyut fi Juhdi al-Nabi mengutip pendapat Imam Nawawi, bahwa aktifnya anak kecil (maksudnya kepekaan dan ketajaman instingnya) laksana burung gagak yang tangkas dan cepat. Keaktifan dan keratifitasnya adalah tanda kecerdasannya.

Sebaliknya, menurut Muhammad Said Mursi dalam kitabnya yang berjudul Fannu Tarbiyati al-Aulad fi al-Islam, anak pendiam yang suka menyendiri dan tidak terlalu aktif cenderung tumbuh menjadi anak yang pasif, lemah, dan takut mencoba hal-hal baru.

Bapak/ibu, mulai sekarang berhentilah mengatakan nakal pada anak. Berhati-hatilah mengucapkan kata-kata positif kepada mereka. Sebab, ucapan orang tua kepada anak adalah doa yang mustajab. Sebagai orang tua, sangat tidak ihlas jika dibilang anak kita nakal. Karena itu, jangan pernah mengatakan nakal kepada anak sendiri dan juga kepada anak-anak lainnya.

Simorejo, 26 Juli 2020

Oleh: Slamet Widodo
Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro

NB. Seharusnya artikel ini saya posting pada 23 Juli 2020, pas momen Hari Anak Nasional. Namun, tidak mengapa, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.  

Wednesday, July 22, 2020

Jangan Samakan Nol dengan Kosong


Banyak yang salah dalam menyebut (mengucapkan) angka 0 (nol). Nol dibaca kosong. Penyebutan itu jamak dilakukan saat mengeja angka, nomor telepon atau telepon genggam. 

Misalnya, nomor telepon 081359058xxx. Maka akan dieja menjadi: kosong, delapan, satu dan seterusnya. Harusnya, nol, delapan, satu dan seterusnya.

Hal itu bukan tanpa alasan. Penyebutan kosong pada angka nol yang jamak diucapkan itu memang pernah ada yang memberi contoh salah. Masih ingat film Saras 008 yang tayang di salah satu stasiun TV swasta? (Jika Anda pernah menonton film tersebut, berarti Anda sudah berusia). Film tersebut tayang perdana pada tahun 1998 hingga 2004. 

Masih ingat saat Saras berubah wujud menjadi Super Girl? Dia menyebut “Saras kosong, kosong, delapan...” Mengapa bukan “Saras nol, nol, delapan...” Tentu saja media televisi itu (yang bukan hanya menjadi tontonan tetapi juga tuntutan) memberi contoh yang salah.

Bukan hanya itu. Salah satu iklan perusahaan telekomunikasi pun turut menambah pemahaman salah kepada masyarakat. Iklan televisi tersebut membuat jingle yang sukses menghipnotis masyarakat hingga kini. Betapa tidak, jingle yang dihiasi dengan beberapa perempuan yang ber-skating-ria itu berhasil menembus alam bawah sadar kita. Sehingga jingle iklan itu masih terngiang hingga kini.

Begini bunyi jingle-nya: “Kosong, delapan, kosong, sembilan, delapan, sembilan empat kaliiii,” sembari dihiasi dengan beberapa perempuan yang ber-skating-ria. Jika angkanya ditulis menjadi seperti ini: 080989999. Nah, auto nyanyi, bukan? Hehehe. 

Pengertian nol dan kosong itu berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata kosong ternyata memiliki beberapa definisi, yaitu: tidak berisi; tidak berpenghuni; hampa, berongga; tidak mengandung arti; tidak bergairah; tidak ada yang menjabatnya, terluang; tidak ada sesuatu yang berharga (penting); tidak ada muatannya; tidak pandai, tidak cerdas. 

Contohnya: gelas yang tak ada isinya air, kopi atau teh disebut gelas *kosong*. Karena itu, isilah segera gelasnya. Saatnya mengisi kembali gelas itu. Mari ngopi sama saya. Nanti saya kasih cerita tentang asyiknya belajar matematika. Mau?

Lalu, bagaimana dengan kata nol? Menurut KBBI, nol memiliki makna sebagai berikut: bilangan yang dilambangkan dengan 0; taman kanak-kanak (TK) kelas persiapan sebelum memasuki tingkat pertama dalam urutan kelas; tidak ada kenyataan, omong kosong; dan tidak ada hasil.

Coba perhatikan dari kedua penjabaran definisi di atas. Jelas berbeda antara nol dengan kosong. Masing-masing kata mewakili dan memiliki maknanya sendiri-sendiri. Kata “kosong” cenderung digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan. Sementara kata “nol” merujuk pada sebuah bilangan.

Dalam ilmu matematika beda lagi. Kosong dalam Matematika merupakan himpunan tanpa anggota. Maknanya kurang lebih sama dengan nul atau nihil. Sementara itu, nol adalah angka yang berada di antara 1 dan -1. Posisi nol (angka 0) pun jelas terlihat dalam garis bilangan.

Masih mengeyel menyebut nol dengan kata kosong?

Insaflah wahai manusia jika dirimu khilaf.


Kepohbaru, 23 Juli 2020


Oleh: Slamet Widodo*)

*) Guru matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro

Tuesday, July 14, 2020

Jadilah Seperti Matematika


Sudah menjadi rahasia umum, matematika menjadi salah satu bidang mata pelajaran yang ditakuti banyak orang. Bukan hanya ditakuti, namun juga dibenci. Banyak alasan yang menyebabkan mereka benci terhadap permainan angka ini. Menurut mereka, belajar matematika itu sulit. 

Penyebab lainnya, pengalaman trauma yang dialami sejak duduk di bangku sekolah dasar. Bisa juga trauma dihukum guru gara-gara tak hafal perkalian, pembagian atau rumus-rumus.

Mereka bukan hanya benci pelajarannya, tetapi juga gurunya. Karena itu kebanyakan guru matematika itu tak memiliki fans. Bahkan, ada siswa dikala bertemu atau berpapasan dengan guru matematika, mereka memilih menghindar. Ada juga yang bilang, guru matematika seperti monster menakutkan. Hihihi… aum….

Tenang, meski Anda membenci matematika. Namun, ia sama sekali tak membenci Anda. Justru sebaliknya, ia ihlas membantu dan mempermudah Anda dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. Ia selalu menemani hari-hari Anda. Misalnya jual-beli, pengukuran, menentukan arah kiblat, waktu salat dan lain sebagainya. Bahkan ia pun berada di dalam laptop, komputer dan Android Anda. 

Matematika mengajarkan kita menjadi manusia yang baik. Sebagaimana sabda Nabi saw. “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Lalu Anda masih tak suka dengan matematika? Betapa jahatnya dirimu. Air susu kau balas air tuba. Huhuhuhu…. (emot nangis).

Kepohbaru, 14 Juli 2020

Oleh: Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Monday, June 29, 2020

Sukses Itu...


Makna sukses dalam kamus Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti berhasil, beruntung. Jika mendapat imbuhan ke-an, menjadi ke-sukses-an memiliki arti keberhasilan dan keberuntungan.

Masing-masing orang memiliki definisi sukses yang berbeda-beda. Dikatakan sukses apabila seseorang mampu mendapatkan apa yang menjadi cita-citanya. Ada pula yang berpendapat sukses itu diukur dengan materi. Mereka yang dikatakan sukses apabila memiliki banyak harta. Namun pendapat itu dibantah oleh tokoh-tokoh dunia.

Bill Gates pendiri Microsoft mengatakan, sukses adalah guru yang payah, kesuksesan mendorong orang-orang cerdas untuk berfikir bahwa dirinya tak akan pernah kalah.

Sementara itu, Thomas Alva Edison seorang penemu dan pebisnis memiliki pendapat sukses adalah 1% inspirasi, 99% keringat.

Zig Zaglar penulis asal Amreika memiliki pendapat yang berbeda. Menurutnya, sukses adalah melakukan yang terbaik apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang kita miliki. Sukses adalah melakukan, bukan mendapatkan. Sukses adalah usaha, bukan kemenangan. Sukses adalah standar pribadi, meraih yang tertinggi yang ada di dalam diri kita, menjadi semua yang kita bisa. 

Ted Turner pendiri TBS dan CNN mengartikan sukses adalah saat kamu berperilaku dengan benar dan mampu menempatkan diri sebaik-baiknya.

Abah Makshum Alief, pembina Jamaah Istighotsah “Asmaul Haq” mengatakan, sesungguhnya di dunia tidak ada kata sukses. Sebab dunia ini adalah proses menuju negeri akhirat. Capaian-capain yang kita raih di dunia ini adalah estafet dari sebuah perjalanan hidup. Sukses yang sebenarnya adalah apabila manusia telah bertemu Tuhannya di surga kelak.

Dari berbagai pendapat tersebut bisa kita tarik kesimpulan bahwa sukses adalah proses usaha yang dilakukan manusia itu sendiri. 

Allah Swt. melihat pekerjaan dan usaha manusia, bukan hasil. Sebagaimana Firman Allah Swt. yang terdapat dalam Qur’an Surat At-Taubah ayat 105.

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada Allah lalu diberitakan kepada-Nya apa yang telah kamu kerjakan.”

Nah, bagaimana makna sukses menurut Anda?

Kepohbaru, 29 Juni 2020

Oleh: Slamet Widodo
Guru MTsN 3 Bojonegoro

Tuesday, June 16, 2020

JANGAN SIA-SIAKAN KESEMPATAN

Allah Swt. memberikan jatah waktu sama kepada semua manusia. Dalam sehari semalam ada 24 jam. Pas. Tidak lebih dan tidak kurang.

Sebagai buktinya adalah ditetapkannya salat fardu. Bagi mukmin. Sehari semalam ada lima waktu. Jadwalnya pas. Sama sekali tidak mengganggu aktivitas manusia.

Sebagaimana Firman Allah Swt. dalam Quran Surat An-Nisaa ayat 103.

“Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Apabila manusia mau memanfaatkan waktu dengan baik. Tentu tak ada waktu yang terbuang sia-sia.

Kalaupun ada orang yang mengatakan, dirinya tak bisa melaksanakan salat karena sibuk kerja atau hal lain. Itu hanya alasan saja.

Dan waktu menjadi salah satu nikmat Allah yang sangat berharga. Harus dijaga betul-betul. Sebelum akhirnya menyesal. Sebab, waktu dan kesempatan datangnya hanya sekali. Tidak bisa diulang untuk kedua kali.

Sebagaimana pesan Rasulullah saw.

“Jagalah lima hal sebelum lima hal. (1) Mudamu sebelum datang masa tuamu, (2) sehatmu sebelum datang masa sakitmu, (3) waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, (4) kayamu sebelum miskinmu, (5) hidupmu sebelum matimu.”

Pesan Rasulullah saw. Di atas jika kita renungkan, tentu memiliki makna yang sangat mendalam. Dan lima hal itu sangatlah penting dan berharga. Lebih berharga dibanding emas dan intan berlian.

Di sini saya akan mencoba mengulas dua poin saja. Tidak semuanya.

*_Jagalah masa muda sebelum masa tua._*

Mengapa masa muda harus benar-benar dijaga?

Sebab, masa muda adalah masa yang paling produktif bagi setiap manusia. Di masa itu, saatnya untuk belajar dengan tekun. Sebab tenaganya masih kuat. Fikirannya masih segar. Cita-citanya masih panjang.

Karena itu, sudah selayaknya, selagi masih muda, kita harus membiasakan diri untuk melakukan sesuatu hal yang baik dan positif. Sebab, kebiasaan masa muda akan terbawa hingga tua nanti.

Artinya, seperti apa gambaran masa tua seseorang bisa dilihat apa yang menjadi kebiasaannya di masa mudanya.

_*Jagalah waktu luang sebelum waktu sibuk datang*_

Betapa banyak waktu luang dan kesempatan yang kita miliki. Namun sayangnya, tidak kita manfaatkan dengan baik. Sering kali kita mengisi waktu dengan hal yang sia-sia.

Malam hari adalah waktu luang bagi seorang mukmin. Sebab, di siang harinya ia sibuk bekerja mencari rizki yang dijanjikan oleh Allah Swt.

Rasulullah saw pernah bersabda, bahwa “Malam itu panjang maka jangan membuatnya pendek (menyia-nyiakannya) dengan tidurmu dan siang itu terang jangan kau gelapkan dengan dosa-dosamu.”

Nah, belajar dari pesan-pesan Nabi di atas. Jika kita sudah meniatkan diri sebagai penulis. Tentu tak ada alasan untuk tidak menulis karena sibuk atau tidak sempat.

Selain menulis juga harus memperbanyak membaca buku. Seperti kata M. Husnaini, penulis asal Lamongan.

*Kuantitas tulisan diperoleh dengan terus nenulis.*
*Kualitas tulisan didapat hanya dengan membaca.*

Sesuatu hal yang tak diutamakan, meskipun itu remeh-temeh, maka hal itu akan terbuang sia-sia dalam hidup seseorang. Dan bisa menjadikannya merugi.

Wallahu a’lam...

Kepohbaru, 8 September 2019 M./8 Muharam 1441 H.

Oleh: Slamet Widodo
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Monday, June 15, 2020

Mencintai Allah vs Mencintai Manusia

Foto Istimewa: dok. Pribadi

Ketika kamu mencintai seseorang, kamu pasti merawatnya (serta menjaganya).
Kecuali Allah, jika kamu mencintai-Nya, Dia yang akan menjagamu.

(Sayid Machmoed BSA - @sayidmachmoed)

Cuitan pemilik akun twitter @sayidmachmoed ini sungguh indah untuk direnungkan. Maknanya begitu mendalam. Kita akan jadi penjaga (budak) terhadap orang yang kita cintai. 

Benar adanya, jika kita mencintai seseorang, sebagai contoh: keluarga (orang tua, istri, anak dan saudara). Maka kita wajib menjaganya dari sentuhan api neraka. Memberinya nafkah dengan cara yang halal. Mendidik dan membimbing mereka dengan ilmu agama, agar dekat kepada Allah Swt. Sebab, itu sudah menjadi komitmen kita sebagai pemimpin. Pemimpin yang bertanggung jawab atas keselamatan diri sendiri dan juga mereka.

Sebagaimana firman Allah dalam Quran Surat At-Tahrim ayat 6 yang artinya: 

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” 

Menjaga diri dan keluarga dari sentuhan api neraka bukan hanya menjadi tanggung jawab seorang laki-laki (suami). Tetapi juga menjadi tanggung jawab semua: istri dan juga anak. Serta seluruh anggota keluarga. Sebab, kita semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. 

Sebagaimana sabda Nabi saw.  
“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi)

Namun sebaliknya, jika kita mencintai Allah Swt. justru Dia akan selalu menjaga kita. 

Sebagaimana firman Allah yang artinya,

“Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (QS. Al-Anfal: 64)

Di dalam ayat lain, 

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya.” (QS. Az-Zumar: 36)

Bentuk cinta kepada Allah adalah dengan bertakwa dan bertawakal kepada-Nya. Yakni melaksanakan segala perintah dengan menjauhi seluruh larangannya dengan ihlas. 

Wallahu a’lam...

Kepohbaru, 
23 Syawal 1441 H.
15 Juni 2020 M.

Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Wednesday, June 10, 2020

Kunci Bahagia

Dokumen Pribadi

Menulis adalah merekam perjalanan. Mengabadikan kisah. Memetik hikmah dari setiap yang kita alami. Perjalanan dan kisah itu akan menjadi sejarah. Lembaran-lembaran itu nantinya dapat dibuka kembali oleh penulis itu sendiri atau orang lain. Sehingga dapat dijadikan pelajaran dalam menjejaki langkah pada masa yang akan datang.

***

Rabu pagi, 10 Juni 2020, saya berkesempatan menyertai tetangga sebelah yang melangsungkan akad nikah. Ia dinkahi seorang perjaka yang berasal dari Kedungpring, Lamongan. Akad nikah yang dilaksanakan di ruang pertemuan kantor urusan agama (KUA) kecamatan setempat itu berjalan lancar. Prosesi akad nikah berlangsung sangat sederhana. Tak lebih dari sepuluh orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Semua pakai masker. Hal itu dilaksanakan karena mengikuti protokol kesehatan dalam pencegahan Covid-19. Meski begitu,  tak mengurangi khidmatnya proses ijab kabul.

Usai prosesi ijab kabul, Pak penghulu memberikan beberapa nasehat kepada kedua pengantin baru itu. Walaupun nasehat itu ditujukan kepada kedua mempelai, namun hakekatnya juga untuk pengantin-pengantin lawas yang hadir pada saat itu. Agar bukan hanya saya yang mendapatkan nasehat itu, maka saya tuliskan kembali nasehat itu untuk pembaca sekalian.

“Setiap kali ada pengantin baru, doa yang umum diucapkan adalah: ‘semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah warrahmah.’”

“Makna sakinah adalah _ayem tentrem_ (hidup tenang dan damai). Sakinah diturunkan Allah kepada keluarga yang _mbeneh_ (benar). Mbeneh maksdunya, suami dan istri tahu tugas dan kewajibannya masing-masing lalu dijalankan dengan penuh tanggung jawab.”

“Suami dan istri harus saling mendoakan dalam kebaikan. Jika ada suami atau istri yang berbuat tidak baik, maka yang salah adalah diantara keduanya. Sebab mereka tak saling mendoakan dalam kebaikan. Bisa jadi doanya hanya asal-asalan.”

“Wong wedok kudu isa dadi daringan. Wong lanang aja sampek buka daringan.” (Orang perempuan –istri- harus bisa jadi tempat menyimpan –harta suami-. Suami jangan sampai membuka tempat menyimpan harta).” 

Dijelaskan oleh Pak Penghulu, suami harus bekerja dengan giat. Tak boleh bermalas-malasan. Hasil nafkah dari suami diberikan kepada istri untuk dibelanjakan sesuai dengan kebutuhan dan disimpan.

“Setiap keluarga pasti diuji oleh Allah Swt. Masing-masing keluarga mendapat ujian yang berbeda-beda. Sesuai dengan tingkat keimanan mereka. Tugas suami dan istri adalah harus mampu menyelesaikan permasalahan tersebut. Jika ada masalah, namun keluarga tersebut tak bisa menyelesaikannya, maka yang terjadi adalah perselisihan. Jika tak kunjung mendapat solusi maka akhirnya terjadi pecahan.”

“Ada tiga tipe keluarga: Keluarga sukses dan bahagia. Keluarga sukses tapi tidak bahagia. Keluarga bahagia.”

Pak Penghulu memberi penjelasan, kebanyakan orang menganggap tolok ukur bahagia adalah jika memiliki banyak harta. Belum tentu. Banyak orang kaya, tapi hidupnya tak bahagia, bahkan berantakan. Anak-anaknya akhlaknya rusak. Suami-istri bercerai. Dan banyak lagi contohnya.

Kunci bahagia itu adalah banyak bersyukur. Selain itu, biasakan suami-istri makan sepiring berdua. Saling menyuapi satu sama lain. Minum segelas berdua. Walaupun makan nasi, lauknya cukup ikan asin dan sambel, maka akan terasa nikmat. Karena makanan itu penuh dengan keberkahan dari Allah Swt. 

Itulah wujud dari kerukunan rumah tangga dan itu pula yang menjadi kunci tercurahnya rizki dari langit. Rukun.

Ia mencontohkan, Nabi saw. selalu makan dan minum berdua bersama dengan istri-istri beliau. Saling suap-suapan. Gelas bekas minum Nabi saw juga diminum oleh istri-istri beliau. Nabi saw. selalu romantis kepada keluarga.

Keluarga pengantin lawas agar rumah tangganya selalu sakinah mawaddah warrahmah, maka  harus banyak-banyak membaca, ngaji dan mengingat kembali masa-masa pengantin baru. 

Saya doakan betul, bagi yang masih jomlo, agar segera dipertemukan dengan jodohnya. Tentu atas pilihan Allah Swt. Sebab baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah. 

Perlu diketahui, bahwa jodoh, rizki dan maut adalah di tangan Allah. Namun harus tetap berusaha semaksimal mungkin. Harus tetap melalui proses. Karena Allah sangat menyukai proses. 

Wallahu a’lam...

---- 

Simorejo, 
18 Syawal 1440 H.
10 Juni 2020 M.

Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Wednesday, June 3, 2020

Cerdas Memaknai Solidaritas

(Refleksi Hari Lahir Pancasila)


Sering kita mendengar ungkapan “solidaritas tanpa batas”. Ungkapan itu jamak ditulis dan diucapkan oleh sebagian besar pemuda. Bagi mereka, makna solidaritas ini menjadi sesuatu hal yang sakral. Kata itu menjadi prioritas dalam sebuah kelompok atau organisasi yang mereka ikuti. Tujuannya, tak lain agar organisasi tersebut menjadi lebih bersatu dan kompak. Sehingga mereka rela berkorban apa pun demi organisasi yang mereka banggakan itu.

Agar dapat lebih bersatu untuk kepentingan bersama, hal yang harus dimiliki oleh setiap kelompok/organisasi adalah satu rasa, satu jiwa, satu pikiran dan satu tujuan. Namun ironi, sebagian pemuda kebablasan dalam memahami makna solidaritas ini. Pemahaman yang salah itu yang menjadi penyebab rusaknya moral para pemuda. Padahal nantinya mereka akan menjadi pemimpin bangsa di masa yang akan datang.

Pengertian yang jamak kita temui adalah, apabila ada salah satu anggota kelompok terlibat dalam sebuah masalah dengan kelompok lain. Maka anggota lain dalam kelompok tersebut akan membelanya. Tak peduli benar atau salah. Semua itu dilakukan atas nama solidaritas. 

“Jika ada salah satu anggota (saudara) yang jatuh, kita harus jatuh juga agar bisa merasakan apa yang ia rasakan.” 

Itu adalah makna solidaritas yang salah kaprah. Seharusnya bukan begitu. Agar lebih bernilai positif. Maka hal yang harus dilakukan adalah memotivasi saudara yang terjatuh supaya ia bisa kembali bangkit.

“Jika ada salah satu anggota (saudara) yang jatuh, mari kita angkat bersama agar ia bisa bangun kembali dari tempat tersebut.”

Parahnya lagi, apabila ada pemikiran semua yang di luar kelompoknya adalah musuh. Pemikiran seperti ini apabila tertanam di dalam jiwa para pemuda maka akan berakibat fatal. Hal inilah yang menjadikan perpecahan antar warga negara. Dan tidak sesuai dengan nilai sila ketiga Pancasila: Persatuan Indonesia.

Sepertinya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila mulai luntur di dalam jiwa bangsa ini. Mereka cenderung mementingkan kelompoknya masing-masing.

Apakah ini salah satu akibat dihapuskannya pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di bangku sekolah? Entah.  

Sebagai pemuda, seharusnya kita memiliki pemikiran yang berorientasi pada masa yang akan datang. Pemuda yang bisa merajut kembali persatuan dan kesatuan bangsa yang mulai robek ini. Sebab, pemuda adalah calon pemimpin masa depan. Seperti apa nasib Indonesia mendatang, menjadi tanggung jawab kita bersama.   

Kita harus bisa menghargai perbedaan. Nilai-nilai Pancasila harus betul-betul tertanam di dalam jiwa kita. Kita adalah saudara sebangsa dan setanah air, walaupun beda organisasi atau kelompok. Tentunya setiap kelompok memiliki tujuan baik, yakni memajukan bangsa. Justru apabila masing-masing kelompok bekerja sama, maka akan terwujud _baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur._    

--- 

Simorejo, 
10 Syawal 1441 H
2 Juni 2020 M.

Oleh: Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Istimewanya Salat Isya’ dan Subuh


Saat buka-buka twitter, ada sebuah cuitan yang menarik perhatian saya. Pemilik akun @fakhrulazmi99 (Fakhrul Syakirin – Bendera Malaysia) membuat cuitan tentang hadits Rasulullah Saw. 

Rasulullah saw. bersabda:
“Ada tiga suara yang dicintai Allah Swt. Pertama, Suara ayam jantan yang berkokok menjelang waktu Subuh. Dua, suara orang yang membaca Al-Quran. Dan tiga, suara orang yang memohon ampun di waktu Subuh.”

Begitu tulisnya. Tak dilengkapi perawi hadits.

Salat Subuh, walaupun dua rakaat, namun sangat berat dikalukan. Karena itu Allah memberi motivasi kepada hamba-Nya, salat dua rakaat sebelum Subuh, nilainya seperti dunia dan seisinya. Tentu, pahala salat Subuh juga sangat besar dan hanya Allah yang tahu.

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, jika ingin mengetahui jumlah orang Islam, lihatlah saat salat Maghrib. Tetapi jika ingin mengetahui muslim yang berkualitas, lihatlah pada saat salat Subuh. 

Salat Subuh menjadi pembeda antara muslim yang sebenarnya dengan orang munafik. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.

“Sesungguhnya dua salat ini (Subuh dan Isya’) adalah salat yang  berat bagi orang munafik. Sesungguhnya, apabila mereka mengetahui apa yang ada di dalam salat Subuh dan salat Isya’ maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak. (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).

Mari berusaha istikamah melaksanakan salat Subuh berjamaah di masjid. Dan juga mari mengajarkan anak-anak dan keturunan kita menjaga salat lima waktu sejak dini. 

Ingat, satu kali teladan lebih baik dari seribu nasehat!

Wallahu a’lam...

Simorejo,
11 Syawal 1441 H.
3 Juni 2020 M.


Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Thursday, September 5, 2019

Akhirnya Buku Kartini Milenial Menemukan Tokoh Idolanya


Oleh: Slamet Widodo*)

Lama saya ingin bertemu dengan Bu Aning Wulandari. Saya sudah memberi kabar itu kepada Beliau. Kemudian, jika ada waktu, beliau saya minta untuk mengabarkan kepada saya. Untuk menentukan waktunya. Kemudian saya akan datang menemui. Terutama saat berada di Kota Bojonegoro dan sekitarnya. Namun, sudah hampir tiga minggu. Belum ada kabar.

Saya memaklumi. Beliau sangat sibuk. Jadwalnya padat. Jadi tak mudah untuk meminta waktu untuk bertemu. Barang lima menit.

Pernah, Ahad pagi, 18 Agustus 2019. Saya ke Bojonegoro untuk menemui penulis idola asli Bojonegoro, Pak Ajun Pujang Anom, di Alun-alun Bojonegoro. 

Saya kirim pesan WApri kepada Bu Aning. Ternyata beliau tidak sedang berada di rumah Bojonegoro. Akhirnya, saya harus menahan sedikit rasa kecewa. Tapi tak apalah. Hehehe 

Eh, jangan baper dulu ya... Saya ingin bertemu dengan beliau hanya ingin menyampaikan buku Antologi Kartini Milenial. Karya Cah Ndeso, Kita Belajar Menulis (KBM) Bojonegoro.

Sebab, Bu Aning Wulandari, menjadi salah satu nama Kartini Milenial yang berhasil saya abadikan di dalam buku tersebut. 

Lalu mengapa saya memilih nama beliau untuk diabadikan ke dalam sebuah buku? 

Temukan jawabannya dengan membeli bukunya, yak... murah kok... Hehehe...

Gayung pun bersambut. Bu Aning memberi saya jadwal untuk bisa menemui beliau. Ada tiga pilihan. Akhirnya saya memilih hari Kamis, 29 Agustus 2019. Beliau berada di Madrasah Aliah Talun Sumberrejo, Bojonegoro. Lokasinya berada satu kompleks dengan Pondok At-Tanwir Talun. Itu pun tak lama. Mulai dari pukul 08.00-12.00 waktu setempat. Tepat seminggu yang lalu.

Kebetulan, hari Kamis, saya hanya punya dua jam mengajar. Jam pertama dan kedua. Sisanya, biasanya saya gunakan untuk mengikuti kegiatan MGMP Matematika MTs se Kabupaten Bojonegoro. Namun, hari itu tidak ada jadwal MGMP. Jadi saya free. 

Saya berangkat dari tempat tugas saya sekira pukul 08.20 menuju Talun, Sumberrejo Bojonegoro. Saya butuh waktu sekira dua puluh menit untuk bisa sampai ke sana.

Saya memasuki kompleks Madrasah. Memarkir motor di tempat parkir yang tersedia. Lalu membuka jok motor dan mengambil dua eksemplar buku Antologi.

Kemudian saya ditemui oleh salah satu guru dan menanyakan keperluan saya. Saya sampaikan ingin bertemu Bu Aning. 

Pak Guru itu menanyakan, apakah sudah ada janji dengan beliau. Sebab, saat ini beliau sedang mengisi materi Workshop. Saya jawab, saya sudah ada janji sebelumnya.


Akhirnya Pak Guru itu menuju ruangan tempat Workshop. Untuk mengabarkan kepada Bu Aning tentang kedatangan saya. Dan saya memilih menunggu di teras.

Setelah beberapa menit, Pak Guru itu memanggil saya dan meminta saya untuk masuk ke dalam ruangan Workshop.

Nah, ini, hati saya mulai dag dig dug plas. Apa yang akan terjadi pada diri saya nantinya. Saya tidak tahu. Sudah, saya pasrah. 

Setelah memasuki ruangan ber-AC itu, saya mendapati banyak Bapak-bapak peserta Workshop, duduk rapi sambil menghadap laptop yang ada di depan mereka. Benar, Bu Aning berdiri di depan dan sedang menyampaikan materi.

Saat saya masuk, Bu Aning langsung menyambut saya dari depan. Memperkenalkan saya kepada peserta. Sontak saja, padangan orang-orang seisi ruangan itu tertuju kepada saya. 

Wah, dada saya semakin plas-plas dan tangan saya makin terasa dingin. Buku yang saya pegang, sampulnya basah karena keringat. Beruntung masih terbungkus plastik. Jadi aman. Tidak rusak. 

Bu Aning meminta saya maju ke depan. Kemudian saya diminta berdiri di samping Bu Aning. 

Sampai di sini. Saya masih belum faham, acara apa yang sedang berlangsung saat itu. 

Kemudian Bu Aning meminta saya untuk menyampaikan tujuan kedatangan saya kepada peserta Workshop. Kemudian menyodorkan michrophone kepada saya. Saya diberi waktu sekira sepuluh menit. 

Sebagai tamu, saya harus manut dengan perintah tuan rumah. Saya manfaatkan waktu yang diberikan kepada saya dengan baik. 

Saya memperkenalkan diri. Dan mengenalkan komunitas menulis, Kita Belajar Menulis (KBM). Tujuan dan capaian komunitas menulis Cah Ndeso ini. 

Selain itu, saya jelaskan sedikit isi buku Antologi Kartini Milenial yang saya pegang itu. Nama Bu Aning terabadikan di dalam buku itu. Dan mengapa saya mengabadikan nama beliau. 

Kemudian saya menyerahkan dua buku itu kepada Bu Aning. Satu untuk beliau. Dan satu lagi, saya minta tolong beliau untuk menyampaikan kepada Bapak Kepala Kantor Kemenag Bojonegoro. 

Alhamdulillah, Bu Aning sangat mengapresiasi buku Antologi kedua, Kartini Milenial, karya keluarga KBM Bojonegoro. 

*** 

Saya masih penasaran, acara apa yang berlangsung saat itu. 

Sore, selepas Ashar saya menanyakan kepada Bu Aning melalui Wapri. 

Ini isi pesan beliau:

“Sosialisasi penilaian kinerja kepala madrasah (PKKM) dan penilaian kinerja guru (PKG).”

“Jadi Njenengan tadi saya perkenalan di hadapan 9 kepala madrasah (Kamad) dan 9 guru madrasah binaan saya.”

*** 

Semua itu diluar ekspektasi saya. Angan-angan saya, buku itu akan saya sampaikan kepada Bu Aning, begitu saja. Bisa di halaman, di ruang kerja beliau atau di tengah jalan. 

Namun ternyata, lebih dari itu. Bu Aning memberikan apresiasi yang luar biasa kepada saya. 

Nah, itulah salah alasan saya, mengapa saya memilih nama Bu Aning untuk saya abadikan di dalam karya saya. 

--- 

Kepohbaru, 
6 September 2019 M
6 Muharram 1441 H.


(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojoegoro)